ISPA, Hipertensi, dan Diare Jadi Penyakit Paling Sering Menyerang Pengungsi Aceh Tamiang

Relawan Tenaga Cadangan Kesehatan (TCK) menemukan bahwa Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), hipertensi, dan diare menjadi penyakit paling sering dijumpai di lokasi pengungsian Kabupaten Aceh Tamiang, tepatnya di Desa Sukajadi. Kondisi ini mendorong tim medis untuk melakukan penelusuran lebih mendalam terkait faktor risiko yang memengaruhi kesehatan para pengungsi.

Tim medis tidak hanya fokus pada pengobatan, tetapi juga melakukan mitigasi penyakit pascabencana. Menurut dr. Muhammad Fahriza dari RSUD Sungai Daerah Kabupaten Dharmasraya, layanan kesehatan di posko dirancang untuk memetakan penyakit yang dominan dan melakukan intervensi sesuai permasalahan kesehatan yang ditemukan.

Pemetaan Penyakit dan Faktor Risiko

Pendataan awal menunjukkan bahwa ISPA menjadi kasus terbanyak, disusul hipertensi dan diare. Tim medis turun langsung ke tenda-tenda pengungsian guna mengidentifikasi akar masalah, seperti sanitasi yang buruk atau pola konsumsi yang tidak sehat. Pendekatan ini bertujuan untuk mengarahkan penyuluhan dan edukasi yang tepat sasaran kepada masyarakat pengungsi.

Proses Pelayanan Kesehatan di Posko

Pelayanan di posko dimulai dengan pengumuman keberadaan pos kesehatan, pendaftaran pasien, dan pemeriksaan tanda vital. Pasien dengan kondisi serius dirujuk ke fasilitas kesehatan terdekat seperti puskesmas atau rumah sakit. Koordinasi ini dilakukan agar penanganan berjalan lancar dan aman bagi pasien.

Upaya Mitigasi dan Tantangan Fasilitas Kesehatan

Meski tidak ada lonjakan signifikan kasus penyakit menular, ISPA tetap menjadi fokus utama mitigasi agar tidak berubah menjadi kejadian luar biasa. Tim juga aktif melakukan pemetaan sanitasi lingkungan untuk mengurangi risiko penularan penyakit. Namun, keterbatasan obat-obatan terutama untuk penyakit kronis, serta minimnya peralatan laboratorium di lapangan menjadi kendala utama.

Dukungan Tim Medis dan Perhatian pada Kesehatan Mental

Tim TCK di Desa Sukajadi terdiri dari satu dokter, dua perawat, satu tenaga kesehatan lingkungan, dan satu apoteker yang secara bergotong royong memberikan pelayanan kesehatan terbaik. Selain kondisi fisik, mereka juga memperhatikan kesehatan mental pengungsi. Meskipun masih ada yang mengalami trauma, secara umum masyarakat sudah mulai menyesuaikan diri dengan situasi pascabencana berjalan selama sekitar satu bulan.

Langkah Strategis Kedepan

Berdasarkan temuan ini, intervensi medis dan edukasi tentang pola hidup sehat menjadi sangat penting di pengungsian. Penambahan fasilitas kesehatan dan peralatan medis akan meningkatkan efektivitas pelayanan. Pemantauan berkelanjutan terhadap ISPA, hipertensi, dan diare harus tetap dilakukan guna mencegah perkembangan kasus yang lebih serius di tengah keterbatasan kondisi pascabencana tersebut.

Baca selengkapnya di: lifestyle.bisnis.com

Berita Terkait

Back to top button