Opini publik Amerika Serikat (AS) mengalami perubahan signifikan terkait konflik Israel-Palestina, terutama setelah peristiwa serangan Hamas pada 7 Oktober 2023 dan respon militer Israel yang dinilai banyak pihak sebagai tindakan genosida di Jalur Gaza. Transformasi sikap warga AS terhadap Israel dan Palestina tidak hanya mencerminkan perubahan persepsi sosial, tetapi juga mulai memengaruhi dinamika politik dan kebijakan luar negeri Washington.
Perubahan Sikap Publik dan Dampak Konflik
Dalam lebih dari tujuh dekade terakhir, AS dikenal sebagai pendukung kuat Israel dalam politik luar negerinya. Namun situasi terbaru menunjukkan bahwa dukungan tersebut mulai terkikis, terutama setelah serangan balasan Israel yang menewaskan lebih dari 67.000 warga Palestina di Gaza dan memicu krisis kemanusiaan. Data survei Pew Research Center mengungkapkan bahwa 59% warga AS kini memandang Israel secara negatif, sementara dukungan terhadap Palestina meningkat. Survei lain dari New York Times/Siena bahkan menunjukkan simpati terhadap Palestina (35%) sedikit mengungguli dukungan untuk Israel (34%).
Kandidat Demokrat untuk Senat dari Michigan, Abdul El-Sayed, mencatat bahwa opini publik telah berbalik arah secara dramatis. "Kita sekarang menyaksikan genosida dan itu pasti akan mengubah opini publik secara signifikan," ujarnya. Pernyataan serupa datang dari politisi partai yang sama, Mallory McMorrow, yang secara terbuka menyetujui pandangan bahwa konflik di Gaza layak disebut genosida.
Dampak Politik dan Posisi Partai
Pergeseran opini ini tidak hanya terjadi di kalangan masyarakat umum tetapi juga merambat ke ranah politik. Para politisi, baik dari Partai Demokrat maupun Republik, yang selama ini cenderung menahan diri mengkritik Israel, kini mulai menyuarakan kecaman terhadap operasi militer Israel yang dianggap brutal. Bahkan beberapa tokoh resmi, seperti anggota Kongres Marjorie Taylor Greene dan senator Bernie Sanders, secara eksplisit menilai tindakan Israel sebagai genosida.
Di dalam Partai Demokrat, dukungan terhadap Palestina makin kuat, terutama di kalangan pemilih muda dan kandidat baru seperti Zohran Mamdani yang berhasil memenangkan pemilihan pendahuluan untuk calon wali kota New York. El-Sayed menekankan bahwa warga dari berbagai latar belakang bahkan tanpa komunitas Arab atau Muslim menunjukkan keprihatinan bersamaan dan menginginkan alokasi dana yang lebih mengutamakan kepentingan rakyat AS daripada membiayai perang.
Partai Republik pun menunjukkan tanda-tanda pergeseran, terutama di kalangan pemilih muda yang menilai dukungan tanpa syarat kepada Israel bertentangan dengan kepentingan nasional dan janji penghindaran keterlibatan asing. Mantan Presiden Donald Trump mengakui pengaruh Israel di Washington melemah, menyebut bahwa kekuatan lobi Israel yang kuat dulu kini tidak lagi dominan.
Pengaruh Lobi Pro-Israel dan Dinamika Masa Depan
Komite Urusan Publik Amerika-Israel (AIPAC), yang selama ini menjadi lobi pro-Israel utama di AS, kini menghadapi tantangan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Beberapa petinggi Partai Demokrat dilaporkan mulai memutuskan hubungan yang dalam waktu lama terjalin dengan kelompok tersebut. Hal ini menandai melemahnya kekuatan lobi tersebut dalam menentukan agenda politik AS terkait Israel.
Meski demikian, dukungan resmi dari Kongres terhadap Israel masih kuat, sebagaimana terlihat dalam pemungutan suara yang menolak resolusi untuk menghentikan penjualan senjata AS ke Israel pada Juli 2024. Namun, mayoritas anggota Demokrat yang hadir menyuarakan penentangan terhadap kelanjutan bantuan militer tersebut, mencerminkan adanya perpecahan internal mengenai kebijakan luar negeri.
Persepsi Generasi Muda dan Kebijakan Masa Depan
Analisis jangka panjang menunjukkan pergeseran fundamental dalam cara generasi pemimpin baru AS memandang Israel. Direktur Eksekutif American Conservative, Curtis Mills, menilai bahwa pemerintahan Donald Trump bisa menjadi pemerintahan terakhir yang sangat pro-Zionis dari generasi baby boomer. Generasi di bawah usia 50 tahun, menurut Mills, mulai menganggap isu Israel sebagai topik yang kurang relevan, sehingga pendekatan politik di masa depan kemungkinan akan lebih beragam.
Peneliti senior di Brookings Institution, Bill Galston, memprediksi bahwa kebijakan luar negeri AS terhadap Israel tidak akan lagi dilihat dalam kerangka konvensional. Ia menyatakan bahwa Presiden Joe Biden mungkin menjadi presiden Demokrat terakhir dengan pandangan yang terpengaruh oleh sejarah awal Israel sebagai negara yang dikepung dan tertindas, yang kini telah berubah secara signifikan.
Kondisi ini menandai periode transisi dalam hubungan AS-Israel yang dipengaruhi oleh perubahan opini publik, dinamika politik domestik, serta faktor geopolitik yang lebih luas. Pergeseran ini juga membuka peluang untuk pendekatan baru dalam upaya perdamaian dan penyelesaian konflik yang lebih adil di kawasan Timur Tengah.
Source: mediaindonesia.com





