Pemerintah Amerika Serikat kembali mengalami shutdown setelah Senat gagal meloloskan Rancangan Undang-Undang Anggaran Belanja tahunan pada Selasa malam, 30 September 2023. Dampak shutdown ini mulai terasa sejak 1 Oktober, ketika sebagian besar aktivitas pemerintahan dihentikan akibat kebuntuan politik antara Partai Demokrat dan Partai Republik. Berikut tujuh fakta penting yang perlu Anda ketahui terkait kejadian ini.
1. Shutdown Bukan Hal Baru di AS
Fenomena shutdown sudah berulang di Amerika Serikat sejak tahun 1976 dan tercatat sebanyak 21 kali. Shutdown pertama terjadi selama 12 hari di era Presiden Gerald Ford. Ini menunjukkan bahwa penghentian operasi pemerintah karena ketidaksepakatan anggaran telah menjadi bagian dari dinamika pemerintahan AS selama puluhan tahun.
2. Shutdown Terlama Pernah Terjadi pada 2018-2019
Rekor shutdown terlama terjadi pada masa pemerintahan Donald Trump yang berlangsung selama 35 hari. Penyebab utama saat itu adalah perselisihan terkait pendanaan pembangunan tembok perbatasan antara AS dan Meksiko. Durasi yang disebutkan mencerminkan betapa peliknya negosiasi politik yang bisa mempengaruhi kinerja pemerintahan nasional.
3. Konflik Politik Demokrat vs Republik
Shutdown kali ini terjadi karena perbedaan pendapat antara Partai Republik dan Partai Demokrat. Dalam pemungutan suara terakhir, 55 senator mendukung RUU anggaran, sementara 45 menolak. Angka tersebut masih kurang dari 60 suara yang dibutuhkan untuk meloloskan RUU. Partai Republik menuduh Demokrat menolak memberi dukungan, sementara Demokrat menyalahkan kelompok konservatif dari Republik. Pola tarik-menarik politik seperti ini sering menjadi penyebab utama shutdown.
4. Dampak Shutdown bagi Pegawai dan Layanan Publik
Shutdown menyebabkan penutupan sejumlah kantor pelayanan publik, museum, dan taman nasional. Selain itu, pegawai federal yang tidak termasuk kategori esensial diminta cuti tanpa dibayar. Namun, instansi vital untuk keamanan dan perlindungan aset tetap beroperasi demi menjaga stabilitas masyarakat. Selain gangguan layanan, Gedung Putih juga memanfaatkan momen shutdown untuk menyusun skema pemutusan hubungan kerja sementara (furlough) dan mengkaji pengurangan pegawai melalui program Reduction in Force (RIF).
5. Penyebab Shutdown Kerap Berhubungan dengan Kebijakan Tambahan (Rider)
RUU anggaran sering kali mencantumkan rider atau pengaturan tambahan yang kontroversial. Jika rider tersebut memicu perbedaan pandangan signifikan antarfraksi, negosiasi bisa terhenti dan berujung pada shutdown. Contohnya adalah shutdown 2013 yang berkaitan dengan kebijakan kesehatan dan pemotongan anggaran tertentu.
6. Penolakan Pemotongan Anggaran Setelah Disetujui
Kadang-kadang, setelah anggaran disahkan, Presiden mengusulkan pemotongan dana menggunakan mekanisme rescission. Jika Kongres menolak usulan ini, konflik politik pun muncul dan dapat menyebabkan shutdown. Fakta ini menegaskan bahwa perdebatan anggaran tidak hanya terjadi sebelum pengesahan, tapi juga selama pelaksanaan anggaran.
7. Gagalnya Resolusi Sementara (Continuing Resolution/CR)
Biasanya untuk mencegah shutdown, Kongres mengesahkan continuing resolution (CR) sebagai solusi sementara ketika negosiasi anggaran belum selesai tepat waktu. Namun, jika CR gagal mendapat persetujuan, tidak ada alokasi dana yang sah untuk pemerintah sehingga shutdown tidak dapat dihindari. Gagalnya kesepakatan ini merupakan indikator utama ketidakmampuan pemerintahan dan legislatif mencapai kompromi.
Peristiwa shutdown pemerintah Amerika Serikat selalu menjadi cerminan dari konflik politik yang mendalam antara Partai Demokrat dan Partai Republik. Shutdown kali ini tidak hanya menggambarkan kebuntuan dalam membuat keputusan anggaran, tetapi juga menunjukkan momentum yang mungkin dimanfaatkan untuk restrukturisasi pegawai pemerintah. Memahami kompleksitas penyebab dan konsekuensi shutdown membantu masyarakat global mengikuti perkembangan dinamika politik terbesar di Negeri Paman Sam.
Source: www.suara.com





