Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali menjadi sorotan menjelang penghargaan Nobel Perdamaian 2025. Setelah dua periode masa jabatan, Trump intensif mengampanyekan dirinya sebagai kandidat kuat Nobel Perdamaian, dengan motivasi yang tidak hanya soal prestise internasional, tetapi juga terkait rivalitas pribadi dengan mantan Presiden Barack Obama, penerima Nobel Perdamaian pada 2009.
Kampanye dan Klaim Perdamaian Trump
Menjelang pengumuman pemenang, Trump semakin agresif mempromosikan upayanya dalam membawa perdamaian dunia. Ia mengklaim telah berkontribusi dalam mengakhiri tujuh konflik internasional, termasuk sengketa antara India dan Pakistan, Kosovo dan Serbia, serta Mesir dan Ethiopia. Klaim tersebut disampaikan sebagai bukti nyata kepiawaiannya dalam diplomasi global.
Namun, berbagai pengamat menilai sejumlah klaim tersebut berlebihan atau kurang akurat. Misalnya, meskipun Trump menyebut konflik Gaza dan Ukraina sebagai fokus penyelesaiannya, faktanya dua konflik tersebut masih berlangsung hingga kini. Selain itu, tindakan Trump yang memerintahkan serangan militer ke Iran pada Juni lalu dianggap bertentangan dengan citra “pembawa damai” yang ia usung.
Dukungan Internasional dan Nominasi untuk Trump
Tidak hanya dari dalam negeri, sejumlah pemimpin dunia juga mendukung pencalonan Trump. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan kelompok advokasi pembebasan sandera dari Gaza tercatat sebagai pendukung nominasi Trump. Bahkan beberapa negara di Pakistan dan Afrika turut memberikan nominasi sebagai bentuk pengakuan atas upaya diplomatiknya. Ini menandakan bahwa kampanye Trump mendapatkan pijakan internasional meski penuh kontroversi.
Rivalitas Pribadi dengan Obama
Sisi lain dari obsesi Trump mengejar Nobel Perdamaian adalah rivalitasnya dengan Barack Obama. Obama memperoleh penghargaan tersebut hanya sembilan bulan setelah menjabat Presiden AS pada 2009, hal yang menjadi sumber kecemburuan bagi Trump. Selama kampanye politiknya pada Oktober 2024, Trump secara terbuka menyindir, “Kalau nama saya Obama, saya pasti sudah dapat Nobel dalam 10 detik.” Pernyataan ini mencerminkan ambisi Trump untuk melampaui prestasi sang pendahulu.
Profesor hubungan internasional dari American University, Garret Martin, menilai rivalitas ini telah menjadi pemacu kuat bagi Trump sejak awal karier politiknya untuk mencapai pengakuan lebih besar dari yang diperoleh Obama, termasuk dalam hal penghargaan global.
Pernyataan dan Sikap Trump Terhadap Nobel
Dalam pidatonya di hadapan perwira militer AS pada September lalu, Trump sempat menyindir peluangnya untuk memperoleh Nobel, “Apakah saya akan dapat Nobel? Tentu tidak. Mereka pasti memberikannya kepada orang yang tidak melakukan apa pun.” Namun, ia juga menegaskan bahwa jika ia memang berhasil menerima penghargaan itu, hal tersebut akan menjadi “penghinaan besar bagi negara kita” jika diberikan kepada orang lain yang dianggap tidak layak.
Persepsi Publik dan Tantangan Mendatang
Meskipun kampanye Trump cukup masif, langkah-langkah diplomasi yang ia lakukan masih dipandang belum memadai untuk memengaruhi keputusan Komite Nobel Norwegia. Keberhasilan diplomasi terhadap gencatan senjata Israel dan Hamas memang mencapai puncak sesaat menjelang pengumuman Nobel, namun banyak pengamat menilai itu sudah terlambat untuk mengubah penilaian juri.
Publik dan sejumlah analis kini menunggu apakah ambisi Trump akan membuahkan hasil nyata, atau justru menjadi babak baru dari perjalanan politiknya yang sarat kontroversi. Dalam konteks ini, pencalonan Nobel Perdamaian tahun 2025 menjadi arena pertarungan simbolik antara dua figur politik besar di Amerika Serikat.
Pengaruh dari rivalitas ini juga memperlihatkan bagaimana penghargaan bergengsi semacam Nobel Perdamaian tidak hanya menjadi soal diplomasi dan prestasi nyata, tapi juga dipengaruhi oleh dinamika politik dan pribadi di tingkat global. Masa depan penghargaan tersebut untuk Trump masih menjadi teka-teki yang menarik untuk disimak dalam beberapa bulan ke depan.
Source: mediaindonesia.com





