Pencemaran Sungai Cisadane Picu Risiko Kanker, Peneliti BRIN Beri Peringatan Penting

Para peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memperingatkan bahwa pencemaran Sungai Cisadane bukan sekadar masalah estetika. Kontaminasi zat kimia berbahaya dapat menimbulkan risiko kesehatan kronis pada masyarakat di sekitar sungai.

Ignasius Sutapa dari Pusat Riset Limnologi dan Sumber Daya Air BRIN menjelaskan bahwa racun yang mengendap dalam sedimen sungai dapat terlepas kembali ke air. Kondisi ini meningkatkan risiko paparan bagi manusia melalui aktivitas sehari-hari, seperti mandi, mencuci, dan terutama konsumsi ikan yang tercemar.

Bioakumulasi dan Biomagnifikasi dalam Ekosistem Sungai

Ketika zat kimia berbahaya masuk ke sungai, mereka menyerap dan menumpuk dalam jaringan organisme air, terutama ikan. Proses ini dikenal sebagai bioakumulasi. Selanjutnya, biomagnifikasi terjadi ketika racun tersebut berpindah dan terkonsentrasi pada predator yang lebih tinggi, termasuk manusia yang mengonsumsi ikan.

Studi BRIN menunjukkan bahwa bahkan jika air sungai tampak jernih kembali, residu kimia tetap berisiko tersembunyi di dasar sungai. Racun di sedimen dapat terlepas kapan saja jika terjadi perubahan lingkungan, seperti arus deras atau aktivitas manusia.

Jalur Paparan dan Risiko Kesehatan pada Manusia

Masyarakat yang tinggal di daerah terdampak berpotensi terpapar zat berbahaya melalui beberapa cara berikut:

  1. Kontak langsung dengan air yang tercemar saat mandi atau mencuci.
  2. Konsumsi air baku yang tidak diolah secara sempurna.
  3. Mengonsumsi ikan atau hasil perikanan yang mengandung residu kimia.

Paparan ini membawa dampak medis serius yang dapat muncul secara akut maupun kronis.

Dampak Medis Akut dan Kronis

Pestisida neurotoksik yang ditemukan di Sungai Cisadane dapat menyebabkan gejala akut seperti mual, pusing hebat, gangguan sistem saraf, hingga kematian mendadak pada dosis tinggi. Di sisi lain, paparan lama yang berlangsung kronis punya risiko lebih berat, termasuk:

  • Kerusakan organ dalam seperti hati dan ginjal.
  • Gangguan sistem hormonal yang mengacaukan fungsi tubuh.
  • Potensi sifat karsinogenik yang dapat memicu kanker.

Peneliti BRIN menegaskan pentingnya tindakan cepat untuk menghindari risiko kesehatan yang lebih luas di masyarakat.

Rekomendasi Penanganan dan Pencegahan dari BRIN

Sebagai langkah darurat, BRIN menyarankan untuk menutup sementara pintu masuk air baku PDAM di daerah terdampak. Pemantauan kualitas air secara real-time juga dianggap sangat vital supaya tindakan penanganan bisa dilakukan segera ketika terjadi peningkatan kontaminan.

Selain itu, edukasi masif kepada warga sangat diperlukan agar mereka menghindari penggunaan air sungai hingga status keamanan dinyatakan aman oleh otoritas. Upaya lanjutan yang diusulkan mencakup tiga strategi utama:

  1. Penegakan hukum yang ketat terhadap pelaku pembuangan limbah bahan berbahaya dan beracun (B3).
  2. Pengembangan teknologi sensor online sebagai sistem peringatan dini kualitas air.
  3. Rehabilitasi zona riparian untuk mendukung kemampuan alami sungai dalam menetralisir polutan.

Ignasius Sutapa mengimbau masyarakat untuk tetap waspada namun tidak panik. Warga disarankan untuk tidak mengonsumsi ikan dari area terdampak dan mengikuti instruksi resmi pemerintah dan PDAM demi menjaga keselamatan bersama.

Informasi dari penelitian BRIN ini menegaskan perlunya perhatian serius terhadap pencemaran sungai yang dapat mengancam kesehatan publik jangka panjang. Upaya pencegahan dan pemulihan harus dilakukan secara terpadu agar Sungai Cisadane dapat kembali berfungsi sebagai sumber kehidupan yang aman dan lestari.

Baca selengkapnya di: www.suara.com

Berita Terkait

Back to top button