Generasi Alpha, yang lahir antara tahun 2010 hingga 2025, kini dikenal dengan julukan “generasi asbun” karena perilaku ceplas-ceplos mereka yang kerap viral di media sosial. Fenomena ini menarik perhatian para ahli, termasuk Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK, FRSPH, yang menilai bahwa perilaku asbun tidak bisa dilepaskan dari pola gizi dan kesehatan mental mereka.
Menurut Dr. Ray, generasi Alpha mendapatkan asupan gizi mikro yang lebih baik dibandingkan generasi sebelumnya. Hal ini berkat akses pangan yang semakin beragam dan konsep mindful eating, yaitu makan dengan penuh kesadaran. Mindful eating menekankan pentingnya asupan zat gizi mikro seperti vitamin A, C, E, mineral, dan zat besi yang berperan krusial dalam fungsi kognitif anak.
Dokter Spesialis Gizi, dr. Juwalita Surapsari, M.Gizi, Sp.GK, menambahkan bahwa kenyang saja tidak cukup untuk pertumbuhan optimal. Nutrisi makro dan mikro harus seimbang agar anak dapat tumbuh tinggi dan cepat tanggap. Ia juga menegaskan bahwa proses pemberian makan harus tanpa paksaan, karena anak yang menentukan seberapa banyak mereka makan.
Selain faktor gizi, aspek kesehatan mental juga berkontribusi pada perilaku gen Alpha. Gen Alpha dan Gen Z dikenal lebih kritis serta mempunyai kecenderungan mengeluarkan kalimat asbun sebagai bentuk ekspresi. Dr. Ray menjelaskan bahwa perilaku ini dipengaruhi oleh kesejahteraan mental dan literasi orang tua yang semakin baik tentang konsep well-being dan mindful eating.
Peran teknologi digital dan media sosial juga sangat besar dalam membentuk cara berkomunikasi gen Alpha. Anak-anak ini mudah mengakses berbagai informasi dari seluruh dunia melalui gadget. Mereka sering membandingkan gaya komunikasi dengan teman sebaya di negara lain, sehingga kata-kata ceplas-ceplos menjadi lebih sering terdengar.
Dr. Ray mengingatkan pentingnya peran orang tua dalam mengimbangi literasi digital anak-anak mereka. Orang tua diharapkan lebih aktif di media sosial agar jarak komunikasi dengan anak-anak tidak melebar. Komunikasi yang terbuka dapat membantu memahami bahwa kalimat ceplas-ceplos sebenarnya seringkali merupakan refleksi frustrasi anak, bukan hanya sekadar ungkapan rasa syukur.
Fokus pada gizi seimbang yang mengutamakan zat mikro serta dukungan kesehatan mental yang kuat, menjadi kunci agar generasi Alpha mampu tumbuh optimal. Dengan dukungan literasi digital, interaksi antara orang tua dan anak dapat tetap lancar, mendukung perkembangan kognitif dan emosional anak di era informasi yang sangat cepat ini.





