Banjir dan longsor yang melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat pada akhir 2025 menyebabkan krisis kesehatan serius bagi ribuan pasien diabetes. Kerusakan fasilitas kesehatan dan terputusnya distribusi obat membuat akses terhadap insulin menjadi sangat terbatas.
Data dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat lebih dari 147 ribu rumah dan 219 fasilitas kesehatan mengalami kerusakan. Kondisi ini memperparah risiko bagi penderita diabetes tipe 1 yang sangat bergantung pada terapi insulin untuk bertahan hidup.
Dampak Terputusnya Pengobatan bagi Pasien Diabetes
Direktur Pengelolaan dan Pelayanan Kefarmasian Kementerian Kesehatan, Dr. Dra. Agusdini Banun Saptaningsih, menegaskan bahwa bencana alam mengganggu keberlangsungan pengobatan pasien dengan penyakit kronis. "Ketersediaan insulin adalah kebutuhan esensial yang tidak boleh terhenti, terutama dalam situasi darurat," ujarnya.
Terputusnya terapi insulin berpotensi memicu komplikasi serius, seperti ketoasidosis diabetik yang bisa mengancam nyawa. Kebutuhan ini semakin mendesak terutama bagi pasien anak-anak dengan diabetes tipe 1 yang jumlahnya cukup signifikan di wilayah terdampak.
Kebutuhan Khusus Anak dengan Diabetes Tipe 1
Menurut Prof. Dr. Aman Bhakti Pulungan, Sp.A, (K), FAAP, FRCPI (Hon.), yang juga Project Lead Changing Diabetes in Children (CDiC), lebih dari 50 anak dengan diabetes tipe 1 di wilayah bencana membutuhkan insulin secara berkelanjutan. Ia menekankan, "Akses insulin yang terputus, bahkan sebentar saja, dapat mengakibatkan risiko fatal bagi keselamatan mereka."
Inisiatif penyaluran donasi insulin menjadi harapan penting agar anak-anak tersebut tetap dapat melanjutkan terapi mereka dengan aman. Hal ini mencerminkan bahwa perhatian khusus harus diberikan terhadap kelompok rentan selama situasi darurat.
Upaya Kolaborasi Penanganan Krisis Insulin
Ketua Persatuan Diabetes Indonesia (PERSADIA), Dr. dr. K. Heri Nugroho, menyatakan bahwa banjir dan longsor menyebabkan pemutusan rantai distribusi obat, khususnya insulin. Kerusakan infrastruktur kesehatan dan akses terbatas menjadi tantangan utama.
Merespons kondisi ini, Novo Nordisk Indonesia bersama kementerian dan mitra terkait menyalurkan 13.700 pen insulin. Donasi tersebut didistribusikan untuk sekitar 500 pasien diabetes tipe 1 dan tipe 2 di daerah terdampak di Aceh, Sumut, dan Sumbar.
Mekanisme Distribusi dan Harapan Pemulihan
General Manager Novo Nordisk Indonesia, Sreerekha Sreenivasan, menjelaskan bahwa donasi akan disalurkan melalui mekanisme nasional yang dikoordinasikan Kementerian Kesehatan. Distribusi dimulai dari instalasi farmasi pusat hingga fasilitas kesehatan di daerah terdampak.
Kolaborasi antara pemerintah, organisasi profesi, dan sektor swasta ini diharapkan mampu mencegah krisis lanjutan. Terutama agar pasien diabetes, khususnya anak-anak, tidak kehilangan akses terhadap insulin yang krusial bagi kelangsungan hidup mereka.
Tantangan Berkelanjutan dalam Penanganan Pasca-Bencana
Krisis insulin pascabencana membuktikan bahwa masalah kesehatan kronis harus menjadi bagian utama dari respons bencana. Perlu penguatan sistem kesehatan agar tetap dapat melayani pasien dengan penyakit kronis di tengah kondisi darurat.
Langkah proaktif dan sinergi multipihak menjadi kunci menghadapi tantangan ini. Upaya penyediaan obat dan layanan kesehatan yang berkelanjutan sangat penting agar pasien diabetes dapat melanjutkan terapi tanpa gangguan serius.
Kondisi di Aceh dan Sumut menjadi alarm bagi pemerintah dan masyarakat untuk meningkatkan kesiapsiagaan kesehatan. Di masa depan, memastikan ketersediaan dan distribusi obat esensial seperti insulin harus diprioritaskan dalam rencana tanggap bencana nasional dan daerah.
Baca selengkapnya di: www.suara.com




