Sanae Takaichi Terpilih Ketua LDP, Dekat Jadi PM Perempuan Pertama Jepang

Sanae Takaichi berhasil memenangkan pemilihan presiden Partai Demokrat Liberal (LDP) Jepang pada Sabtu, 4 Oktober 2025, setelah mengalahkan Menteri Pertanian Shinjiro Koizumi di putaran kedua. Dengan terpilihnya Takaichi sebagai ketua LDP, langkahnya untuk menjadi perdana menteri perempuan pertama Jepang semakin terbuka lebar. Pemilihan ini menjadi tonggak sejarah, mengingat Takaichi adalah kandidat perempuan pertama yang secara resmi mencalonkan diri dalam kontestasi ini.

Takaichi, yang sebelumnya menjabat sebagai Menteri Keamanan Ekonomi, berhasil menggantikan Shigeru Ishiba yang mengundurkan diri sebagai ketua partai. Ishiba mundur sebagai bentuk tanggung jawab atas kekalahan koalisi LDP dalam pemilihan majelis tinggi Juli lalu. Koalisi LDP bersama partai Komeito masih mendominasi parlemen, sehingga ketua partai yang baru biasanya otomatis menjadi perdana menteri berikutnya.

Proyeksi dan Visi Kepemimpinan Sanae Takaichi

Masa jabatan Takaichi sebagai ketua LDP diperkirakan akan berlangsung hingga 2027. Dalam pidato pengukuhannya, ia menegaskan perlunya “kelahiran kembali” partai setelah tersandung skandal dana politik yang menurunkan kepercayaan publik. Takaichi mengajak semua anggota parlemen LDP untuk membangun kembali partai yang dapat dipercaya oleh rakyat Jepang.

Ia juga menyoroti berbagai isu strategis, termasuk pengelolaan krisis nasional, ketahanan pangan, sumber energi, kesehatan dan kedokteran, serta keamanan siber. Dalam konteks pertahanan, Takaichi menekankan pentingnya mengantisipasi ancaman serangan teroris yang menggunakan senjata kimia, biologi, nuklir, radiologi, atau peledak. Ia menekankan perlunya mekanisme cepat untuk mengidentifikasi dan menangani serangan semacam itu demi menyelamatkan nyawa.

Selain itu, Takaichi mendorong revisi konstitusi Jepang dengan menambahkan pasal yang lebih jelas mengenai peran Pasukan Bela Diri. Hal ini sejalan dengan pandangannya yang konservatif dan fokus pada penguatan pertahanan nasional.

Profil dan Dukungan Politik

Usia 64 tahun, Sanae Takaichi dikenal sebagai politikus konservatif garis keras yang erat kaitannya dengan almarhum mantan Perdana Menteri Shinzo Abe. Meskipun bukan anggota langsung dalam faksi politik Abe, Takaichi mendapatkan dukungan penuh dari Abe dalam pemilihan presiden LDP tahun 2021, meskipun saat itu ia kalah di putaran awal.

Sebagai salah satu calon terkuat, Takaichi sempat bersaing ketat dengan Shinjiro Koizumi, 44 tahun, putra mantan Perdana Menteri Junichiro Koizumi yang dikenal berhaluan reformis dan mendapat dukungan mayoritas dari anggota parlemen. Juga ada kandidat moderat berpengalaman, Yoshimasa Hayashi, yang berupaya mengejar ketertinggalan jelang pemungutan suara.

Selain itu, terdapat dua kandidat lain yaitu Takayuki Kobayashi, mantan Menteri Keamanan Ekonomi, dan Toshimitsu Motegi, mantan Menteri Luar Negeri. Keduanya juga memiliki latar belakang pendidikan prestigius dengan gelar master dari Universitas Harvard.

Dinamika Partai dan Masa Depan Jepang

Terpilihnya Takaichi sebagai ketua LDP merupakan pertanda penting bahwa Jepang akan segera memiliki perdana menteri perempuan pertama dalam sejarahnya. Sejak era pascaperang, sampai tahun 2025 belum ada perempuan yang berhasil mengisi posisi tertinggi pemerintahan. Kini, pergeseran ini mulai terwujud.

Pengunduran diri Ishiba sebagai ketua LDP sekaligus perdana menteri mempercepat proses pemilihan ketua partai, yang awalnya dijadwalkan pada 2027. Koalisi yang dipimpin Ishiba menghadapi tantangan politik sedang setelah kehilangan mayoritas di majelis rendah Oktober 2024 dan kekalahan di majelis tinggi Juli 2025.

Dengan kepercayaan yang masih dimiliki koalisi LDP-Komeito dan kohesi partai oposisi yang belum solid, posisi Takaichi cukup kuat untuk melangkah ke jabatan perdana menteri. Ia diharapkan dapat merevitalisasi partai yang sedang berupaya memperbaiki citra publik serta menghadapi isu-isu penting negara dengan pendekatan kebijakan konservatif namun tegas.

Tantangan dan Harapan ke Depan

Sanae Takaichi memasuki panggung kepemimpinan nasional Jepang dengan beban besar sekaligus kesempatan historis. Ia harus menangani pemulihan kepercayaan publik setelah skandal dana politik dan berhadapan dengan dinamika global yang kompleks, seperti ancaman keamanan dan kebutuhan reformasi konstitusi.

Kebijakan yang akan dijalankan Takaichi diharapkan mampu memberikan rasa aman dan kesejahteraan bagi berbagai generasi di Jepang. Fokusnya pada perlindungan nasional serta keberlanjutan pembangunan dianggap sangat relevan di tengah ketidakpastian geopolitik dan tantangan domestik di era modern.

Source: www.viva.co.id

Berita Terkait

Back to top button