Amerika Serikat vs Venezuela Memanas: Kapal Induk Dikerahkan ke Laut Karibia, 5 Fakta Penting

Amerika Serikat dan Venezuela kembali memasuki babak ketegangan serius di Laut Karibia seiring pengerahan kapal induk USS Gerald R. Ford beserta armada tempur lainnya oleh AS. Langkah ini memicu kecaman keras dari pemerintah Venezuela dan menimbulkan kekhawatiran peningkatan konfrontasi militer di kawasan tersebut. Berikut ini lima fakta penting yang menggambarkan memanasnya hubungan kedua negara menjelang akhir tahun 2025.

1. Pengerahan Kapal Induk Terbesar Dunia ke Laut Karibia

Amerika Serikat mengerahkan USS Gerald R. Ford, kapal induk terbesar di dunia yang memiliki kapasitas membawa hingga 90 pesawat tempur, ke wilayah Laut Karibia sebagai bagian dari operasi pemberantasan narkoba di bawah naungan Komando Selatan AS. Pentagon menyatakan bahwa misi ini fokus pada pengamanan kawasan serta pemberantasan jaringan penyelundupan narkoba, namun pemerintah Venezuela melihat tindakan ini sebagai langkah provokatif yang bertujuan mendestabilisasi rezim Presiden Nicolas Maduro. Dalam pernyataannya, Maduro menuduh Washington tengah “menciptakan perang baru” dengan dalih operasi anti-narkoba.

2. Dampak Operasi Militer AS: Puluhan Korban Jiwa

Selama dua bulan terakhir sejak pengerahan armada militer ini, operasi yang berlangsung di Laut Karibia telah menelan sedikitnya 43 korban jiwa. Washington mengklaim korban tersebut merupakan anggota kelompok kriminal terkait penyelundupan narkoba, khususnya grup Tren de Aragua yang berasal dari Venezuela. Namun, tudingan ini disangkal oleh Caracas yang menilai serangan AS sebagai tindakan sepihak dan melanggar hukum internasional. Bahkan, sejumlah korban diduga adalah nelayan sipil yang menjadi korban salah sasaran dalam operasi tersebut.

3. Kehadiran Kapal Perang AS di Trinidad dan Tobago

Ketegangan makin meningkat ketika kapal perang USS Gravely, jenis perusak peluru kendali Aegis, tiba di Port of Spain, ibu kota Trinidad dan Tobago, untuk latihan militer bersama angkatan bersenjata negara tersebut. Pemerintah Trinidad menganggap ini sebagai aktivitas rutin, tetapi masyarakat setempat merasa khawatir akibat meningkatnya aktivitas militer AS di wilayah Karibia. Kampanye militer yang diluncurkan sejak Agustus melibatkan delapan kapal perang, sepuluh jet tempur F-35, dan satu kapal selam nuklir, menunjukkan intensitas dan skala operasi yang cukup besar.

4. Tuduhan Operasi Rahasia dan CIA

Presiden Maduro menuduh Amerika Serikat dan CIA bersekongkol dengan pemerintah Trinidad dan Tobago dalam memicu provokasi militer di kawasan tersebut. Caracas mengklaim telah menangkap sejumlah tentara bayaran yang terkait dengan CIA dan dikabarkan merencanakan serangan palsu (false flag attack) untuk membuka jalan ke eskalasi konflik militer yang lebih luas. Sementara pihak AS membantah tuduhan tersebut, pernyataan mantan Presiden Donald Trump yang pernah mengakui memberikan izin operasi rahasia terhadap Venezuela memperkuat dugaan adanya peperangan tersembunyi di balik layar.

5. Konflik Politik Sebagai Akar Ketegangan

Selain dimensi militer, konflik politik yang mendalam menjadi akar permasalahan hubungan AS–Venezuela. Amerika Serikat tidak mengakui hasil pemilihan umum Venezuela tahun 2024 yang memenangkan Nicolas Maduro, dengan alasan pelaksanaan pemilu dinilai tidak bebas dan tidak adil. Oposisi Venezuela mengklaim kemenangan versi mereka sendiri melalui perhitungan internal. AS bahkan melabeli pemerintahan Maduro sebagai “organisasi kriminal” yang terlibat langsung dalam jaringan narkoba regional. Sebaliknya, Caracas menuduh AS menggunakan isu narkotika sebagai kedok untuk menggulingkan rezim yang berkuasa secara paksa. Mengantisipasi potensi ancaman, Venezuela mengintensifkan pertahanan pesisir dan mempersiapkan diri untuk menghadapi kemungkinan konflik militer skala besar.

Langkah pengerahan kapal induk dan operasi militer yang timpang persepsi ini memperlihatkan kompleksitas hubungan kedua negara yang bukan sekadar masalah pemberantasan narkoba tapi juga perebutan pengaruh geopolitik di Amerika Selatan dan Laut Karibia. Sementara kedua pihak saling menuduh dan menyiapkan kekuatan, masyarakat internasional mengawasi dinamika yang berpotensi memicu ketidakstabilan kawasan lebih luas.

Source: www.suara.com

Berita Terkait

Back to top button