Mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya berhasil menciptakan alat inovatif yang mampu mendeteksi penyakit Tuberkulosis (TBC) hanya melalui suara batuk. Inovasi ini memanfaatkan teknologi deep learning untuk mengklasifikasikan suara batuk pasien, sehingga deteksi TBC menjadi lebih cepat dan efisien tanpa perlu tes medis yang rumit.
Tim mahasiswa dari program studi Teknologi Kedokteran ITS yang diketuai oleh Nathania Cahya Romadhona mengembangkan alat skrining bernama TBCare. Mereka menghadapi tantangan besar dalam mengolah suara batuk yang memiliki pola spektral tidak beraturan atau bersifat inharmonik. Oleh karena itu, penggunaan kecerdasan buatan sangat diperlukan untuk menangkap kompleksitas sinyal suara tersebut secara komprehensif.
Pengolahan suara batuk dilakukan dengan metode deep learning yang dikombinasikan dengan algoritma Yet Another Mel Spectrogram Network (YAMNet). Model YAMNet dipilih karena memiliki kemampuan unggul dalam pengklasifikasian serta validasi berbagai jenis suara batuk, bahkan dari kondisi lingkungan yang berbeda-beda. Pendekatan ini memungkinkan alat bekerja dengan akurasi tinggi dalam mengidentifikasi indikasi TBC.
Selain YAMNet, tim juga melakukan modifikasi arsitektur deep learning dengan menggunakan fitur Mel-Frequency Cepstral Coefficients (MFCC). Fitur MFCC tersebut diolah sebagai input pada model Long Short-Term Memory (LSTM) untuk meningkatkan sensitivitas dan presisi alat dalam membedakan suara batuk penderita TBC dan non-TBC. Sistem ini menghasilkan tingkat sensitivitas mendekati 76 persen, yang menurut Nathania sudah cukup efektif untuk skrining awal penyakit.
Alat ini terintegrasi dengan Internet of Things (IoT), sehingga data suara batuk yang terekam dapat langsung dikirimkan ke basis data rumah sakit secara efisien dan real-time. Kader kesehatan dapat menggunakan perangkat ini di berbagai daerah secara portable dan mudah dioperasikan. Hal ini membuka peluang besar untuk mempercepat proses deteksi TBC di wilayah yang kesulitan mendapatkan akses tes medis yang lengkap.
Inovasi TBCare telah melalui validasi medis ketat dan diakui secara nasional. Tim ITS ini berhasil meraih medali emas dalam Pekan Ilmiah Nasional Mahasiswa (Pimnas) 2025 pada kategori Program Kreativitas Mahasiswa bidang Karsa Cipta. Selain prestasi tersebut, karya mereka juga berkontribusi dalam pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) terutama tujuan kesehatan yang baik (Goal 3), infrastruktur serta inovasi (Goal 9), dan pengurangan ketimpangan (Goal 10).
Penerapan teknologi suara batuk sebagai alat skrining TBC ini membuka jalur baru dalam deteksi penyakit menular yang lebih praktis dan terjangkau. Dengan dukungan pemrosesan data berbasis kecerdasan buatan dan jaringan IoT, metode ini berpotensi meningkatkan cakupan pemeriksaan di lapangan sekaligus mereduksi keterlambatan diagnosis yang sering terjadi pada penderita TBC. Inisiatif yang dilakukan oleh mahasiswa ITS ini menunjukkan bagaimana inovasi teknologi bisa menjadi solusi penting bagi layanan kesehatan masyarakat Indonesia dan dunia.
Baca selengkapnya di: lifestyle.bisnis.com




