Kementerian Kesehatan Malaysia melaporkan bahwa hingga minggu kedua Februari 2026, jumlah kasus tuberkulosis (TBC) mencapai 3.161 di seluruh negeri. Dalam satu minggu terakhir saja, ditemukan 596 kasus baru yang tersebar di berbagai wilayah, menandakan tren peningkatan yang perlu mendapat perhatian serius.
Kondisi ini terutama mengkhawatirkan menjelang Ramadan, di mana mobilitas warga meningkat dan interaksi sosial di tempat ramai menjadi lebih sering. Kementerian mengingatkan risiko penularan TBC lebih tinggi di ruang tertutup dan berventilasi buruk, sehingga masyarakat diimbau memakai masker saat beraktivitas di lokasi tersebut.
Penyebaran TBC di Wilayah Malaysia
Data resmi menunjukkan bahwa Sabah menjadi daerah dengan kasus TBC terbanyak, mencapai 755 kasus. Berikut rincian kasus menurut wilayah:
- Sabah: 755 kasus
- Selangor: 596 kasus
- Sarawak: 332 kasus
- Johor: 280 kasus
- Kuala Lumpur dan Putrajaya: 244 kasus
- Kedah: 181 kasus
- Penang: 172 kasus
- Perak: 154 kasus
- Kelantan: 121 kasus
- Pahang: 103 kasus
- Terengganu: 74 kasus
- Negeri Sembilan: 62 kasus
- Melaka: 48 kasus
- Perlis: 21 kasus
- Labuan: 18 kasus
Sebaran ini mencerminkan penyebaran TBC yang meluas dan menuntut perhatian ekstra di daerah dengan jumlah kasus tinggi.
Upaya Pencegahan dan Edukasi Masyarakat
Kementerian Kesehatan menekankan pentingnya kesadaran dan upaya proaktif untuk mencegah penyebaran TBC. Penularan TBC tidak terjadi secara cepat seperti influenza atau Covid-19, melainkan membutuhkan paparan cukup lama dan berulang dengan orang yang terinfeksi aktif. Oleh sebab itu, langkah pencegahan yang dapat dilakukan meliputi:
- Mempraktikkan etika batuk dan bersin yang benar
- Menjaga ventilasi ruangan tetap baik dan terbuka
- Memakai masker terutama saat berada di tempat ramai atau bergejala
- Segera melakukan pemeriksaan medis bila mengalami batuk lebih dari dua minggu atau gejala lain TBC
Secara khusus selama Ramadan, meskipun bulan suci itu sendiri bukan pemicu penularan TBC, meningkatnya frekuensi interaksi sosial berpotensi memperbesar risiko.
Pandangan Ahli Mengenai Risiko Terhadap Wisatawan
Profesor Hsu Li Yang dari Sekolah Kesehatan Masyarakat NUS Saw Swee Hock menjelaskan bahwa tidak semua orang yang terpapar TBC akan jatuh sakit. Kebanyakan hanya membawa bakteri tanpa perkembangan penyakit aktif. Ia menyarankan agar masyarakat waspada dan proaktif berkonsultasi dokter bila mengalami gejala klasik TBC seperti demam, berat badan turun, dan keringat malam.
Untuk wisatawan, Hsu mengimbau tidak perlu menunda kunjungan ke Malaysia tapi tetap harus mematuhi protokol kesehatan. Memakai masker di tempat ramai sangat disarankan guna mengurangi risiko tertular.
Kelompok Rentan dan Rekomendasi Kesehatan
Beberapa kelompok orang memiliki risiko lebih tinggi terhadap TBC, antara lain:
- Anak-anak usia di bawah lima tahun
- Lansia
- Penderita HIV, diabetes, dan penyakit lain yang menurunkan imunitas
- Pengguna zat yang melemahkan sistem kekebalan tubuh
Mereka yang termasuk kelompok ini sebaiknya mengevaluasi kembali kebutuhan perjalanan ke daerah berisiko. Pastikan melakukan konsultasi medis untuk perlindungan yang optimal.
Meningkatnya kasus TBC di Malaysia menggarisbawahi pentingnya tindakan pencegahan dan perlindungan diri. Masyarakat umum diimbau menjaga kesehatan, memakai masker di tempat ramai, dan segera memeriksakan diri bila mengalami gejala mencurigakan. Pandemi TBC memerlukan ketegasan penanganan agar tidak meluas dan mengancam kesehatan populasi.
Baca selengkapnya di: lifestyle.bisnis.com




