Pertemuan perdana antara Presiden Donald Trump dan Wali Kota New York terpilih, Zohran Mamdani, pada Jumat (21/11) berlangsung lebih hangat dari yang diperkirakan banyak pihak. Keduanya dikenal sering saling melontarkan kritik tajam selama beberapa bulan terakhir.
Trump pernah menyebut Mamdani sebagai “komunis gila 100%,” sementara Mamdani menyebut dirinya sebagai “mimpi buruk terbesar Trump.” Meski demikian, suasana berbeda tampak saat mereka bertemu di Ruang Oval.
Dalam sesi publik selama sekitar 30 menit, Trump beberapa kali memuji Mamdani sebagai sosok yang rasional. Ia mengatakan Mamdani berpotensi membawa kemajuan besar bagi New York.
Zohran Mamdani berdiri di samping Trump dan memilih tidak mengulangi kritikan lama. Ia menegaskan komitmennya untuk bekerja sama dalam mengatasi persoalan biaya hidup yang menekan warga.
Trump mengatakan pembicaraan tertutup antara keduanya menghasilkan lebih banyak titik temu daripada yang ia duga sebelumnya. Ia menyoroti fokus Mamdani pada isu keterjangkauan hunian, sebuah problem klasik di kota besar.
Menurut Trump, sosok Mamdani dapat menjadi wali kota yang hebat untuk New York. Ia menambahkan bahwa semakin baik kinerjanya, semakin ia akan senang.
Sebelum ini, Trump mendukung rival Mamdani dalam Pilkada New York yaitu Andrew Cuomo. Namun, sikapnya berubah setelah pertemuan itu dan ia kini memandang Mamdani memiliki potensi mengejutkan pemilih konservatif.
Mantan presiden itu sempat mengancam akan menghentikan bantuan federal jika Mamdani menang, tetapi nada Trump menjadi lebih lunak usai bertemu. Ia menyatakan keinginannya untuk membantu, bukan menyulitkan sang wali kota baru.
Trump juga mengungkapkan kecintaannya terhadap New York sebagai kota kelahirannya. Ia melihat Mamdani mampu membawa perubahan positif yang dibutuhkan oleh kota tersebut.
Pertemuan ini membuka peluang kolaborasi antara dua tokoh dengan latar belakang dan pandangan politik yang sangat berbeda. Mereka setidaknya bersedia mencari titik temu demi kemajuan New York.
Dalam konteks kebijakan, pertemuan ini menjadi penting karena isu keterjangkauan hunian dan biaya hidup merupakan tantangan utama yang harus segera diatasi oleh pemimpin kota. Komitmen bersama menjadi kunci dalam upaya tersebut.
Zohran Mamdani sendiri dikenal sebagai figur yang membawa angin segar dengan visi progresifnya. Sedangkan Trump merupakan tokoh politik yang mempunyai pengaruh kuat dan jaringan luas.
Kerja sama keduanya diharapkan bisa menghadirkan solusi konkret di tengah krisis sosial dan ekonomi yang dialami penduduk New York. Para pengamat juga menanti langkah-langkah strategis berikutnya.
Secara keseluruhan, pertemuan ini menunjukan bahwa politik tidak selalu diwarnai permusuhan. Kadang, pihak yang berseteru pun bisa memilih dialog dan kerjasama demi kepentingan bersama.
Trump dan Mamdani tampaknya memberikan contoh yang menarik bahwa perbedaan ideologi tidak harus menghalangi komunikasi dan sinergi untuk kebaikan publik. Ini merupakan kabar positif menjelang masa pemerintahan baru di New York.
Penting bagi pengamat dan warga untuk mengikuti perkembangan hubungan kedua tokoh ini karena dampaknya akan terasa luas dalam kebijakan kota dan kehidupan masyarakat sehari-hari.
Baca selengkapnya di: mediaindonesia.com




