Rendahnya cakupan imunisasi menjadi faktor utama lonjakan kasus campak di Indonesia. Meski imunisasi disediakan gratis, pelaksanaan di lapangan masih menghadapi berbagai kendala yang menghambat pencapaian kekebalan kelompok.
Ketua Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), DR Dr Piprim Basarah Yanuarso, menegaskan bahwa campak termasuk penyakit yang sangat menular dan dapat dicegah melalui imunisasi. "Jika cakupan imunisasi turun sampai 60 persen saja, kasus luar biasa akan muncul di berbagai wilayah," ujarnya.
Kendala Pelaksanaan Imunisasi
Beberapa penyebab rendahnya cakupan imunisasi di antaranya keterbatasan akses layanan kesehatan. Selain itu, gangguan pada rantai dingin (cold chain) sering membuat vaksin menjadi rusak sehingga tidak efektif digunakan.
Selain masalah teknis, masih ada penolakan dari masyarakat terhadap vaksin. Penolakan ini sering dipicu oleh informasi salah atau hoaks yang beredar luas, sehingga menimbulkan keragu-raguan untuk melakukan imunisasi.
Dampak Serius Campak pada Kesehatan Anak
Campak tidak boleh dipandang sebagai penyakit ringan. Menurut IDAI, virus campak berisiko menimbulkan komplikasi berat seperti radang paru-paru, radang otak, hingga kebutaan. Penularannya bahkan lebih tinggi dibandingkan penyakit Covid-19.
Penanganan yang terlambat atau tidak tepat bisa menyebabkan kematian. DR Dr Piprim mengingatkan pentingnya mengenali tanda bahaya campak seperti pneumonia dan sesak napas agar segera memperoleh perawatan medis.
Peran Layanan Kesehatan Primer dan Dukungan Gizi
IDAI menekankan perlunya penguatan layanan kesehatan primer dalam meningkatkan cakupan imunisasi secara merata. Keterlibatan semua pihak, mulai dari petugas kesehatan hingga masyarakat, sangat dibutuhkan untuk mencegah penularan campak.
Selain imunisasi, perbaikan status gizi anak juga menjadi perhatian penting. Asupan protein hewani dan nutrisi seimbang diyakini dapat meningkatkan daya tahan tubuh anak terhadap penyakit termasuk campak.
Langkah Pencegahan yang Disarankan
- Memastikan semua anak memperoleh imunisasi campak secara lengkap dan tepat waktu.
- Memperbaiki distribusi dan penyimpanan vaksin agar tidak rusak.
- Mengedukasi masyarakat untuk melawan hoaks dan meningkatkan kesadaran pentingnya vaksinasi.
- Meningkatkan deteksi dini dengan mengenali gejala campak dan segera melapor ke fasilitas kesehatan.
- Mendorong perbaikan gizi guna memperkuat kekebalan tubuh anak.
Kasus campak yang meningkat menjadi peringatan serius bahwa imunisasi harus terus diperkuat. Ketidaktercukupan cakupan imunisasi tidak hanya berpotensi memicu wabah besar, tetapi juga mengancam keselamatan anak-anak di Indonesia. Penanganan terpadu dengan fokus pada imunisasi, gizi, dan edukasi masyarakat sangat penting untuk mengendalikan penularan campak secara efektif.





