Pilihan Terapi Efektif untuk Mengatasi Anemia pada Pasien Penyakit Ginjal Kronis

Penyakit ginjal kronik (PGK) menjadi tantangan kesehatan yang terus meningkat di Indonesia. Banyak pasien PGK mengalami anemia sebagai komplikasi yang memperburuk kondisi kesehatan mereka.

Anemia pada pasien PGK terjadi akibat berkurangnya produksi hormon eritropoietin (EPO) oleh ginjal yang rusak. EPO berfungsi merangsang sumsum tulang untuk memproduksi sel darah merah. Kekurangan hormon ini menyebabkan kadar hemoglobin menurun sehingga pasokan oksigen ke jaringan tubuh menjadi terganggu.

Peran Terapi Eritropoietin (EPO) dalam Penanganan Anemia PGK

Terapi menggunakan agen perangsang eritropoiesis (ESA) menjadi pilihan utama dalam mengatasi anemia pada pasien PGK. ESA berupa epoetin, darbepoetin, atau metoksi polietilen glikol-epoetin β yang diproduksi secara rekombinan. Terapi ESA membantu meningkatkan produksi sel darah merah sehingga kadar hemoglobin dapat kembali normal atau mendekati normal.

Menurut FDA, pengawasan ketat terhadap penggunaan EPO perlu dilakukan karena risiko efek samping yang mungkin muncul. Namun, bagi pasien dialisis, terapi EPO tetap menjadi standar untuk mengurangi kebutuhan transfusi darah yang memiliki risiko komplikasi tersendiri.

Target Kadar Hemoglobin pada Pasien PGK

Kadar hemoglobin normal pada wanita sehat berkisar 12,1 hingga 15,1 g/dL dan pria 13,8 hingga 17,2 g/dL. Pada pasien PGK yang menjalani dialisis, target hemoglobin sengaja diturunkan menjadi sekitar 12 g/dL atau sedikit lebih tinggi. Hal ini bertujuan mencegah risiko kejadian kardiovaskular yang dapat meningkat bila kadar hemoglobin terlalu tinggi.

Kondisi anemia yang sangat berat sering kali membutuhkan transfusi darah. Namun, terapi EPO, jika diberikan secara tepat, dapat meminimalkan frekuensi transfusi sehingga mengurangi risiko reaksi transfusi dan penumpukan zat besi yang merugikan.

Tantangan Akses dan Ketersediaan Terapi Anemia di Indonesia

Akses layanan kesehatan dan ketersediaan obat merupakan kendala utama dalam penanganan anemia pada pasien PGK. Banyak pasien baru terdiagnosis pada stadium lanjut sehingga penanganan menjadi lebih kompleks dan memerlukan terapi jangka panjang.

Di Indonesia, upaya meningkatkan akses terapi ini mulai dibarengi dengan produksi lokal agen EPO. PT Etana Biotechnologies Indonesia menghadirkan produk Renogen sebagai bentuk dukungan terhadap perawatan anemia PGK. Produk ini diproduksi sesuai standar medis nasional dan diharapkan dapat menjangkau lebih banyak pasien dengan biaya lebih terjangkau.

Kolaborasi untuk Meningkatkan Kualitas Penanganan PGK

Dr. dr. Pringgodigdo Nugroho, Sp.PD-KGH, Ketua Umum PB PERNEFRI, menegaskan pentingnya deteksi dini dalam menekan progresivitas PGK. Menurutnya, mayoritas pasien yang terdiagnosis terlambat mengalami keterbatasan peluang untuk mencegah kerusakan ginjal bertambah parah.

Kolaborasi antara komunitas medis, industri farmasi, dan para pemangku kepentingan menjadi kunci untuk memperluas akses terapi anemia. Roy Priadi dari Etana menyatakan bahwa dukungan ekosistem kesehatan yang kuat akan mendukung keberlanjutan dan kualitas hidup pasien.

Langkah-Langkah Dalam Terapi Anemia pada Pasien PGK

  1. Diagnosis anemia melalui pengukuran kadar hemoglobin secara berkala.
  2. Penentuan dosis dan jenis agen perangsang eritropoiesis sesuai kondisi pasien.
  3. Monitoring rutin untuk menilai respons terapi dan efek samping.
  4. Penyesuaian dosis jika kadar hemoglobin terlalu tinggi atau rendah.
  5. Edukasi pasien mengenai pentingnya kepatuhan terhadap terapi.

Produksi lokal agen EPO seperti Renogen diharapkan dapat mengatasi tantangan ketersediaan obat sekaligus mendukung kemandirian industri farmasi nasional. Dengan demikian, diharapkan penanganan anemia pada pasien PGK dapat lebih optimal dan berkelanjutan.

Upaya seperti ini sejalan dengan strategi peningkatan kualitas layanan kesehatan ginjal dan diharapkan mampu mengurangi beban pembiayaan nasional akibat komplikasi anemia pada pasien PGK.

Baca selengkapnya di: lifestyle.bisnis.com
Exit mobile version