Terorisme di Nigeria tidak mendiskriminasi berdasarkan agama maupun suku. Penasihat Senior Presiden Amerika Serikat untuk Urusan Arab dan Afrika, Massad Boulos, menyatakan bahwa kekerasan dan terorisme yang terjadi di Nigeria memengaruhi semua komunitas tanpa memandang latar belakang agama atau etnis. Hal ini menunjukkan bahwa narasi yang menyebutkan bahwa serangan tersebut hanya menargetkan umat Kristen tidak sesuai dengan fakta di lapangan.
Keragaman Korban dan Kompleksitas Situasi
Boulos menegaskan bahwa korban serangan teror di Nigeria berasal dari berbagai agama dan suku. "Terorisme di Nigeria memengaruhi individu dari semua agama dan etnis tanpa pandang bulu," ujarnya dalam pertemuan dengan Presiden Nigeria Bola Ahmed Tinubu di Roma. Dalam penjelasannya, Boulos juga menyampaikan bahwa kelompok ekstrem seperti Boko Haram dan Islamic State in West Africa Province (ISWAP) telah menewaskan lebih banyak Muslim dibandingkan Kristen. Data tersebut memperkuat pandangan bahwa kekerasan yang terjadi bukanlah serangan yang terarah hanya pada satu kelompok.
Pemerintah Amerika Serikat turut memberikan apresiasi terhadap langkah-langkah yang dilakukan oleh Presiden Tinubu dalam mengatasi isu keamanan, terutama upaya meredakan konflik antara petani dan penggembala di wilayah Sabuk Tengah Nigeria. Dengan populasi Nigeria yang terbagi hampir sama antara Muslim dan Kristen, negara ini telah lama menjadi contoh kehidupan berdampingan secara damai antarumat beragama di Afrika.
Tidak Hanya Masalah Agama
Isu kekerasan di Nigeria seringkali dikaitkan dengan konflik agama. Namun, fakta menunjukkan bahwa masalah yang dihadapi lebih kompleks dan melibatkan faktor sosial-ekonomi serta perebutan sumber daya. Konflik berkepanjangan antara petani yang mayoritas Kristen dan penggembala Fulani yang mayoritas Muslim di wilayah Sabuk Tengah lebih dipicu oleh perebutan lahan dan air akibat perubahan iklim serta pertumbuhan penduduk. Pemerintah Nigeria secara tegas menganggap permasalahan ini sebagai krisis sosial-ekonomi, bukan perang agama.
Sedangkan di wilayah timur laut, serangan yang dilakukan oleh Boko Haram dan ISWAP tidak hanya menyerang umat Kristen dan gereja, tetapi juga umat Muslim dan masjid. Wilayah ini mayoritas penduduknya adalah Muslim, sehingga umat Islam justru mengalami dampak paling berat. Kelompok-kelompok ekstrem ini berupaya mendirikan negara berdasarkan interpretasi mereka sendiri terhadap hukum Islam, yang menyebabkan kerusakan dan ketidakstabilan di banyak daerah.
Klaim Kontroversial dan Reaksi Pemerintah
Tuduhan adanya persekusi agama oleh kelompok tertentu, terutama yang disuarakan oleh beberapa tokoh konservatif Amerika Serikat seperti Senator Ted Cruz, tidak sepenuhnya didukung oleh data yang solid. Senator Cruz menyatakan bahwa lebih dari 50.000 umat Kristen tewas sejak 2009 dan ribuan gereja serta sekolah dihancurkan. Ia bahkan mengusulkan rancangan undang-undang untuk menjatuhkan sanksi kepada pejabat Nigeria yang dinilai membiarkan kekerasan tersebut.
Namun, pemerintah Nigeria secara resmi membantah tuduhan ini dan menegaskan bahwa korban kekerasan berasal dari berbagai kelompok dan agama. Asosiasi Kristen Nigeria (CAN) juga menyatakan bahwa narasi tuduhan persekusi agama sering dimanfaatkan untuk kepentingan politik oleh pihak luar. Hingga kini, konflik yang paling nyata adalah masalah keamanan yang melibatkan kelompok pemberontak seperti Boko Haram, geng bersenjata di barat laut, dan bentrokan antar komunitas di tengah Nigeria.
Dukungan Internasional dan Upaya Mengatasi Terorisme
Amerika Serikat terus memperkuat kemitraan dengan Nigeria dalam menghadapi tantangan terorisme dan ketidakstabilan regional. Bantuan meliputi berbagi intelijen, pelatihan keamanan, dan dukungan teknologi, khususnya di wilayah-wilayah rawan seperti Sabuk Tengah dan Teluk Guinea. Selain itu, AS juga menyiratkan keprihatinan terhadap instabilitas di kawasan Sahel dan Cekungan Danau Chad yang berdampak pada keamanan regional.
Sejak Presiden Bola Tinubu menjabat pada Mei 2023, tercatat lebih dari 10.000 orang tewas dan ratusan lainnya diculik akibat kekerasan. Organisasi PBB memperkirakan sekitar tiga juta orang terpaksa mengungsi dari rumah mereka akibat konflik. Penanganan masalah keamanan menjadi agenda utama pemerintah Nigeria dengan dukungan internasional dalam rangka melindungi warganya dan memulihkan stabilitas.
Refleksi terhadap Narasi yang Ada
Penting untuk memahami bahwa terorisme dan konflik di Nigeria bukanlah persoalan semata agama atau etnis. Kompleksitas sosial, ekonomi, dan pengaruh kelompok bersenjata berperan besar dalam memicu kekerasan. Semua kelompok agama dan etnis menjadi korban, dan narasi diskriminatif cenderung menyederhanakan atau mengaburkan kompleksitas masalah.
Sebagai sebuah negara dengan keberagaman yang tinggi, Nigeria terus berupaya menjaga kerukunan antarumat beragama dan mengelola persoalan keamanan yang sangat menantang. Dukungan berbagai pihak, baik domestik maupun internasional, sangat diperlukan dalam menghadapi ancaman terorisme dan untuk memastikan perlindungan bagi seluruh warga tanpa memandang agama atau suku.
Source: mediaindonesia.com





