Trump Ancam Israel Kehilangan Dukungan AS Jika Aneksasi Tepi Barat Segera

Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengancam Israel akan kehilangan seluruh dukungan dari AS apabila melanjutkan rencana aneksasi Tepi Barat. Pernyataan tegas ini disampaikan dalam sebuah wawancara dengan majalah Time pada 15 Oktober 2025, beberapa hari sebelum parlemen Israel (Knesset) memberikan persetujuan awal atas rancangan undang-undang yang memungkinkan Israel menerapkan kedaulatan penuh atas wilayah permukiman di Tepi Barat.

Trump menyatakan, "Itu tidak akan terjadi. Itu tidak akan terjadi karena saya telah berjanji kepada negara-negara Arab. Dan Anda tidak bisa melakukan itu sekarang. Kami telah mendapatkan dukungan besar dari negara-negara Arab." Ia menambahkan bahwa jika Israel tetap melanjutkan rencana tersebut, maka negara itu akan kehilangan semua dukungan dari Amerika Serikat.

Ancaman Trump ini menjadi teguran paling keras dari mantan presiden AS tersebut terkait upaya aneksasi yang saat ini menjadi salah satu agenda kontroversial pemerintah Israel. Pada bulan sebelumnya, Trump juga sudah menolak gagasan aneksasi tersebut dengan mengatakan, "Saya tidak akan mengizinkan Israel mencaplok Tepi Barat. Sudah cukup. Sudah waktunya untuk berhenti sekarang."

Respons Politik dan Dampak Regional

Langkah Knesset yang memberikan persetujuan awal terhadap RUU aneksasi ini menuai kritik keras dari berbagai pihak, termasuk pejabat tinggi AS. Wakil Presiden AS saat ini, JD Vance, yang berkunjung ke Israel coincidentally saat pengesahan RUU, menyebut keputusan itu sebagai "aksi politik yang sangat bodoh" dan mengungkapkan perasaan terhina atas terjadinya pemungutan suara tersebut.

Vance menegaskan bahwa kebijakan pemerintahan AS tetap konsisten menolak aneksasi Tepi Barat oleh Israel. "Tepi Barat tidak akan dicaplok oleh Israel. Kebijakan pemerintahan Trump adalah bahwa Tepi Barat tidak akan dianeksasi oleh Israel. Itu akan terus menjadi kebijakan kami," ujar Vance.

Kepala pemerintahan Israel, Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, menghadapi tekanan keras baik dari dalam negeri maupun internasional saat mendorong agenda tersebut. Aneksasi Tepi Barat dianggap bisa memicu eskalasi ketegangan di wilayah yang selama ini sudah sarat konflik antara Israel dan Palestina.

Isu Perang Gaza dan Normalisasi Hubungan Arab-Israel

Tak hanya soal aneksasi, Trump juga menyoroti konflik yang sedang berlangsung di Gaza. Ia mengaku telah meminta Netanyahu untuk segera menghentikan perang di wilayah tersebut agar konflik tidak berkepanjangan. Trump memperingatkan bahwa jika tidak segera dihentikan, perang di Gaza berpotensi berlangsung selama bertahun-tahun.

Dalam wawancara yang sama, Trump juga mengutarakan keyakinannya bahwa Israel dan Arab Saudi akan menormalisasi hubungan diplomatik pada akhir 2025. Menurutnya, kedua negara kini memiliki peluang besar untuk menjalin kerjasama strategis setelah sejumlah masalah sebelumnya, seperti isu Gaza dan Iran, dianggap telah terselesaikan.

Konstelasi Dukungan AS dan Dunia Arab

Ancaman Trump menunjukkan kompleksitas hubungan antara AS, Israel, dan negara-negara Arab di kawasan. Sebagai mediator utama dalam konflik Israel-Palestina, Amerika Serikat selama ini kerap menyeimbangkan dukungannya agar tidak merusak peta aliansi regional yang tengah dibangun, khususnya terkait normalisasi hubungan Israel dengan negara-negara Arab.

Trump menekankan bahwa janji kepada negara-negara Arab untuk tidak melakukan aneksasi di Tepi Barat menjadi salah satu alasan kuat agar Israel tidak melanjutkan rencananya. Hal ini memperlihatkan bahwa dukungan AS, meskipun kuat pada Israel, memiliki batasan terutama jika berhadapan dengan kepentingan stabilitas regional dan aliansi strategis yang lebih luas.

Rencana aneksasi sendiri menimbulkan pro dan kontra yang tajam, baik di dalam negeri Israel maupun di komunitas internasional. Banyak yang memperingatkan langkah tersebut akan memperumit penyelesaian konflik dua negara antara Israel dan Palestina serta berpotensi memicu isolasi diplomatik Israel di masa depan.

Dengan latar belakang tersebut, ancaman Trump dan sikap penolakan dari pejabat AS saat ini menandai betapa pentingnya kebijakan AS terhadap aksi politik Israel di wilayah sensitif tersebut. Bagaimanapun, keputusan akhir mengenai aneksasi akan sangat berpengaruh terhadap stabilitas Timur Tengah, hubungan bilateral AS-Israel, serta dinamika geopolitik kawasan secara keseluruhan.

Source: mediaindonesia.com

Berita Terkait

Back to top button