Banyak orang merasa sulit benar-benar lepas dari mantan meski hubungan sudah lama berakhir. Dalam psikologi, kondisi ini sering dikaitkan dengan efek Zeigarnik, yaitu kecenderungan otak mengingat sesuatu yang belum selesai atau belum tuntas dengan lebih kuat.
Fenomena ini membuat seseorang terus memutar ulang kenangan lama, terutama saat melihat foto lama, mendengar lagu tertentu, atau saat hidup terasa kurang memuaskan. Pada titik tertentu, yang dirindukan bukan hanya orangnya, tetapi juga versi hubungan yang sudah “diperhalus” oleh ingatan.
Apa itu efek Zeigarnik
Efek Zeigarnik pertama kali diperkenalkan lewat studi psikologi tentang tugas yang belum selesai. Intinya, otak manusia lebih mudah menempel pada hal yang menggantung dibanding urusan yang sudah tuntas.
Dalam konteks hubungan asmara, perpisahan yang tidak jelas bisa meninggalkan ruang kosong di kepala. Ruang kosong itu lalu diisi oleh dugaan, “seandainya”, dan skenario alternatif yang terasa lebih indah dari kenyataan.
Profesor Madya Alicia M Walker dari Missouri State University, AS, menjelaskan bahwa banyak orang kerap mengenang “jalan yang tidak pernah dipilih” dan merasa sedih atas kebahagiaan yang nyaris didapat. Pola pikir seperti ini membuat mantan tampak lebih istimewa daripada situasi sebenarnya.
Kenapa mantan terlihat lebih baik di kepala
Otak tidak menyimpan memori seperti kamera yang merekam semuanya secara utuh. Setiap kali sebuah kenangan dipanggil kembali, otak cenderung menyunting detailnya dan memberi bobot lebih besar pada momen yang menyenangkan.
Di sisi lain, ada bias efek memudar, yaitu kecenderungan kenangan buruk memudar lebih cepat dibanding kenangan manis. Akibatnya, hubungan yang dulu penuh konflik bisa terasa romantis setelah waktu berlalu.
Kondisi ini makin kuat ketika seseorang sedang kesepian, stres, atau tidak puas dengan hubungan dan hidupnya saat ini. Dalam situasi seperti itu, mantan bisa menjadi tempat berlindung secara emosional karena terasa akrab dan aman.
Mengapa closure sangat penting
Perpisahan yang tidak memberi penjelasan jelas sering membuat otak sulit berhenti mencari jawaban. Tanpa closure, seseorang bisa terus bertanya apa yang salah, siapa yang keliru, dan apakah hubungan itu masih bisa diselamatkan.
Psikolog menyebut otak akan mencoba menutup celah itu sendiri dengan membuat versi cerita yang paling bisa diterima. Masalahnya, versi itu sering bukan fakta, melainkan hasil rekonstruksi emosi yang sudah bercampur dengan penyesalan.
Kondisi ini juga menjelaskan mengapa lagu lama, notifikasi media sosial, atau obrolan tertentu bisa memicu gelombang nostalgia mendadak. Pemicu kecil seperti itu cukup untuk menghidupkan kembali narasi yang belum benar-benar selesai di pikiran.
Tiga langkah untuk berhenti terjebak pada mantan
-
Tantang ingatan yang terlalu manis.
Tuliskan alasan nyata mengapa hubungan itu berakhir dan apa saja masalah yang dulu muncul. Cara ini membantu menyeimbangkan ingatan agar tidak hanya berisi momen indah. -
Beri ruang untuk emosi yang belum selesai.
Tulis surat yang tidak perlu dikirim untuk mengungkapkan rasa kecewa, marah, atau sedih yang masih tertahan. Langkah ini membantu otak memproses emosi tanpa harus kembali ke hubungan lama. - Evaluasi hidup saat ini dengan jujur.
Nostalgia sering menguat saat seseorang tidak puas dengan keadaan sekarang. Jika hidup saat ini lebih penuh tekanan, otak lebih mudah menganggap masa lalu sebagai tempat yang lebih nyaman.
Saat nostalgia berubah jadi jebakan
Nostalgia sebenarnya tidak selalu buruk karena bisa membantu seseorang memahami perjalanan hidupnya. Namun, nostalgia menjadi masalah ketika menghapus realitas dan membuat seseorang terus membandingkan masa kini dengan masa lalu yang sudah dimodifikasi ingatan.
Dalam fase ini, yang perlu diwaspadai bukan hanya rasa rindu, tetapi juga kebiasaan mengidealkan orang yang sudah pergi. Mantan bisa berubah menjadi simbol dari harapan yang belum selesai, bukan lagi sosok nyata dengan kelebihan dan kekurangannya.
Itulah sebabnya banyak pakar menilai move on tidak cukup hanya dengan menghapus kontak atau berhenti melihat media sosial. Yang lebih penting adalah menata ulang cara otak membaca masa lalu agar hubungan yang sudah selesai tidak terus hidup sebagai cerita yang belum tuntas.
Baca selengkapnya di: www.beritasatu.com




