Krisis Kesehatan Gaza: Keterbatasan Akses Medis hingga Kekurangan Dana
Jalur Gaza kini menghadapi krisis kesehatan yang semakin memburuk akibat keterbatasan akses medis dan kekurangan dana. Lebih dari 18.500 pasien di wilayah ini membutuhkan perawatan khusus yang sulit didapatkan di tengah konflik berkepanjangan dan pembatasan perbatasan.
Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, mengonfirmasi adanya upaya evakuasi medis untuk lima pasien Gaza ke Mesir melalui penyeberangan Rafah yang baru dibuka kembali. Ini menjadi langkah pertama sejak Maret 2025, sebagai respons atas kebutuhan medis yang mendesak di wilayah terdampak.
Kebutuhan Mendesak untuk Penguatan Layanan Kesehatan
Menurut laporan Syrian Arab News Agency, Tedros menggarisbawahi perlunya penguatan fasilitas medis di Gaza, termasuk pengadaan peralatan dan upaya rehabilitasi. Hal ini penting untuk mengurangi ketergantungan pada evakuasi pasien ke luar wilayah setelah lebih dari dua tahun serangan dan pemblokiran Israel.
Selain itu, permintaan agar jalur rujukan medis ke Tepi Barat dan Yerusalem yang diduduki dibuka kembali guna mempercepat akses pasien ke perawatan yang dapat menyelamatkan jiwa, terus disuarakan oleh WHO. Penyeberangan Rafah yang baru dibuka ini memberikan jalur kemanusiaan penting meski masih dibatasi ketat.
Dampak Kekurangan Dana Global pada Penanganan Krisis
WHO juga menghadapi masalah pendanaan serius. Untuk krisis di Gaza dan 35 wilayah lain di dunia, organisasi ini membutuhkan dana sebesar US$ 1 miliar. Kebutuhan ini disebabkan oleh tingginya angka korban luka, wabah penyakit, dan kekurangan gizi, yang semakin memperparah risiko kesehatan masyarakat.
Direktur Program Kedaruratan Kesehatan WHO, Chikwe Ihekweazu, menyatakan sekitar 250 juta orang di dunia saat ini hidup dalam krisis kemanusiaan yang membatasi akses pada pelayanan kesehatan dasar dan kebutuhan hidup lainnya. Hal ini memperburuk kondisi kesehatan dan perawatan yang sangat dibutuhkan.
Krisis Pendanaan Makin Memburuk Setelah Penarikan AS
Krisis keuangan WHO bertambah parah setelah Amerika Serikat menarik pendanaannya. AS sebelumnya adalah donor terbesar dengan sekitar 18% kontribusi total. Pengurangan dana ini menyebabkan pemotongan posisi manajemen senior dan kegiatan organisasi.
Selain itu, organisasi bantuan PBB untuk pengungsi Palestina, UNRWA, menghadapi tantangan berat karena krisis pendanaan. Mereka terpaksa memangkas layanan kemanusiaan hingga 20%, termasuk pengurangan jam operasional sekolah dan klinik kesehatan.
Penurunan Layanan Kemanusiaan UNRWA
Komisaris Jenderal UNRWA, Philippe Lazzarini, mengungkapkan lembaganya mengalami defisit lebih dari US$ 200 juta, menyebabkan pengurangan layanan kritis. Misalnya, sekolah yang sebelumnya lima hari dalam sepekan kini hanya beroperasi empat hari, dan klinik kesehatan berkurang dari 40 jam menjadi 32 jam per minggu.
Lazzarini juga menegaskan bahwa pembukaan kembali penyeberangan Rafah masih sangat terbatas. Hanya 50 orang diperbolehkan melintas setiap harinya, dan mereka diminta berjalan kaki. Artinya, ini bukan jalur efektif untuk suplai obat dan kebutuhan medis.
Dampak Konflik dan Pembatasan Terhadap Kesehatan Masyarakat Gaza
Serangan militer Israel dan pembatasan perbatasan terus memperburuk kondisi kesehatan masyarakat Gaza. Meskipun gencatan senjata diumumkan sejak Oktober 2025, situasi di lapangan tetap tegang dan pasokan bantuan tidak memadai.
UNRWA telah menjadi tulang punggung bantuan kemanusiaan bagi sekitar 5,9 juta pengungsi Palestina selama lebih 75 tahun. Namun, fasilitasnya kerap menjadi sasaran serangan dan mengalami kerusakan berat sehingga bantuan tidak sampai secara maksimal kepada yang membutuhkan.
Hambatan Politik dan Keuangan Menghambat Upaya Kemanusiaan
Selain persoalan teknis dan logistik, faktor politik juga menghambat bantuan. Parlemen Israel melarang aktivitas UNRWA di Israel dan Yerusalem Timur sejak Oktober 2024 dengan alasan keamanan, mempengaruhi layanan bagi 2,5 juta pengungsi. Penurunan dukungan donor internasional juga memperparah situasi.
Para ahli mendesak negara-negara donor untuk mengubah dukungan politik menjadi kontribusi keuangan nyata. Tanpa pendanaan yang cukup, pengurangan layanan kemanusiaan akan berdampak serius pada kesehatan dan kehidupan warga Palestina di Gaza.
Penanganan krisis kesehatan di Gaza menuntut perhatian global yang lebih serius, termasuk pembukaan akses perbatasan dan peningkatan dana bantuan. Upaya kolektif dan berkelanjutan sangat penting untuk menyelamatkan nyawa serta memulihkan sistem kesehatan yang hancur.
Baca selengkapnya di: www.beritasatu.com




