
Hubungan antara Tiongkok dan Jepang kembali memanas akibat pernyataan Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi, terkait situasi Taiwan. Akibatnya, penayangan dua film Jepang populer di Tiongkok resmi ditunda, yaitu "Cells at Work!" dan "Crayon Shin-chan the Movie: Super Hot! The Spicy Kasukabe Dancers."
Penundaan ini menunjukkan sensitivitas hubungan geopolitik Asia Timur yang berdampak langsung pada industri hiburan lintas negara. Pertimbangan politik kini menjadi faktor penting dalam distribusi konten budaya di wilayah tersebut.
Dampak Pernyataan PM Jepang Soal Taiwan
Pada 7 November 2025, PM Sanae Takaichi membuat pernyataan tegas mengenai kemungkinan tekanan militer Beijing terhadap Taiwan. Pernyataan tersebut disikapi keras oleh Tiongkok karena Taiwan dianggap sebagai bagian integral wilayahnya.
Tanggapan Beijing berlangsung cepat dan tegas, termasuk imbauan kepada warganya untuk tidak melakukan perjalanan ke Jepang. Pemerintah Tiongkok juga mendorong mahasiswa mereka untuk meninjau ulang rencana studi di Jepang sebagai bagian dari tindakan politik tersebut.
Akibat protes tersebut, sektor pariwisata, maskapai penerbangan, dan ritel Jepang merasakan dampak ekonomi yang signifikan. Saham dari sektor-sektor tersebut mengalami penurunan yang terlihat dalam dagang harian mereka.
Penundaan Penayangan Film Jepang di Tiongkok
Menurut laporan media pemerintah Tiongkok, CCTV, distributor film di Tiongkok memutuskan menunda penayangan dua film Jepang. Keputusan ini diambil setelah mereka menghitung ulang risiko pasar dalam menghadapi ketegangan politik yang meningkat.
Film "Crayon Shin-chan" dikenal sebagai tontonan keluarga dengan humor ringan. Sementara "Cells at Work!" merupakan film live action yang berangkat dari manga yang menggambarkan aktivitas sel darah manusia. Kedua film ini sebelumnya sudah dijadwalkan tayang dalam waktu dekat.
Meski film anime "Demon Slayer: Infinity Castle" belum ditarik dari penayangan, penjualannya mulai menunjukkan penurunan signifikan di pasar Tiongkok. CCTV mencatat ketidakpuasan penonton terhadap produksi Jepang, satu efek dari ketegangan politik yang tengah berlangsung.
Respons Industri Hiburan Jepang dan Tiongkok
Hingga saat ini, pihak distributor dan importir film belum mengungkapkan berapa lama penundaan akan berlangsung. Permintaan komentar dari beberapa perusahaan besar seperti Toho, rumah produksi Jepang, belum mendapat tanggapan resmi.
Kondisi ini mengindikasikan bahwa industri hiburan di kedua negara tengah berhati-hati dan menyesuaikan strategi mereka dengan situasi diplomatik. Pembatalan atau penundaan tayangan merupakan salah satu dampak langsung dari konflik verbal yang membekas di tingkat pemerintahan.
- Penayangan film Jepang yang awalnya menggembirakan penggemar di Tiongkok kini menghadapi ketidakpastian.
- Penurunan minat terhadap produk budaya Jepang di pasar Tiongkok menjadi salah satu konsekuensi nyata dari masalah politik.
- Industri film dan anime Jepang di Tiongkok harus mempertimbangkan risiko politik dalam perencanaan rilis karya-karyanya.
Ketegangan antara Tiongkok dan Jepang ini membuka diskusi lebih luas mengenai keterkaitan antara politik dan budaya populer di Asia Timur. Dalam kondisi saat ini, keputusan untuk menunda film bukan sekadar soal bisnis, melainkan bagian dari strategi geopolitik yang saling mempengaruhi.
Industri hiburan di kawasan ini perlu mempersiapkan diri menghadapi dinamika politik yang cepat berubah. Penonton di Tiongkok pun menjadi salah satu pihak yang ikut terkena dampak dari hubungan bilateral yang sedang tegang.
Baca selengkapnya di: www.medcom.id




