Waspadai Aritmia: Fakta dan Cara Mencegah Gangguan Irama Jantung yang Umum Terjadi

Satu dari tiga orang di dunia memiliki risiko mengalami aritmia, yaitu gangguan irama jantung yang sering tidak disadari hingga menimbulkan komplikasi serius seperti stroke dan gagal jantung. Data ini menjadi dasar peringatan Pulse Day 2026 setiap 1 Maret, yang mengajak masyarakat aktif memeriksa denyut nadi secara mandiri untuk deteksi dini aritmia.

Gangguan irama jantung seringkali tidak menunjukkan gejala di tahap awal. Dr. dr. Dicky Armein Hanafy, Sp.JP, menegaskan bahwa deteksi dapat dilakukan melalui cara sederhana seperti MENARI, yaitu meraba nadi sendiri secara teratur.

Fibrilasi Atrial dan Dampaknya

Fibrilasi atrial (AF) merupakan jenis aritmia yang paling umum dan merupakan penyebab utama stroke yang dapat dicegah. Prof. Dr. dr. Yoga Yuniadi, Sp.JP, menjelaskan bahwa AF meningkatkan risiko stroke hingga lima kali lipat dan kematian dua kali lipat.

AF terjadi akibat banyaknya sumber listrik abnormal di serambi jantung, sehingga irama jantung menjadi tidak teratur dan kacau. Sebagian besar penderitanya tidak menyadari kondisi ini dan hanya terdiagnosis pada saat komplikasi sudah muncul.

Faktor Risiko dan Prevalensi di Indonesia

Hipertensi menjadi faktor risiko dominan yang memicu perubahan struktur serambi jantung (atrial miopati) dan terjadinya AF. Selain hipertensi, faktor lain seperti diabetes, infeksi demam rematik, genetika, dan usia juga berkontribusi.

Sekitar 60% pasien AF memiliki riwayat hipertensi, namun hanya sekitar 25% penderita hipertensi yang terdeteksi, dan dari jumlah itu kurang dari 25% yang kondisinya terkontrol dengan baik. Diperkirakan pada 2023, lebih dari 7 juta orang di Indonesia menderita AF dari total prevalensi 3,2%.

Gerakan MENARI sebagai Upaya Deteksi Dini

MENARI adalah metode sederhana dan efektif untuk pemeriksaan awal irama jantung mandiri. Dengan meletakkan jari telunjuk dan tengah di pergelangan tangan atau leher selama 30 detik, lalu mengalikan hasilnya dua kali, seseorang dapat mengetahui denyut jantungnya.

Denyut normal berkisar antara 60 hingga 100 kali per menit, tetapi hal yang paling penting adalah konsistensi iramanya. Denyut tidak teratur, terlalu cepat, atau terlalu lambat harus diwaspadai, terutama jika disertai gejala seperti pusing, sesak napas, nyeri dada, keringat dingin, atau kelemahan anggota gerak.

Pentingnya Pemeriksaan Lanjutan

Walau MENARI membantu mendeteksi potensi gangguan irama, diagnosis definitif harus melalui pemeriksaan medis seperti elektrokardiogram (EKG). Pemeriksaan ini krusial untuk menegakkan diagnosis dan menentukan langkah pengobatan yang tepat.

Secara ilmiah, manfaat deteksi dini terhadap pencegahan stroke sangat kuat. Meski bukti langsung bahwa kebiasaan meraba nadi menurunkan angka stroke masih terbatas, upaya ini tetap menjadi langkah awal yang penting dalam mengenali masalah kesehatan jantung.

Masyarakat dianjurkan untuk menjadikan pemeriksaan denyut nadi secara mandiri sebagai kebiasaan rutin. Langkah sederhana ini berpotensi menyelamatkan hidup dengan mencegah komplikasi fatal akibat aritmia yang tidak terdeteksi.

Baca selengkapnya di: lifestyle.bisnis.com

Berita Terkait

Back to top button