Presiden Rusia Vladimir Putin menegaskan bahwa Rusia tidak akan tunduk pada tekanan Amerika Serikat meskipun AS telah memberlakukan sanksi baru yang menargetkan produsen minyak terbesar Rusia, Rosneft dan Lukoil. Menurut Putin, tindakan tersebut merupakan langkah yang tidak bersahabat dan justru memperburuk hubungan antara Moskow dan Washington.
Sanksi yang diumumkan AS pada hari Rabu ini meliputi larangan bisnis dengan dua perusahaan minyak utama Rusia beserta hampir tiga lusin anak perusahaan mereka. Langkah ini merupakan upaya Amerika Serikat untuk memutus aliran pendapatan minyak yang dianggap sebagai sumber vital pendanaan perang Kremlin di Ukraina. Bahkan Uni Eropa turut mengadopsi larangan bertahap terhadap impor gas alam cair Rusia dan menambahkan dua kilang minyak Tiongkok ke dalam daftar sanksi yang berkaitan dengan Rusia.
Putin mengungkapkan bahwa meskipun sanksi baru dapat menimbulkan beberapa kerugian ekonomi bagi Rusia, negara yang memiliki harga diri tidak akan menyerah di bawah tekanan eksternal. “Tidak ada negara yang menghargai diri sendiri yang akan melakukan apa pun di bawah tekanan,” ujar Putin kepada para jurnalis Rusia. Dia juga memperingatkan bahwa langkah tersebut berpotensi menyebabkan kenaikan harga minyak global.
Terkait sanksi ini, tampak adanya respons dari dua pembeli energi terbesar Rusia yaitu India dan Tiongkok. Reliance Industries, pembeli minyak Rusia terbesar di India, menyatakan sedang menyesuaikan impor minyak Rusia agar selaras dengan panduan pemerintah India. Sementara itu, beberapa perusahaan minyak milik negara Tiongkok dilaporkan menunda pembelian minyak mentah Rusia yang dikirim lewat jalur laut, setidaknya dalam jangka pendek, karena adanya kekhawatiran terhadap dampak sanksi dari Washington.
Sektor minyak dan gas memang sangat penting bagi ekonomi Rusia, menyumbang sekitar 20 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) negara tersebut. Penurunan permintaan dari kedua negara besar itu akan menjadi pukulan besar terhadap pendapatan minyak Rusia sekaligus memicu kenaikan harga energi secara global.
Di sisi lain, berbagai pihak menilai sanksi sepihak dari Barat ini membawa risiko dan ketegangan yang meningkat. Kementerian Luar Negeri Tiongkok menyatakan penolakan tegas terhadap sanksi unilateral yang menjatuhkan hukuman terhadap perusahaan-perusahaan Tiongkok terkait isu Rusia. Juru bicara Kementerian Luar Negeri, Guo Jiakun, menegaskan bahwa Tiongkok bukanlah pihak yang menciptakan krisis Ukraina dan tidak ingin terlibat langsung di dalamnya.
Putin juga memperingatkan bahwa bila Rusia mengalami serangan rudal Tomahawk dari AS, respons yang diberikan Rusia bisa sangat kuat bahkan berlebihan. Ia mengkritik tekanan AS yang menurutnya tidak rasional dan mengimbau supaya pemerintah AS memikirkan siapa yang sebenarnya diperjuangkan oleh kebijakan sancsi tersebut.
Sementara juga mengakui bahwa sanksi dapat membawa kerugian, Putin menegaskan bahwa Rusia siap menghadapi konsekuensi dan tetap terbuka untuk berdialog dengan Amerika Serikat. Ia menyatakan, “Dialog selalu lebih baik daripada perang,” meskipun pertemuan puncak yang direncanakan dengan Presiden AS Donald Trump kemungkinan besar akan ditunda karena kurangnya persiapan yang matang.
Kebijakan sanksi dan balasan dari Rusia serta para pelanggannya menjadi sorotan utama dalam dinamika geopolitik saat ini. Sementara AS dan sekutunya berupaya menekan Rusia secara ekonomi, Kremlin menegaskan keteguhannya untuk tidak tunduk meskipun menghadapi tekanan yang cukup signifikan. Perkembangan ini menimbulkan ketidakpastian tentang masa depan hubungan Rusia-Amerika Serikat serta dampaknya terhadap pasar energi dunia.
Source: www.viva.co.id





