Jet tempur J-10C buatan China yang digunakan oleh Pakistan dalam konflik dengan India baru-baru ini menjadi sorotan dunia militer internasional. Dalam peristiwa yang terjadi pada April 2025 di wilayah Kashmir yang sengketa, jet tempur ini diklaim berhasil menembak jatuh pesawat Rafale andalan India, yang merupakan produk jet tempur canggih dari Prancis. Kejadian tersebut mengukuhkan posisi J-10C dan rudal PL-15 sebagai senjata efektif dalam pertempuran nyata.
Peristiwa bermula dari serangan militan di Kashmir yang menewaskan 26 orang, yang kemudian dituduhkan India kepada Pakistan sebagai dalangnya. Meresponsnya, India melakukan serangan rudal ke wilayah Pakistan. Tidak tinggal diam, Pakistan melancarkan serangan udara balasan dengan jet-jet J-10C yang dioperasikan oleh pilot-pilotnya, dan penggunaan drone di beberapa titik strategis.
Menurut Menteri Luar Negeri Pakistan, Ishaq Dar, yang menyampaikan langsung pernyataan tersebut di parlemen, beberapa pesawat Rafale milik India berhasil dijatuhkan oleh pilot Pakistan yang mengemudikan jet tempur J-10C. Pernyataan ini sekaligus menegaskan kemampuan tempur jet J-10C sekaligus rudal PL-15 sebagai senjata udara dengan tingkat efektivitas yang tinggi. Bahkan, pemerintah China dikabarkan sangat puas dengan kinerja pesawat tersebut, seperti dilaporkan oleh The Guardian.
Keberhasilan ini memiliki arti strategis yang sangat penting. Menurut Siemon Wezeman, peneliti senior dari Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI), penggunaan J-10C dan rudal PL-15 dalam pertempuran nyata ini menjadi momen ujian sesungguhnya bagi teknologi militer China. Biasanya, senjata diuji dalam kondisi latihan atau simulasi, namun kondisi perang memberikan data akurasi tentang performa di medan tempur yang sesungguhnya.
Selain itu, keberhasilan ini mengirim sinyal kuat bahwa persenjataan China saat ini tidak hanya unggul dari segi kuantitas, tetapi juga mulai mampu menandingi, bahkan melampaui, teknologi Barat dalam sektor tertentu. Hal ini sangat diperhatikan mengingat India selama ini memiliki hubungan militer yang erat dengan Rusia dan Amerika Serikat, meskipun dalam insiden ini Rafale dari Prancis yang digunakan.
Hubungan erat Pakistan dengan China dalam urusan militer menjadi faktor penting mengapa jet tempur J-10C digunakan di garis depan. Sekitar 80 persen peralatan militer Pakistan didominasi oleh produk dari China. Analis Andrew Small menyebut bahwa Pakistan berperan sebagai “panggung pertunjukan” bagi teknologi senjata China untuk menarik calon pembeli dari negara-negara lain.
Dampak langsung dari berita ini pun terasa di pasar industri senjata. Saham Chengdu Aircraft Corporation, perusahaan pembuat jet tempur J-10C, melonjak tajam. Ini juga mendorong minat negara-negara, termasuk Indonesia, yang diketahui sedang dalam tahap pembelian jet tempur J-10. Indonesia bahkan berencana untuk segera mengoperasikan jet ini setelah Presiden Jokowi memberikan lampu hijau, sehingga jet tempur ini diharapkan dapat segera mengudara di langit Jakarta.
Pakar militer juga mengaitkan keberhasilan J-10C dalam menembak jatuh Rafale sebagai peringatan strategis untuk dunia, khususnya dalam konteks ketegangan di Selat Taiwan. China disebut mulai memperkuat kekuatan udaranya, dan penggunaan J-10C oleh Pakistan dianggap sebagai pembuktian kekuatan udara China dalam medan peperangan sesungguhnya.
Data teknis dari J-10C menunjukkan bahwa jet ini dilengkapi dengan avionik modern dan kemampuan manuver yang cukup baik, serta persenjataan rudal PL-15 yang punya jangkauan jitu. Hal ini menjadikan J-10C pesaing serius di pasar jet tempur global, terutama untuk negara-negara yang membutuhkan solusi tempur yang efektif dengan biaya relatif lebih terjangkau dibandingkan produk Barat.
Secara keseluruhan, perkembangan ini menunjukkan dinamika baru dalam persaingan teknologi tempur udara global. Keberhasilan pilot Pakistan dalam menggunakan J-10C menghadapi Rafale adalah bukti nyata transformasi kemampuan militer di kawasan Asia Selatan yang seiring berjalannya waktu semakin kompleks dan penuh risiko. Pembelian jet J-10 oleh Indonesia pun menunjukkan bahwa pengaruh teknologi militer China semakin meluas ke negara-negara lain, membuka babak baru dalam perkembangan kekuatan udara regional.
Source: www.viva.co.id





