Kepemimpinan Perempuan Jadi Kunci Kesehatan Ibu Dan Anak, Rahasia Di Balik Perubahan Di Indonesia

Kesehatan ibu dan anak di Indonesia sangat dipengaruhi oleh siapa yang memegang ruang keputusan di rumah, komunitas, dan lembaga pelayanan publik. Ketika perempuan ikut memimpin, kualitas akses layanan, pencegahan risiko, dan perlindungan sosial cenderung bergerak lebih cepat karena kebutuhan ibu dan anak lebih mudah masuk ke dalam agenda kebijakan.

Data terbaru menunjukkan momentum itu mulai terbentuk, meski tantangannya masih besar. Laporan Global Gender Gap Report 2025 menempatkan Indonesia di peringkat 97 dunia, naik tiga posisi dari tahun sebelumnya, dengan skor kesetaraan gender meningkat dari 68,6 persen menjadi 69,2 persen.

Kepemimpinan perempuan makin terlihat di ruang pengambilan keputusan

Salah satu perubahan paling penting terlihat pada keterwakilan perempuan di posisi kepemimpinan. Pada kategori legislator, pejabat senior, dan manajer, proporsi perempuan naik dari 20,5 persen pada 2006 menjadi 49,4 persen pada 2025.

Angka ini penting karena kebijakan kesehatan tidak lahir di ruang hampa. Saat lebih banyak perempuan duduk di posisi strategis, isu seperti layanan antenatal, persalinan aman, pencegahan perkawinan anak, dan perlindungan dari kekerasan lebih mudah mendapat perhatian.

Dalam forum Hari Perempuan Internasional bertema “Rights. Justice. Action. Dari Hak Menuju Aksi untuk Semua Perempuan dan Anak Perempuan”, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Arifah Fauzi menegaskan bahwa kemajuan perempuan harus dimulai dari pemenuhan hak dasar. Ia menekankan bahwa kesetaraan gender berarti perempuan dan laki-laki memiliki hak, kesempatan, akses, dan partisipasi yang setara terhadap sumber daya dan manfaat pembangunan.

Mengapa kepemimpinan perempuan berdampak langsung ke kesehatan ibu dan anak

Perempuan sering menjadi pengambil keputusan utama dalam keluarga, terutama saat memilih tempat bersalin, mencari layanan pemeriksaan kehamilan, dan menentukan pola pengasuhan anak. Karena itu, kepemimpinan perempuan di tingkat komunitas sering menjadi penghubung antara kebijakan kesehatan dan praktik di lapangan.

Pendiri sekaligus Ketua Farid Nila Moeloek Society, Nila Moeloek, menekankan bahwa perempuan tidak cukup diposisikan hanya sebagai penerima manfaat program kesehatan. Ia menilai perempuan justru kerap menjadi motor penggerak perubahan perilaku hidup sehat di keluarga dan lingkungan sekitar.

Menurut Nila, kepemimpinan perempuan di komunitas sangat menentukan keberhasilan pencegahan penyakit dan peningkatan kesehatan masyarakat. Pandangan ini relevan dengan pendekatan kesehatan publik yang menempatkan pencegahan sebagai langkah paling hemat biaya dan paling efektif untuk menekan risiko kematian ibu dan bayi.

1. Persalinan di fasilitas kesehatan masih perlu diperluas

World Health Organization melalui Global Health Observatory mencatat sekitar 63,2 persen persalinan di Indonesia berlangsung di fasilitas kesehatan. Capaian ini menunjukkan perbaikan akses, tetapi juga menandakan masih ada jutaan perempuan yang belum sepenuhnya terlindungi oleh layanan persalinan yang aman.

Persalinan di fasilitas kesehatan penting karena tenaga medis bisa mendeteksi komplikasi lebih cepat. Dengan kepemimpinan perempuan yang kuat di tingkat lokal, edukasi tentang pentingnya persalinan aman biasanya lebih mudah diterima oleh keluarga dan tetangga.

2. Antenatal care sudah tinggi, tetapi kualitas pendampingan tetap krusial

Data yang sama menunjukkan sekitar 90,6 persen perempuan menerima layanan pemeriksaan kehamilan minimal empat kali selama masa kehamilan. Ini adalah indikator positif karena kunjungan antenatal membantu tenaga kesehatan memantau kondisi ibu dan janin sejak dini.

Namun, angka kunjungan saja belum cukup jika informasi kesehatan tidak dipahami dengan baik. Di sinilah peran perempuan pemimpin komunitas menjadi penting untuk menjembatani pengetahuan medis dengan kebiasaan sehari-hari, termasuk gizi, tanda bahaya kehamilan, dan kesiapan rujukan.

3. Perkawinan anak masih mengancam kesehatan reproduksi

Badan Pusat Statistik mencatat sekitar 5,9 persen perempuan usia 20–24 tahun pernah menikah atau hidup bersama sebelum usia 18 tahun pada 2024. Praktik ini berisiko menekan kesempatan pendidikan, membatasi kemandirian ekonomi, dan meningkatkan kerentanan kesehatan reproduksi.

