Kota di Spanyol Larang Adopsi Kucing Hitam Jelang Halloween, Ini Alasannya

Menjelang perayaan Halloween tahun 2025, kota Terrassa di Spanyol mengambil langkah langka dengan melarang warganya mengadopsi kucing hitam. Kebijakan ini diberlakukan sebagai upaya perlindungan terhadap hewan, khususnya kucing hitam, yang sering menjadi sasaran mitos dan takhayul selama musim Halloween. Larangan ini berlaku mulai 6 Oktober hingga 10 November 2025.

Layanan kesejahteraan hewan kota Terrassa menyatakan bahwa larangan tersebut bertujuan untuk mencegah risiko penyiksaan kucing hitam yang kerap dikaitkan dengan praktik dan ritual kejam pada perayaan Halloween. Wakil Wali Kota Terrassa, Noel Duque, mengungkapkan ada peningkatan tren adopsi kucing hitam menjelang Halloween. "Kami berusaha mencegah orang mengadopsi karena impulsif mengikuti tren. Dan dalam kasus seperti ini, yang kami tahu ada, kami berusaha mencegah praktik-praktik mengerikan," ujarnya dilansir BBC pada Selasa, 21 Oktober 2025.

Alasan Larangan dan Data Kucing di Terrassa

Terrassa, sebuah kota di timur laut wilayah Catalonia, menjadi rumah bagi lebih dari 9.800 kucing. Pusat adopsi hewan setempat menampung sekitar 100 kucing, dengan 12 di antaranya berwarna hitam. Meskipun tidak ada catatan kekejaman terhadap kucing hitam di Terrassa, dewan kota memutuskan untuk mengambil tindakan preventif setelah mendapatkan peringatan dari kelompok kesejahteraan hewan serta adanya insiden serupa di daerah lain.

Dewan kota menyatakan bahwa pelarangan ini bersifat sementara dan luar biasa, sebagai langkah ekstra guna memastikan kesejahteraan hewan selama periode Halloween. Mereka juga mengingatkan bahwa larangan serupa dapat diterapkan kembali di masa mendatang apabila diperlukan. Selain itu, selama periode pelarangan, pengecualian adopsi kucing hitam akan dinilai secara individual oleh pusat adopsi. Permintaan pengasuhan kucing hitam akan kembali dilayani secara normal setelah periode Halloween berakhir.

Upaya Perlindungan Hewan di Masa Halloween

Larangan ini merupakan bagian dari upaya untuk menghilangkan stigma negatif dan potensi bahaya terhadap kucing hitam yang muncul akibat kepercayaan dan mitos seputar Halloween. Di banyak budaya, kucing hitam sering dihubungkan dengan hal-hal gaib dan sial, sehingga kerap menjadi objek pelecehan atau bahkan kekerasan.

Menurut data internasional, sejumlah lokasi lain juga pernah melaporkan kasus kekerasan terhadap kucing hitam selama musim Halloween. Kondisi ini membuat organisasi penyelamat hewan dan pemerintah daerah lebih waspada dan melakukan tindakan pencegahan.

Dampak Kultural dan Sosial

Langkah Terrassa ini menunjukkan bagaimana isu kesejahteraan hewan juga dipengaruhi oleh kepercayaan budaya dan tradisi lokal maupun global. Perayaan Halloween, yang kini diadopsi secara luas di berbagai penjuru dunia, memunculkan tantangan tersendiri dalam menjaga keamanan hewan peliharaan, terutama yang terkait dengan simbolisme tertentu seperti kucing hitam.

Kebijakan larangan adopsi ini diharapkan dapat mengurangi kemungkinan hewan-hewan disalahgunakan untuk ritual atau tindakan tidak bertanggung jawab yang muncul karena pengaruh mitos dan tren sesaat.

Catatan Tambahan

Terrassa bukanlah satu-satunya kota di dunia yang mempertimbangkan langkah-langkah khusus untuk melindungi kucing hitam saat Halloween. Namun, keputusan yang diambil oleh dewan kota ini merupakan salah satu contoh konkret yang mengedepankan kesejahteraan hewan sebagai prioritas. Dengan melakukan pelarangan sementara, diharapkan warga lebih bijaksana dalam mengambil keputusan untuk mengadopsi hewan dan tidak hanya terpengaruh oleh tren atau hal-hal takhayul.

Langkah tersebut juga membuka diskusi lebih luas tentang pentingnya edukasi mengenai keberadaan dan hak-hak hewan peliharaan serta bagaimana masyarakat dapat turut menjaga keselamatan mereka, terlepas dari kepercayaan budaya yang ada. Larangan ini sekaligus menjadi pengingat bahwa tata cara merayakan suatu tradisi harus tetap memperhatikan unsur kemanusiaan dan perlindungan terhadap makhluk hidup.

Source: www.medcom.id

Berita Terkait

Back to top button