China Tuding AS Rusak Sistem Vital Lewat Serangan Siber, Dampak Besar

China menuduh Badan Keamanan Nasional Amerika Serikat (NSA) melakukan serangan siber yang menyerang sistem pusat waktu nasional China. Pemerintah China menyebut serangan ini berpotensi merusak jaringan komunikasi, sistem keuangan, dan pasokan listrik, yang merupakan sektor vital untuk kehidupan sehari-hari masyarakat China.

Kementerian Keamanan Negara China mengungkapkan, melalui laman WeChat pada Senin (27/10/2025), bahwa NSA memanfaatkan celah keamanan pada layanan pesan dari merek ponsel asing untuk mencuri data sensitif dari perangkat staf di National’s Time Center pada 2022. Meskipun demikian, kementerian tersebut tidak mengungkap merek ponsel yang dimaksud dalam laporan mereka.

Tuduhan dan Penyangkalan di Balik Serangan Siber

Pernyataan dari Kementerian Keamanan Negara China menyatakan, “Amerika Serikat sering menuduh pihak lain atas tindakan yang sebenarnya mereka lakukan sendiri, dan mereka berulang kali membesar-besarkan klaim mengenai ancaman siber dari China.” Hal ini mencerminkan ketegangan hubungan kedua negara yang semakin memanas akibat dugaan serangan siber yang saling dilayangkan.

China juga menuduh bahwa NSA menggunakan hingga 42 jenis senjata siber khusus untuk menargetkan jaringan internal di pusat waktu tersebut dan mencoba menyusup ke sistem pengaturan waktu utama selama periode 2023 hingga 2024. Kementerian tersebut mengklaim memiliki bukti valid terkait tuduhan ini, walaupun dokumen atau detail bukti tersebut tidak dipublikasikan ke publik.

Dampak Serangan terhadap Sistem Vital China

Serangan ini dinilai China dapat mengganggu fungsi kritikal yang menjadi tulang punggung negara, seperti komunikasi nasional, pasar keuangan, hingga distribusi listrik. Sistem pusat waktu nasional memiliki peran strategis dalam menjaga sinkronisasi waktu yang dibutuhkan oleh berbagai sektor vital tersebut untuk beroperasi secara optimal dan aman.

Menurut pengamat keamanan siber, gangguan pada pusat waktu dapat menyebabkan ketidakstabilan yang luas pada jaringan digital dan infrastruktur penting, sehingga serangan semacam ini berpotensi menimbulkan dampak berantai yang signifikan bagi ekonomi dan keamanan nasional.

Menambah Ketegangan Hubungan AS-China

Tuduhan ini semakin memperkeruh situasi hubungan antara Amerika Serikat dan China. Dalam beberapa tahun terakhir, AS dan negara-negara Barat kerap menuding peretas asal China melakukan serangan siber yang menargetkan pejabat, perusahaan, dan institusi di seluruh dunia, termasuk di Amerika Serikat. Sebaliknya, China menampik tuduhan tersebut dan menuduh AS melakukan aktivitas serupa.

Ketegangan kedua negara juga sudah melibatkan isu-isu perdagangan, teknologi, dan konflik terkait Taiwan. Tuduhan serangan siber ini berpotensi menimbulkan eskalasi baru dalam perang informasi dan diplomasi antara kedua negara adikuasa tersebut.

Konteks Global dan Tanggapan Dunia

Secara global, serangan siber dianggap sebagai ancaman serius yang mengganggu stabilitas negara dan keamanan nasional. Aktivitas serangan yang menargetkan infrastruktur vital seperti pusat waktu nasional adalah salah satu bentuk perang siber yang bisa berdampak luas.

Para analis internasional mencatat, keamanan siber kini menjadi aspek kunci dalam hubungan diplomasi dan keamanan antarnegara. Tuduhan seperti yang dilontarkan China terhadap AS menandai semakin kompleksnya dinamika persaingan teknologi dan intelijen global, di mana operasi siber menjadi medan baru konflik geopolitik.

Upaya Pencegahan dan Penguatan Sistem

Menghadapi ancaman serangan siber, banyak negara meningkatkan pengawasan dan pengamanan pada infrastruktur penting mereka. Di China, kejadian ini mendorong otoritas terkait untuk melakukan audit ulang dan memperkuat pertahanan terhadap risiko keamanan digital yang semakin canggih dan tersembunyi.

Sementara itu, penting bagi komunitas internasional untuk mendorong transparansi dan dialog, agar insiden serupa tidak merusak stabilitas hubungan bilateral dan regional di masa depan. Penanganan isu serangan siber membutuhkan kerjasama lintas negara demi keamanan bersama dan mencegah eskalasi konflik yang merugikan banyak pihak.

Source: www.beritasatu.com

Berita Terkait

Back to top button