Perkawinan usia anak juga sering berkaitan dengan kehamilan yang terlalu dini. Dalam konteks ini, kepemimpinan perempuan dibutuhkan untuk mendorong pencegahan berbasis keluarga, sekolah, dan komunitas agar anak perempuan tidak kehilangan kesempatan tumbuh sehat dan aman.

Aksi lintas sektor jadi penentu

Forum yang digelar Farid Nila Moeloek Society bersama Takeda Pharmaceuticals memperlihatkan bahwa isu kesehatan perempuan tidak bisa ditangani sendirian oleh pemerintah. Forum itu menghadirkan pemerintah, akademisi, organisasi masyarakat sipil, dan sektor swasta untuk membahas peran perempuan dalam memperkuat kesehatan masyarakat.

Arifah Fauzi menilai pemberdayaan perempuan memberi dampak luas terhadap kesejahteraan keluarga dan komunitas. Ia mengatakan, ketika perempuan memiliki akses setara terhadap pendidikan, kesehatan, dan ekonomi, manfaatnya tidak hanya dirasakan individu, tetapi juga lingkungan sekitarnya.

Pernyataan itu sejalan dengan temuan banyak penelitian pembangunan yang menunjukkan bahwa perempuan cenderung mengalokasikan sumber daya untuk kebutuhan rumah tangga dan pendidikan anak. Karena itu, memperkuat posisi perempuan sering menghasilkan efek berantai pada kualitas gizi, imunisasi, dan pencarian layanan kesehatan.

Perlindungan dari kekerasan juga bagian dari kesehatan ibu dan anak

Isu kesehatan perempuan tidak hanya soal layanan medis, tetapi juga soal rasa aman. Verania Andria dari United Nations Population Fund Indonesia menyoroti perlunya sistem penanganan kekerasan terhadap perempuan yang kuat dan terintegrasi.

Melalui program Perempuan Indonesia Hidup Tanpa Kekerasan atau PIHAK, UNFPA berupaya memperkuat kapasitas layanan lini depan, koordinasi antar lembaga, dan kampanye kesadaran publik. Pendekatan ini penting karena kekerasan dapat berdampak langsung pada kesehatan fisik, mental, dan reproduksi perempuan.

Saat perempuan hidup tanpa kekerasan, peluang mereka untuk mengakses layanan kesehatan, mempertahankan kehamilan yang sehat, dan mengasuh anak dengan lebih baik juga meningkat. Dengan kata lain, keamanan perempuan adalah fondasi dari kesehatan keluarga.

Peran swasta ikut memperluas jangkauan layanan

Dari sisi dunia usaha, Figen Samdanci dari Growth and Emerging Market Leadership Team Takeda Pharmaceuticals menegaskan bahwa peningkatan kesehatan masyarakat membutuhkan kolaborasi luas. Ia menyebut pengembangan obat dan vaksin inovatif tidak cukup jika akses layanan kesehatan perempuan masih timpang.

Takeda menyatakan komitmennya untuk memperluas akses layanan kesehatan perempuan, memperkuat perlindungan dari kekerasan berbasis gender, dan mendukung upaya pencegahan di masyarakat. Kolaborasi seperti ini penting terutama di wilayah yang masih memiliki keterbatasan tenaga kesehatan, fasilitas rujukan, atau edukasi kesehatan reproduksi.

Mengapa kepemimpinan perempuan menjadi kunci yang sering diabaikan

Kepemimpinan perempuan bukan hanya soal jumlah perempuan di jabatan strategis. Lebih jauh, kepemimpinan ini menentukan apakah kebutuhan ibu hamil, ibu menyusui, bayi, dan remaja perempuan benar-benar masuk dalam prioritas pembangunan.

Ada beberapa alasan utama mengapa penguatan peran perempuan sangat menentukan hasil kesehatan ibu dan anak:

  1. Perempuan lebih dekat dengan pengalaman langsung layanan kesehatan keluarga.
  2. Perempuan sering menjadi pengambil keputusan pertama saat keluarga butuh pertolongan.
  3. Perempuan pemimpin komunitas lebih mudah membangun kepercayaan warga.
  4. Perempuan cenderung mendorong pencegahan sebelum masalah kesehatan membesar.
  5. Perempuan dapat menghubungkan isu kesehatan dengan pendidikan, gizi, dan perlindungan sosial.

Apa arti kemajuan yang tercatat hari ini

Naiknya peringkat Indonesia dalam Global Gender Gap Report 2025 menunjukkan ruang partisipasi perempuan terus meluas. Peningkatan ini harus dibaca sebagai peluang untuk mempercepat perbaikan layanan kesehatan ibu dan anak, bukan sekadar capaian statistik.

Jika kepemimpinan perempuan terus diperkuat di tingkat kebijakan, fasilitas kesehatan, dan komunitas, maka program pencegahan akan lebih mudah menyentuh keluarga yang paling rentan. Pada titik itu, kesehatan ibu dan anak tidak lagi bergantung pada layanan yang hadir sesekali, tetapi pada sistem yang benar-benar dirancang dengan suara perempuan di dalamnya.

Baca selengkapnya di: www.suara.com

Berita Terkait

Back to top button