84 Persen Terumbu Karang Dunia Memutih, Ilmuwan: Waktu Kita Hampir Habis

Pemanasan global kini bergerak lebih cepat dari yang pernah diperkirakan, membawa dampak serius bagi ekosistem Bumi, khususnya terumbu karang dunia. Data terbaru menunjukkan bahwa sekitar 84 persen terumbu karang di seluruh dunia telah mengalami pemutihan, sebuah kondisi yang menandakan stres lingkungan yang parah dan potensi kematian karang secara masif. Ilmuwan menegaskan bahwa waktu untuk menyelamatkan ekosistem ini semakin menipis dan langkah segera sangat diperlukan.

Kondisi Terumbu Karang yang Mengkhawatirkan

Terumbu karang memutih adalah fenomena yang terjadi saat suhu air laut meningkat sehingga karang kehilangan alga simbiotik yang memberi warna dan nutrisi. Akibatnya, karang menjadi rentan dan bisa mati jika kondisi suhu tinggi berlangsung lama. Dengan 84 persen terumbu karang yang memutih, sebanyak seperempat kehidupan laut yang bergantung pada habitat ini berada dalam ancaman serius.

Para ilmuwan memperingatkan bahwa untuk memungkinkan karang pulih, kenaikan suhu global harus dikendalikan mendekati tingkat pra-industri, yakni sekitar 1°C. Namun kenyataannya suhu global saat ini telah meningkat antara 1,3°C hingga 1,4°C dibanding masa pra-industri. Kenaikan suhu ini mendorong gelombang panas laut yang masif dan membuat proses pemutihan terumbu karang makin meluas.

Laporan Global Tipping Points dan Titik Kritis Ekosistem

Situasi memprihatinkan ini tergambar dalam laporan “Global Tipping Points” yang mengumpulkan hasil penelitian dari 160 ilmuwan internasional. Laporan ini mengidentifikasi beberapa ekosistem vital, termasuk hutan hujan Amazon, arus laut Atlantik, dan terumbu karang, yang kini sudah berada di ambang perubahan permanen yang sulit diperbaiki.

Tim Lenton, pakar lingkungan dari Universitas Exeter sekaligus penulis utama laporan tersebut, menyatakan bahwa perubahan iklim sedang berlangsung dengan sangat cepat dan pada beberapa kasus sudah melewati titik balik yang tak bisa diundur. Ia menyebut keadaan ini sebagai “titik kritis” pertama dalam keruntuhan besar ekosistem global akibat dampak pemanasan.

Dampak Luas dan Ancaman pada Sistem Iklim Global

Tidak hanya mengancam terumbu karang dan hutan hujan, perubahan iklim juga berpotensi mengganggu Sirkulasi Arus Laut Atlantik (AMOC), yang sangat penting untuk kestabilan iklim Eropa dan global. Jika sirkulasi ini melambat atau berhenti, konsekuensinya adalah cuaca ekstrem meningkat dan pola musim berubah secara drastis di berbagai wilayah dunia.

Pep Canadell, ilmuwan senior dari Pusat Ilmu Iklim CSIRO Australia, menegaskan bahwa cakupan dan dampak perubahan iklim terus memburuk setiap tahun. Hal ini menggarisbawahi urgensi tindakan cepat dan tepat guna menghindari keruntuhan sistem alam yang lebih luas.

Harapan dari Energi Terbarukan dan Seruan untuk Aksi

Meski situasi terumbu karang dan ekosistem lain tampak suram, masih ada harapan. Tahun ini untuk pertama kalinya energi terbarukan melampaui batu bara sebagai sumber utama listrik global. Perubahan sistem energi ini memberikan peluang untuk memperlambat laju pemanasan global jika diikuti tindakan penurunan emisi karbon yang lebih intensif.

Para ilmuwan menyerukan kepada negara-negara peserta Konferensi Iklim Dunia COP30 agar lebih serius menghapus ketergantungan pada bahan bakar fosil dan mempercepat transisi menuju energi bersih. Langkah ini dianggap krusial untuk memberi kesempatan bagi terumbu karang dan ekosistem lain untuk bertahan dan pulih dari tekanan pemanasan global.

Data Kenaikan Suhu dan Implikasi secara Global

Dalam dua tahun terakhir, Bumi mencatat suhu tertinggi sepanjang sejarah dengan peningkatan 1,3–1,4°C. Tren ini menyebabkan gelombang panas laut yang luas dan berkepanjangan, faktor utama pemutihan terumbu karang. Bila suhu terus meningkat tanpa penanganan cepat, efek domino kerusakan ekosistem akan makin masif dan bisa berdampak panjang bagi ketahanan pangan, keanekaragaman hayati, dan kehidupan masyarakat pesisir.


Langkah kolektif global berdasarkan rekomendasi para ilmuwan perlu segera diimplementasikan agar pemutihan terumbu karang dan keruntuhan ekosistem lainnya tidak berlanjut menjadi bencana ekologis permanen. Perubahan dari sumber energi dan kebijakan mitigasi iklim menjadi kunci utama penyelamatan planet ini.

Source: www.suara.com

Berita Terkait

Back to top button