5 Fakta Penting dan Pihak Terlibat dalam Konflik Perang Sudan Terbaru

Perang Sudan telah menjadi salah satu konflik paling mematikan dan kompleks di Afrika, dengan dampak yang sangat besar terhadap kehidupan penduduk setempat. Konflik ini melibatkan dua kekuatan militer utama, yaitu Pasukan Dukungan Cepat (Rapid Support Force/RSF) dan Angkatan Bersenjata Sudan (Sudanese Armed Forces/SAF). Berikut lima fakta penting serta pihak-pihak yang terlibat dalam perang Sudan yang hingga kini belum menunjukkan tanda-tanda mereda.

1. Latar Belakang Konflik: Kudeta dan Perebutan Kekuasaan
Perang Sudan berakar dari kudeta militer-sipil yang terjadi pada Oktober 2021. Dua tokoh sentral dalam kudeta ini memegang peranan kunci dalam konflik yang semakin memanas, yaitu Jenderal Abdel Fattah al-Burhan sebagai Presiden Sudan dan Panglima SAF, serta Mohamed Hamdan Dagalo (dikenal sebagai Hemedti), Wakil Presiden dan pemimpin RSF. Ketidaksepakatan keduanya mengenai penggabungan RSF ke dalam SAF dan siapa yang akan memimpin kekuatan gabungan tersebut menjadi salah satu sumber utama perselisihan. Isu kekuasaan, pengaruh politik, dan kontrol atas sumber daya menjadi pendorong utama eskalasi konflik.

2. RSF dan SAF: Dua Kekuatan Militer yang Bertikai
RSF adalah pasukan paramiliter yang memiliki akar dari milisi Janjaweed yang terkenal dengan kekejaman masa lalu, termasuk tuduhan genosida terhadap etnis tertentu di Sudan. Sementara SAF merupakan angkatan bersenjata resmi negara. Perebutan wilayah dan dominasi militer antara kedua kelompok ini berlangsung sengit. Pada 26 Oktober 2025, RSF berhasil merebut El-Fasher di Darfur Utara, sebuah wilayah strategis yang selama ini dikepung lebih dari 18 bulan. Keberhasilan ini memperkuat posisi RSF sekaligus melemahkan SAF di wilayah tersebut.

3. Dampak Kemanusiaan yang Mengkhawatirkan
Konflik ini telah menyebabkan bencana kemanusiaan besar-besaran. Diperkirakan lebih dari 400.000 jiwa tewas dan jutaan warga terpaksa mengungsi sejak pecahnya perang pada April 2023. Khususnya di El-Fasher, kondisi korban sipil sangat memprihatinkan. Warga sipil terjebak dalam pengepungan yang menyebabkan kelangkaan pangan, obat-obatan, serta terbatasnya akses evakuasi. Kamp-kamp pengungsian seperti Zamzam menghadapi kelaparan massal, sementara serangan RSF terhadap kamp pengungsi menewaskan ribuan orang. Laporan dari Jaringan Dokter Sudan menyatakan bahwa sekitar 1.500 korban sipil meninggal hanya dalam beberapa hari setelah jatuhnya El-Fasher, sementara total korban sipil mencapai lebih dari 14.000 sejak awal konflik di wilayah tersebut.

4. Laporan Pembantaian dan Pelanggaran HAM
Setelah pelucutan wilayah El-Fasher oleh RSF, muncul banyak laporan pembantaian massal terhadap warga sipil tak bersenjata. Total korban jiwa yang dilaporkan mencapai sekitar 2.000. Pengamatan oleh Laboratorium Penelitian Kemanusiaan Yale melalui citra satelit mengindikasikan adanya tanda-tanda korban jiwa dalam jumlah besar di area bekas rumah sakit wilayah timur El-Fasher. Tuduhan pelanggaran hak asasi manusia dan kejahatan perang diarahkan pada kedua kubu yang bertikai. Jenderal al-Burhan dari SAF mengaku telah menarik pasukannya dari El-Fasher untuk melindungi warga sipil dari pembantaian, namun ia juga berjanji akan melakukan balas dendam, menandakan perang ini masih berlanjut.

5. Pihak yang Terlibat dan Kompleksitas Konflik
Perang Sudan tidak hanya melibatkan SAF dan RSF, tetapi juga sejumlah kelompok milisi lokal dan faksi etnis yang berlainan. RSF sendiri terdiri dari milisi Janjaweed yang telah lama berkonflik dengan penduduk asli Darfur. Sengketa politik antara al-Burhan dan Hemedti memunculkan ketidakstabilan yang mempengaruhi seluruh aspek pemerintahan dan keamanan Sudan. Konflik ini semakin rumit dengan adanya kepentingan ekonomi, termasuk akses atas sumber daya alam dan penguasaan wilayah strategis yang memiliki nilai geopolitik penting. Penggabungan pasukan paramiliter ke dalam angkatan bersenjata juga menyajikan tantangan besar dalam proses rekonsiliasi dan stabilitas nasional.

Perang Sudan telah mengakibatkan penderitaan mendalam bagi jutaan penduduk, dengan pelanggaran hak asasi manusia dan krisis kemanusiaan yang terus memburuk. Konflik yang bermula dari perebutan kekuasaan ini kini melibatkan banyak pihak dan mengekspos kesenjangan politik serta sosial di Sudan. Memantau perkembangan selanjutnya merupakan hal penting demi memahami dinamika yang ada dan pengaruhnya terhadap perdamaian di wilayah tersebut.

Source: www.suara.com

Berita Terkait

Back to top button