Pembajakan Kapal Flotilla Dituding Genosida Sistematis, Kecaman Internasional

Pembajakan armada kapal kemanusiaan Global Sumud Flotilla oleh Angkatan Laut Israel di Laut Mediterania menuai kecaman luas dan dianggap sebagai bentuk genosida sistematis terhadap rakyat Gaza. Aksi ini melibatkan penangkapan puluhan aktivis kemanusiaan dari lebih 40 negara yang tengah berlayar membawa bantuan pangan dan obat-obatan ke wilayah Gaza.

Dosen Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Dr. Zain Maulana, menyatakan bahwa tindakan Israel tersebut merupakan upaya sistematis untuk menghentikan dan memblokir arus bantuan kemanusiaan yang sangat dibutuhkan oleh warga Gaza. “Mereka tidak mengizinkan jalur laut maupun darat dibuka, karena tujuan utamanya bukan perdamaian, melainkan mengosongkan Gaza. Ini yang saya sebut sebagai bentuk genosida, upaya sistematis untuk menghapuskan seluruh kehidupan di sana,” ujarnya pada Jumat (3/10/2025).

Pelanggaran Hukum Internasional dan Tindakan Penculikan

Menurut Dr. Zain, penangkapan armada Global Sumud Flotilla oleh Israel yang terjadi di laut internasional jelas merupakan pelanggaran hukum internasional. Armada tersebut membawa misi murni kemanusiaan dan tidak membawa senjata, sehingga tidak ada alasan yang sah bagi Israel untuk melakukan serangan dan menangkap para aktivis. “Pertama, itu merupakan penculikan terhadap aktivis-aktivis dari berbagai negara karena terjadi di laut internasional. Kedua, misi flotilla ini murni kemanusiaan dan tanpa senjata, sehingga tidak ada alasan Israel untuk menggunakan kekerasan,” jelasnya.

Utusan ini dianggap sebagai tindakan agresi dan pelanggaran terhadap prinsip-prinsip hukum maritim yang melindungi kebebasan navigasi serta hak pengiriman bantuan kemanusiaan. Selain itu, pembajakan tersebut memperburuk krisis kemanusiaan yang sudah parah di Gaza akibat blokade dan konflik yang berkepanjangan.

Peran Negara-Negara Eropa yang Dipertanyakan

Dr. Zain juga menyoroti sikap negara-negara Eropa terkait insiden tersebut. Meski Spanyol dan Italia sempat mengirim kapal perang sebagai pengawal armada Global Sumud Flotilla, keduanya akhirnya memilih mundur dan menanggalkan pengawalan. “Kalau negara-negara itu konsisten mendukung, tekanan terhadap Israel akan lebih kuat. Sayangnya, kepentingan politik dan diplomasi membuat negara-negara yang seharusnya pro-Palestina memilih mundur, meski menuai protes keras dari warganya sendiri,” tegasnya.

Langkah mundur ini dinilai melemahkan tekanan internasional untuk mempertahankan hak rakyat Gaza atas akses bantuan, sehingga membuka peluang bagi Israel untuk terus melakukan tindakan serupa tanpa konsekuensi serius.

Indonesia Diminta Ambil Peran Aktif

Menghadapi situasi ini, Dr. Zain menyarankan Indonesia perlu mengambil peran lebih berani di panggung internasional. Kecaman keras saja dinilai tidak cukup ketika krisis kemanusiaan di Gaza semakin parah. Indonesia memiliki potensi menjadi pemimpin global yang dapat menggalang dukungan bersama negara lain untuk mengawal masuknya bantuan kemanusiaan secara kolektif. “Dengan kekuatan kolektif, Israel tidak akan mudah melakukan serangan seperti yang terjadi saat ini,” katanya.

Langkah semacam ini dapat memperkuat solidaritas internasional dan menekan Israel agar menghormati hukum internasional serta hak dasar warga Palestina untuk mendapatkan bantuan kemanusiaan yang vital.

Kondisi Kemanusiaan di Gaza Hingga Saat Ini

Gaza menghadapi krisis kemanusiaan yang mendalam akibat konflik yang terus berlanjut, diselimuti blokade yang membatasi aliran bahan pokok dan obat-obatan. Akses bantuan kemanusiaan terbatas, memperburuk kondisi kesehatan, pangan, dan kebutuhan dasar penduduknya. Global Sumud Flotilla berupaya menembus blokade tersebut dengan membawa bantuan kemanusiaan vital. Namun, tindakan Israel yang membajak armada ini semakin menimbulkan kesulitan bagi rakyat Gaza.

Aktivis kemanusiaan yang ditangkap dalam inciden ini berasal dari berbagai negara, menambah dimensi internasional terhadap konflik tersebut dan membuka ruang bagi diplomasi global. Aksi ini pun mengundang protes keras di sejumlah negara yang menyuarakan penolakan terhadap upaya pembajakan dan penahanan tersebut.

Pembajakan kapal Global Sumud Flotilla menjadi perhatian utama komunitas internasional karena menyingkap persoalan kemanusiaan dan hukum internasional yang kompleks di kawasan konflik Timur Tengah. Penguatan dukungan internasional dan langkah-langkah maju di forum global sangat dibutuhkan untuk mengatasi krisis ini secara tepat dan adil.

Source: www.beritasatu.com

Berita Terkait

Back to top button