BPOM Prediksi Pertumbuhan Pesat Industri Kosmetik Capai Miliaran Rupiah dalam Waktu Dekat

Badan Pengawas Obat dan Makanan RI (BPOM) memproyeksikan industri kosmetik nasional akan mencapai nilai Rp158 triliun pada tahun 2026. Peningkatan ini dipicu oleh pertumbuhan permintaan pasar domestik yang terus meningkat dari tahun ke tahun.

Pada 2025, nilai industri kosmetik tercatat sekitar Rp138 triliun atau naik sekitar 4 sampai 4,7 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang senilai Rp110 triliun. Proyeksi ini disampaikan oleh Kepala BPOM, Prof. dr. Taruna Ikrar, M.Biomed., Ph.D., dalam konferensi pers Nosé Innovation Day di Jakarta Utara.

Pengawasan Ketat untuk Menjamin Keamanan dan Kualitas Produk

Prof. dr. Taruna Ikrar menegaskan bahwa pertumbuhan nilai industri harus dibarengi pengawasan ketat. BPOM memastikan aspek keamanan, efikasi, dan kualitas produk tidak diabaikan meski volume pasar terus meningkat. Menurutnya, "Badan POM tidak main-main, kami akan turun langsung" untuk mengontrol kualitas produk kosmetik.

Dalam pengawasan sebelumnya, ditemukan 41 produk yang melanggar aturan, dimana 16 di antaranya dicabut izin edar. Tindakan tegas ini diambil untuk melindungi produk legal dan menjaga nama baik industri kosmetik nasional. Langkah ini memperkuat komitmen BPOM dalam mencegah praktik tidak bertanggung jawab yang merugikan pelaku usaha yang mematuhi standar.

Potensi Besar Bahan Alam untuk Industri Kosmetik dan Obat Tradisional

Indonesia memiliki potensi sumber daya alam yang melimpah dengan sekitar 31 ribu spesies tanaman yang dapat dikembangkan untuk kosmetik dan obat tradisional. Saat ini, lebih dari 20 ribu nomor izin edar produk herbal telah ada, baik untuk pemakaian luar maupun konsumsi. Meski begitu, produk yang berbasis riset ilmiah masih sangat sedikit, hanya sekitar 71 sampai 90 produk, atau kurang dari 1 persen dari total izin edar.

Penggunaan produk herbal yang selama ini diwariskan secara turun-temurun dianggap aman secara tradisional, tapi untuk naik kelas menjadi obat herbal terstandar diperlukan riset laboratorium hingga uji klinis. BPOM mendukung pendirian pusat inovasi yang dapat mempercepat pengembangan produk berbasis riset, dengan target peningkatan porsi produk riset ilmiah mencapai 10 hingga 20 persen di masa mendatang.

Kolaborasi dan Inovasi Dorong Perkembangan Industri Kosmetik

PT Nosé Herbal Indo sebagai perusahaan manufaktur kosmetik lokal memainkan peran aktif dalam mendukung kemajuan industri ini. Vice-CEO PT Nosé, Sri Rahayu Widya Ningrum, menyatakan perlu adanya inovasi berkelanjutan dan kepatuhan ketat pada regulasi untuk mendorong pertumbuhan industri kosmetik dan wellness di Indonesia.

Selama lebih dari enam tahun, Nosé memfokuskan kolaborasi dengan universitas dan pemerintah dalam riset ingredient lokal untuk menghasilkan produk kosmetik unggulan. Perusahaan ini juga meluncurkan Nosé Innovation Center sebagai pusat kolaborasi Academic, Business, and Government (ABG) untuk mendorong inovasi dan kepatuhan regulasi dalam industri kosmetik.

Nosé Innovation Day menjadi momentum strategis memperkuat sinergi lintas sektor. Dengan dukungan BPOM dan stakeholders lain, inisiatif ini berperan sebagai katalis yang memperkuat daya saing industri kosmetik nasional berbasis inovasi lokal serta standar mutu tinggi.

Pertumbuhan industri kosmetik Indonesia yang diprediksi mencapai Rp158 triliun pada 2026 menunjukkan optimisme pasar domestik yang kuat. Aspek pengawasan ketat dan sinergi inovasi berbasis riset menjadi kunci agar industri kosmetik lokal tidak hanya berkembang pesat tapi juga mampu bersaing di tingkat global.

Baca selengkapnya di: lifestyle.bisnis.com

Berita Terkait

Back to top button