Serangan Maut Israel Saat Gencatan Senjata, Hamas Tuntut Campur Tangan AS segera

Israel kembali melancarkan serangan udara mematikan di Jalur Gaza meskipun gencatan senjata telah berlangsung selama enam minggu. Serangan pada Sabtu (22/11) menewaskan sedikitnya 24 warga Palestina, termasuk anak-anak, serta melukai 87 lainnya, menurut otoritas Gaza.

Serangan pertama mengenai sebuah mobil di Kota Gaza utara, dilanjutkan dengan serangan udara di pusat kota Deir el-Balah dan kamp pengungsi Nuseirat. Direktur Rumah Sakit al-Shifa, Rami Mhanna, melaporkan 11 orang tewas dan 20 luka-luka akibat serangan drone di lingkungan Remal, Kota Gaza.

Pelanggaran Gencatan Senjata yang Sistematis

Kantor Media Pemerintah Gaza menyatakan Israel telah melanggar gencatan senjata setidaknya 497 kali sejak 10 Oktober lalu. Jumlah korban sipil mencapai sekitar 342 jiwa dengan mayoritas anak-anak, perempuan, dan lansia. Pernyataan resmi menegaskan pelanggaran ini sebagai pelanggaran berat terhadap hukum humaniter internasional dan protokol kemanusiaan.

Menurut pengakuan pemerintah Israel, serangan dilakukan sebagai respons atas serangan yang dilakukan pejuang Hamas di wilayah yang dikuasai Israel. Israel mengumumkan telah menewaskan lima pejuang senior Hamas dalam operasi tersebut. Namun, Hamas tidak memberikan komentar langsung terkait pejabat yang gugur tersebut.

Tuduhan Hamas dan Seruan kepada Amerika Serikat

Hamas menuduh Israel sengaja melanggar gencatan senjata dengan dalih yang dipalsukan. Kelompok ini mengklaim Israel telah melampaui garis kuning wilayah Gaza dan mengubah batas wilayah sesuai perjanjian gencatan senjata yang disepakati. Mereka menyerukan AS, Mesir, dan Qatar sebagai mediator agar segera turun tangan menghentikan pelanggaran tersebut.

Dalam pernyataannya, Hamas juga menuntut agar pemerintah Amerika Serikat memaksa Israel menjalankan kewajibannya dan menghentikan upaya yang melemahkan gencatan senjata. Anggota biro politik Hamas, Izzat al-Risheq, menuding Israel berusaha menghindari perjanjian dan kembali ke strategi perang pemusnahan, meski fakta menunjukkan Israel yang terus melanggar perjanjian secara sistematis.

Dampak Serangan Terhadap Warga Sipil Gaza

Serangan terbaru menyerang rumah-rumah warga dan infrastruktur di Gaza. Saksi mata menggambarkan ledakan dahsyat dan puing bertebaran di jalanan yang membuat warga demikian trauma. Ketegangan terus berlangsung dan menggambarkan kerentanan gencatan senjata yang rapuh.

Menurut jurnalis Al Jazeera Hani Mahmoud, kekerasan di Gaza belum pernah benar-benar berhenti. Pola kekerasan yang semula bersifat sporadis kini berubah menjadi pembunuhan berkelanjutan dengan intensitas lambat namun konstan. Ini memperlihatkan bahwa situasi keamanan di Gaza sangat tidak stabil.

Kekerasan Berlanjut di Tepi Barat

Selain dari Gaza, kekerasan juga meningkat di wilayah Tepi Barat yang diduduki Israel. Serangan militer dan aksi pemukim Israel melukai beberapa warga Palestina di Hebron dan sekitarnya. Laporan PBB menyebutkan jumlah serangan pemukim mencapai angka tertinggi sejak 2006.

Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia menilai pengusiran warga Palestina secara paksa sebagai kejahatan perang. Ia juga mengecam peningkatan pembongkaran rumah, penyitaan properti, dan penangkapan warga yang terjadi bersamaan dengan perluasan permukiman Israel.

Situasi di Gaza dan Tepi Barat menunjukkan eskalasi konflik yang memasuki babak baru. Tekanan internasional, terutama dari AS dan mediator regional, semakin dibutuhkan demi menjaga gencatan senjata dan mengurangi korban sipil. Namun, fakta pelanggaran berulang oleh kedua belah pihak memperlihatkan betapa rumitnya mewujudkan perdamaian yang berkelanjutan di wilayah ini.

Baca selengkapnya di: mediaindonesia.com

Berita Terkait

Back to top button