Kementerian Kesehatan menegaskan bahwa imunisasi lengkap campak dan rubella (MR) menjadi kunci utama dalam mencegah kejadian luar biasa (KLB) campak di Indonesia. Campak, yang disebabkan oleh virus Morbillivirus, menular dengan sangat cepat melalui droplet dan udara sehingga penularannya dapat terjadi hanya dengan bersin atau batuk dari penderita.
dr. Andi Saguni, Sekretaris Dirjen Penanggulangan Penyakit Kemenkes, menjelaskan bahwa virus campak dapat menempel di permukaan benda dan berpindah ke tangan orang sehat lalu memasuki tubuh melalui hidung atau makanan. Oleh karena itu, kebiasaan cuci tangan dan menjaga kebersihan sangat penting untuk mengurangi risiko penularan campak.
Gejala, Masa Inkubasi, dan Diagnosa Campak
Gejala campak utama ditandai dengan demam dan munculnya ruam makulopapular di kulit. Selain itu, penderita bisa mengalami batuk, pilek, mata merah (konjungtivitis), rasa gatal, dan terkadang diare. Masa inkubasi virus ini umumnya berkisar 7 sampai 18 hari, dengan rata-rata 10 hari. Pemeriksaan laboratorium dengan metode ELISA IgM digunakan untuk memastikan diagnosis campak.
Data Kasus Campak dan KLB di Indonesia
Pada tahun 2025, Kementerian Kesehatan mencatat 116 KLB campak dengan 11.094 konfirmasi laboratorium dan 69 kasus kematian dengan tingkat kematian (CFR) 0,1%. Provinsi dengan KLB terbanyak adalah Jawa Timur, Banten, Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Aceh. Data awal tahun 2026 menunjukkan tren yang menurun dengan 21 KLB suspek dan 13 KLB konfirmasi laboratorium serta 4 kematian yang tercatat.
Strategi Pencegahan dan Pengendalian Campak
Pemerintah menekankan pentingnya penguatan surveilans dan respons cepat untuk mengendalikan penyebaran campak. Langkah-langkah yang dilakukan meliputi:
- Meningkatkan pengawasan di wilayah rawan KLB.
- Melakukan penyelidikan epidemiologi dalam waktu 24 jam setelah ditemukan kasus.
- Pelaporan real-time menggunakan Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKDR).
- Penguatan 11 laboratorium rujukan untuk pemeriksaan virus dengan metode ELISA dan PCR.
Selain itu, pemerintah juga mempercepat cakupan imunisasi MR sebagai upaya meningkatkan kekebalan kelompok (herd immunity). Program imunisasi yang dijalankan meliputi imunisasi rutin, imunisasi kejar di daerah dengan cakupan rendah, serta imunisasi tambahan MR di daerah yang terkena KLB sebagai program percepatan.
Peran Masyarakat dan Langkah Pencegahan
Kemenkes juga mengingatkan peran aktif masyarakat terutama orang tua dalam menjaga anak-anak dari penyakit campak. Beberapa langkah pencegahan yang penting dilakukan di antaranya:
- Isolasi penderita hingga sembuh dan menahan diri untuk tidak beraktivitas di tempat umum.
- Menggunakan masker saat sakit dan berada di tempat keramaian.
- Menerapkan etika batuk dengan benar dan rajin mencuci tangan dengan sabun.
- Segera membawa anak ke fasilitas kesehatan saat mengalami demam disertai ruam merah.
Dr. Andi mengimbau orang tua untuk memastikan anak mendapatkan imunisasi MR lengkap dan aktif ikut kampanye imunisasi di wilayah masing-masing. Imunisasi tidak hanya melindungi anak secara individual, tetapi juga memperkuat perlindungan kelompok agar risiko terjadinya KLB campak dapat ditekan secara signifikan.
Pemantauan kasus campak secara global dan regional tetap berlangsung. Indonesia bersama negara-negara lain di Kawasan Western Pacific masih menghadapi ancaman penularan, sehingga langkah pengendalian yang terpadu antara pemerintah dan masyarakat sangat dibutuhkan. Imunisasi MR lengkap terbukti menjadi benteng utama dalam meredam penyebaran penyakit ini.
Baca selengkapnya di: lifestyle.bisnis.com