Trump Ungkap Iran Tanyakan Pencabutan Sanksi, Ia Terbuka Bahas Kesepakatan Baru

Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengungkapkan bahwa Iran telah menanyakan kemungkinan pencabutan sanksi berat yang diberlakukan oleh AS. Trump menyatakan keterbukaannya untuk membicarakan hal tersebut dalam pertemuan dengan wartawan di Gedung Putih pada Kamis malam, 6 November 2025.

Menurut Trump, sanksi AS telah sangat membatasi aktivitas Iran, membuat negara itu kesulitan menjalankan berbagai kegiatannya. "Iran telah menanyakan apakah sanksi tersebut dapat dicabut. Saya terbuka untuk mendengarnya dan melihat apa yang akan terjadi," ujarnya dilansir TRT World, Jumat, 7 November 2025.

Konteks Sanksi dan Tekanan Maksimum

Sanksi AS terhadap Iran telah diterapkan secara intensif sejak beberapa tahun terakhir. Kampanye "tekanan maksimum" yang digalakkan Trump setelah menjabat masa jabatan kedua pada Januari 2025, bertujuan mencegah Iran mengembangkan senjata nuklir. Pada bulan Juni 2025, AS bahkan melakukan serangan udara terhadap situs nuklir Iran.

AS juga mempertahankan keadaan darurat nasional yang terkait Iran sejak 1979. Keadaan ini kemungkinan akan diperpanjang setidaknya satu tahun lagi setelah 14 November 2025, berdasarkan perintah eksekutif yang akan diumumkan Trump.

Departemen Keuangan AS mengumumkan bahwa Wakil Menteri Keuangan untuk Terorisme dan Intelijen Keuangan, John Hurley, akan melakukan perjalanan ke beberapa negara seperti Israel, Uni Emirat Arab, Turki, dan Lebanon. Tujuannya adalah mengoordinasikan penegakan sanksi PBB dan memperkuat tekanan terhadap Iran.

Sikap Iran dan Hambatan Negosiasi

Sementara itu, Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei menegaskan kerja sama dengan AS sangat sulit selama Washington terus mendukung Israel dan mempertahankan kehadiran militer di Timur Tengah. Iran juga keberatan dengan campur tangan AS dalam urusan regional.

Negosiasi nuklir antara Iran dan negara Barat telah berlangsung dalam lima putaran sebelum terjadi perang singkat selama 12 hari antara Iran dan Israel pada Juni 2025. Namun, perundingan tersebut terhambat oleh isu utama pengayaan uranium di Iran. Negara-negara Barat menginginkan penghentian total pengayaan uranium guna menghapus risiko persenjataan nuklir. Iran menolak permintaan ini.

Permintaan Iran terkait pencabutan sanksi yang disampaikan kepada Trump menjadi sinyal menarik terkait dinamika hubungan kedua negara. Namun, belum ada respons resmi dari delegasi Iran di Perserikatan Bangsa-Bangsa yang berkedudukan di New York.

Dinamika Geopolitik dan Tantangan Kedepan

Hubungan AS dan Iran tetap sangat kompleks dengan berbagai kepentingan geopolitik. Kampanye tekanan maksimum oleh AS memaksa Iran mengalami kesulitan ekonomi dan politik dalam negeri. Di sisi lain, Iran mempertahankan posisi keras soal kemerdekaan program nuklirnya.

Langkah AS memperpanjang sanksi dan menguatkan koordinasi dengan sekutu regional memperlihatkan strategi Amerika yang masih mengedepankan isolasi diplomatik dan sanksi ekonomi. Kemungkinan pencabutan sanksi bakal bergantung pada hasil perundingan yang penuh tantangan dan perubahan kebijakan kedua belah pihak.

Trump menunjukkan sikap yang agak fleksibel dengan terbuka mendengar permintaan Iran. Ini menjadi modal potensial bagi momentum diplomasi meskipun realisasi konkret masih penuh ketidakpastian. Dengan berbagai kompleksitas yang ada, prospek normalisasi hubungan kedua negara perlu waktu dan kondisi yang lebih kondusif.

Berita Terkait

Back to top button