Infertilitas pada pria menjadi perhatian serius, terutama dengan kondisi azoospermia atau sperma kosong. Kondisi ini membuat pria tidak menghasilkan sperma sama sekali dalam air mani, sehingga sulit atau bahkan tidak mungkin memiliki keturunan secara alami.
Menurut data yang dipublikasikan oleh National Library of Medicine pada November 2023, sekitar 10-15 persen pria infertil mengalami azoospermia. Dari populasi pasangan usia produktif di Indonesia, sekitar 30 persen kasus infertilitas disebabkan oleh faktor pria, terutama akibat gaya hidup tidak sehat. Faktor-faktor seperti merokok, konsumsi alkohol, makanan tinggi gula dan pengawet, serta kurang tidur sangat memengaruhi kualitas sperma.
dr. Christian Christoper Sunnu, Sp.And, Dokter Spesialis Andrologi di Eka Hospital Grand Family PIK, menjelaskan bahwa azoospermia merupakan kondisi medis serius yang sebagian besar pasien tidak sadari. “Banyak pasien tidak menyadari karena secara fisik tampak sehat, namun saat diperiksa ternyata tidak ditemukan sperma sama sekali,” ujarnya. Hal ini menandakan pentingnya pemeriksaan medis sejak dini untuk mendeteksi gangguan kesuburan pria.
Secara global, penurunan jumlah sperma pria sudah terjadi selama lima dekade terakhir, dengan penurunan lebih dari 50 persen. Testis, sebagai organ utama penghasil sperma, sangat sensitif terhadap pengaruh negatif. Konsumsi makanan ultra processed food (UPF), stres kronis, dan kebiasaan buruk lain dapat merusak fungsi testis secara signifikan.
Terdapat dua tipe azoospermia, yakni obstruktif dan non-obstruktif. Tipe non-obstruktif paling sering terkait dengan gaya hidup dan gangguan produksi sperma. Faktor pemicu meliputi penggunaan rokok, konsumsi makanan tinggi gula dan pengawet, penggunaan hormon atau obat tanpa pengawasan medis, serta infeksi seperti gondongan dan Covid-19.
Meskipun tersedia terapi hormon dan sel punca, hingga kini belum ada pengobatan efektif yang mampu mengembalikan jumlah sperma dari nol menjadi normal secara penuh. Banyak pria dengan azoospermia akhirnya harus menjalani program bayi tabung atau in vitro fertilization (IVF) sebagai solusi memperoleh keturunan.
Untuk mencegah kondisi ini, dr. Christian mengimbau pria agar lebih sadar menjaga kesehatan reproduksi sejak muda. Ia menekankan pentingnya pola hidup sehat, menghindari rokok dan alkohol, menjaga kualitas tidur, mengelola stres, serta tidak sembarangan mengonsumsi hormon atau suplemen tanpa anjuran dokter.
Langkah preventif sangat krusial mengingat testis yang rusak sulit dikembalikan ke kondisi semula. Kesadaran akan kesehatan reproduksi sebaiknya dimulai sebelum pasangan berencana memiliki anak agar risiko azoospermia dapat diminimalisir dan peluang memperoleh keturunan tetap terjaga.
Baca selengkapnya di: www.suara.com