Serangan udara Israel yang terjadi di wilayah timur Khan Younis, Gaza selatan, menewaskan dua warga Palestina termasuk seorang anak. Insiden ini menambah daftar panjang korban yang jatuh di tengah ketegangan yang masih berlangsung meskipun sudah ada gencatan senjata yang diberlakukan sejak bulan lalu.
Kelompok Hamas mengutuk serangan tersebut sebagai pelanggaran harian oleh Israel yang terus berlanjut tanpa henti. Dalam pernyataannya melalui Telegram, Hamas mengungkapkan bahwa sejak 10 Oktober, serangan-serangan Israel telah menewaskan 271 orang, dengan lebih dari 90% korban adalah warga sipil.
Militer Israel menanggapi tuduhan ini dengan menyatakan bahwa korban yang tewas merupakan ancaman langsung terhadap pasukan mereka saat operasi berlangsung. Pernyataan ini menegaskan posisi Israel bahwa serangan dilakukan sebagai bagian dari pembelaan diri terhadap ancaman keamanan.
Penghancuran Rumah di Zona Penarikan
Pasukan Israel dilaporkan semakin intensif menghancurkan rumah-rumah di dalam wilayah yang disebut garis kuning atau zona penarikan sementara sesuai kesepakatan gencatan senjata. Wali Kota Bani Suheila, Hamdan Radwan, menambahkan bahwa rumah-rumah dua lantai menjadi sasaran utama dalam operasi ini.
Citra satelit dan laporan dari lapangan menunjukkan bahwa beberapa blok pemukiman di Gaza tengah kini berubah menjadi puing-puing akibat ledakan yang terjadi. Kondisi ini memperburuk situasi warga yang sudah mengalami kehilangan tempat tinggal akibat konflik berkepanjangan.
Bantuan Kemanusiaan Masih Terbatas
Israel terus membatasi arus masuk bantuan kemanusiaan ke Gaza, yang dianggap Hamas melanggar ketentuan utama gencatan senjata. Hamas menuduh Israel menolak mengizinkan masuknya sekitar 600 truk bantuan harian yang sebelumnya dijanjikan.
Pada minggu terakhir, hanya 270 truk yang berhasil melewati perlintasan Karem Abu Salem dan al-Karara. Bantuan ini terdiri dari truk kemanusiaan, barang komersial, bahan bakar, dan gas untuk memasak, jauh di bawah kebutuhan sehari-hari penduduk Gaza.
Menurut Badan Bantuan dan Pekerjaan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA), antara 500 hingga 600 truk bantuan diperlukan setiap hari untuk memenuhi kebutuhan dasar. Namun, pembatasan oleh Israel menyebabkan distribusi bantuan menjadi sangat sulit dan tidak memadai.
John Whyte, wakil direktur senior UNRWA untuk operasi Gaza, menyatakan bahwa Israel tidak mengizinkan pasokan UNRWA masuk secara langsung. Supplay harus diserahkan ke badan lain dan logo UNRWA harus dicopot, menyebabkan penundaan logistik yang besar.
Pertukaran Jenazah dan Rehabilitasi Rumah Sakit
Sebagai bagian dari kesepakatan gencatan senjata, Israel menyerahkan 15 jenazah warga Palestina kepada pihak berwenang di Gaza. Pertukaran ini merupakan yang ke-12 sejak perjanjian mulai diberlakukan, dengan total 315 jenazah telah dikembalikan ke pihak Gaza.
Namun, hanya 89 jenazah yang berhasil diidentifikasi karena kondisi pembusukan dan keterbatasan fasilitas medis. Hamas menyatakan telah menyerahkan 20 tawanan dalam waktu 72 jam dan memberikan koordinat jenazah lain di wilayah yang dikuasai Israel.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengumumkan bahwa Rumah Sakit al-Kheir di Khan Younis telah kembali beroperasi setelah berbulan-bulan tutup akibat serangan. WHO turut membantu pemulihan fasilitas listrik, air, sanitasi, dan peralatan medis di rumah sakit tersebut.
Selain itu, WHO membuka pusat stabilisasi gizi baru dengan 20 tempat tidur, sehingga total menjadi delapan fasilitas serupa di Gaza. Pusat ini berfungsi menangan anak-anak dengan malanutrisi parah yang semakin meluas di tengah blokade yang masih diberlakukan.
Situasi di Gaza tetap dalam kondisi genting dengan terus adanya serangan serta tekanan kemanusiaan yang berat. Meski gencatan senjata sudah berlangsung, pelanggaran baik oleh Israel maupun Hamas masih sering terjadi, menghambat proses pemulihan dan kestabilan di wilayah tersebut.
Baca selengkapnya di: mediaindonesia.com




