AI Ungkap Cara Deteksi Dini Kanker Pankreas yang Selama Ini Sulit Teridentifikasi

Shopee Flash Sale

Kanker pankreas termasuk salah satu jenis kanker yang paling mematikan dan sulit terdeteksi awal. Gejalanya sering kali samar dan tidak spesifik, seperti nyeri perut ringan, berkurangnya nafsu makan, serta penurunan berat badan tanpa penyebab jelas.

Lokasi pankreas yang tersembunyi di balik organ-organ dalam tubuh juga menyulitkan deteksi dengan metode pemindaian konvensional. Bahkan teknologi CT scan modern kerap gagal mendeteksi tumor kecil pada organ ini di tahap dini.

Peran Kecerdasan Buatan dalam Deteksi Kanker Pankreas

Dalam beberapa tahun terakhir, kecerdasan buatan (AI) mulai diaplikasikan di bidang kesehatan untuk meningkatkan deteksi penyakit. AI telah berhasil membantu membaca hasil sinar-X dan screening kanker, termasuk kanker payudara dan gangguan paru-paru.

Sebuah studi terbaru berjudul "Pancreatic Cancer Diagnosis: Radiologists Meet AI" yang dipublikasikan di Lancet Oncology menunjukkan bahwa AI dapat mengungguli ahli radiologi dalam mendeteksi adenokarsinoma duktal pankreas (PDAC) pada pemindaian CT rutin.

Penelitian ini melibatkan 1.130 pasien dengan hasil AI mencapai nilai AUROC sebesar 0,92. Sensitivitas AI mencapai 85,7%, sementara spesifisitasnya 83,5% pada ambang ROC yang optimal.

Keunggulan AI dibandingkan Ahli Radiologi

Pada subkelompok 391 pasien, AI menunjukkan kinerja yang secara statistik lebih unggul dibanding ahli radiologi yang hanya mencapai AUROC rata-rata 0,88. AI juga berhasil mengurangi hasil positif palsu hingga 38% dibandingkan dengan diagnosis manual radiolog.

AUROC (area under the receiver operating characteristic curve) mengukur kemampuan model mengenali antara kondisi positif dan negatif. Semakin tinggi angkanya, maka semakin baik hasil diagnosa yang dihasilkan.

Peneliti dari Radboud University Medical Center, Natalia Alves, menegaskan bahwa studi ini adalah konfirmasi internasional pertama yang mengevaluasi sistem AI mandiri dibandingkan para ahli radiologi dalam mendeteksi PDAC. AI yang dilatih dengan data besar dan beragam mampu mendeteksi kanker pankreas lebih akurat.

Metode Studi dan Partisipan

Studi Panorama terbagi menjadi dua bagian paralel. Pertama, tantangan AI yang melibatkan pengembangan algoritma oleh tim internasional berdasarkan dataset publik multisenter. Kedua, studi multipembaca yang melibatkan 68 ahli radiologi dari 40 pusat medis di 12 negara.

Secara total, penelitian ini melibatkan data dari 3.440 pasien dengan mayoritas berjenis kelamin laki-laki dan usia rata-rata 67 tahun. Meski dilakukan secara daring, penelitian ini memberikan gambaran penting terhadap kemampuan AI dalam mendeteksi kanker pankreas.

AI sebagai Pendukung Diagnosis Klinis

Meskipun AI menunjukkan hasil yang menjanjikan, para peneliti menekankan bahwa AI bukanlah pengganti dokter. Teknologi ini diharapkan menjadi "mata kedua" yang membantu radiolog bekerja lebih teliti, mengurangi risiko kesalahan, dan meringankan beban kerja.

Dukungan AI berpotensi meningkatkan deteksi kanker pankreas di tahap awal, sehingga pilihan pengobatan seperti operasi dan terapi bisa lebih efektif meningkatkan peluang hidup pasien.

Teknologi AI menjadi secercah harapan untuk menghadapi kanker pankreas yang selama ini dikenal sangat sulit diobati dan memiliki angka kematian tinggi. Kolaborasi antara tenaga medis dan AI penting untuk hasil diagnosa yang maksimal.

Penerapan sistem AI dalam deteksi kanker pankreas membuka jalan bagi pengembangan perangkat medis berbasis teknologi canggih. Ini merupakan langkah maju membuka peluang diagnosis lebih cepat dan akurat di masa depan dalam dunia medis.

Baca selengkapnya di: www.beritasatu.com

Berita Terkait

Back to top button