Lebih dari Separuh Anak Korban Gempa Poso Alami Kecemasan, Peran Dukungan Psikososial Vital

Lebih dari separuh anak yang terdampak gempa bumi di Kabupaten Poso mengalami gangguan kecemasan. Data assessment Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI) terhadap 456 siswa menunjukkan 54,83 persen mengalami kecemasan dan ketegangan berulang. Selain itu, 61,18 persen anak juga mudah merasa takut dalam berbagai situasi, memperlihatkan dampak psikologis serius akibat bencana ini.

Selain kecemasan, gangguan tidur juga menjadi masalah yang dialami anak-anak. Sebanyak 14,25 persen anak pelajar mengalami kesulitan tidur, sementara 13,6 persen lainnya mengalami mimpi buruk yang berhubungan dengan rasa cemas menjelang waktu tidur. Kondisi ini menunjukkan perlunya perhatian lebih terhadap kesehatan mental anak setelah bencana gempa berkekuatan 5,8 skala Richter itu.

Dampak Psikologis pada Anak Terdampak Gempa

Gempa yang berpusat di Desa Ueralulu, Kecamatan Poso Pesisir, tidak hanya merusak fisik bangunan sekolah tetapi juga menyebabkan trauma psikologis. Sekretaris Korps Relawan Bencana HIMPSI (KRESNA HIMPSI), Nur Afni Indahari Arifin, M.Psi., Psikolog, menegaskan bahwa keguncangan tersebut memengaruhi situasi psikologis anak dan guru secara signifikan. Anak-anak yang terdampak cenderung mengalami ketakutan berlebih, stres, dan gangguan tidur, kondisi yang berpotensi menghambat proses belajar mereka.

Program Dukungan Psikososial untuk Anak

Merespons kondisi ini, KRESNA HIMPSI menyelenggarakan Psychosocial Support Program pada 23–26 November 2025. Program ini menjangkau 31 sekolah dan melibatkan 1.625 siswa dari berbagai jenjang pendidikan. Kegiatan ini menargetkan anak PAUD, TK, SD, dan SMP dengan pendekatan yang sesuai umur. Misalnya, anak-anak PAUD hingga SD mengikuti program “Rumah Gembira,” sedangkan siswa SMP mengikuti program “Menjadi Lebih Kuat.”

Kegiatan ini dirancang tidak hanya untuk memulihkan psikologis melalui permainan dan materi interaktif, tetapi juga mencakup simulasi penyelamatan diri. Simulasi dilakukan bekerjasama dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Poso dan Kota Palu. Dengan demikian, anak-anak juga dilatih untuk memiliki kesiapsiagaan menghadapi bencana di masa mendatang.

Peran Psikolog dan Pendampingan Berkelanjutan

Program dukungan ini didukung oleh sekitar 100 psikolog dari HIMPSI Pusat dan wilayah Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, serta Sulawesi Barat. Semua fasilitator telah menjalani pembekalan khusus agar intervensi psikososial dilakukan secara efektif dan aman bagi anak-anak korban gempa. Pendampingan berkelanjutan sangat diperlukan mengingat kondisi kecemasan dan gangguan tidur yang cukup banyak dialami anak-anak.

Pentingnya Dukungan Psikososial dalam Pemulihan Anak

Dukungan psikososial sangat krusial dalam membantu anak-anak bangkit dari trauma akibat bencana. Respon yang cepat dan tepat dapat meminimalkan dampak jangka panjang pada kesehatan mental mereka. Program KRESNA HIMPSI juga mendorong sekolah untuk memperkuat kesiapsiagaan bencana agar lingkungan belajar tetap aman dan kondusif.

Pada puncak kegiatan, pentas seni digelar serentak di 17 titik di Kabupaten Poso pada 26 November 2025. Acara ini menjadi media bagi anak-anak untuk mengekspresikan diri dan membangun rasa percaya diri pascabencana. Kolaborasi lintas sektor diharapkan terus ditingkatkan agar langkah perlindungan psikososial bagi anak dapat lebih masif dan berkelanjutan.

Baca selengkapnya di: www.suara.com

Berita Terkait

Back to top button