Tidak Sarapan Bantu Turun Berat Badan? Ini Sisi Gelap Lemak, Otot, dan Metabolisme

Banyak orang mengira melewatkan sarapan bisa mempercepat penurunan berat badan. Namun, menurut ahli gizi asal Taiwan Peng Yishan, kebiasaan ini justru kerap menjadi jebakan diet karena tidak otomatis membuat lemak tubuh berkurang lebih efektif.

Peng menilai, jika seseorang ingin menurunkan berat badan dengan cara yang lebih sehat, makan pertama sebelum tengah hari lebih disarankan. Ia menyebut langkah ini membantu mengoptimalkan metabolisme dan proses pembakaran lemak tubuh.

Mengapa Tidak Sarapan Sering Dianggap Efektif?

Gagasan untuk tidak sarapan biasanya muncul dari pola puasa intermiten. Sebagian orang mengira melewatkan sarapan sama dengan menjalankan puasa yang benar, padahal praktiknya tidak sesederhana itu.

Dalam wawancaranya, Peng menegaskan bahwa defisit kalori memang bisa terjadi saat seseorang hanya makan satu kali sehari. Tetapi, ia menjelaskan bahwa penurunan berat badan seperti itu sering diikuti hilangnya massa otot lebih besar dibanding lemak.

Berat Turun, Tapi Bukan Lemak yang Hilang

Masalah utama dari pola makan ekstrem adalah komposisi tubuh bisa berubah tidak seimbang. Berat badan memang turun di timbangan, tetapi lemak membandel belum tentu ikut berkurang secara optimal.

Kondisi ini berisiko membuat metabolisme melambat karena otot ikut menyusut. Saat massa otot turun, tubuh juga membakar energi lebih sedikit dalam aktivitas harian.

Peran Protein dalam Menjaga Bentuk Tubuh

Peng menekankan bahwa protein punya peran besar saat seseorang menjalani diet penurunan lemak. Ia menyarankan asupan protein hewani dan nabati perlu dijaga seimbang agar massa otot tetap terpelihara.

Berikut fokus nutrisi yang relevan saat diet:

  1. Protein cukup untuk mempertahankan otot.
  2. Karbohidrat tetap dikontrol agar energi tidak berlebih.
  3. Lemak sehat dikonsumsi dalam porsi terukur.
  4. Sayur dan serat membantu rasa kenyang lebih lama.

Meski makanan seperti alpukat, kacang-kacangan, dan oatmeal dikenal sehat, porsinya tetap harus dikendalikan. Kalori yang berlebihan tetap bisa menghambat penurunan berat badan meskipun sumber makanannya tergolong baik.

Tidur yang Cukup juga Menentukan Hasil Diet

Selain pola makan, kualitas tidur ikut memengaruhi keberhasilan menurunkan berat badan. Peng menjelaskan bahwa tidur yang buruk dapat mengganggu hormon ghrelin, leptin, dan kortisol.

Ghrelin berperan memicu rasa lapar, leptin membantu memberi sinyal kenyang, sementara kortisol berkaitan dengan respons stres tubuh. Jika tidur terganggu dalam jangka panjang, keseimbangan hormon ini ikut rusak dan pengeluaran energi tubuh tidak berjalan maksimal.

Target Diet yang Lebih Realistis

Peng menegaskan bahwa penurunan berat badan tidak bisa dikejar secara instan. Ia menyebut proses ini lebih mirip maraton daripada lari cepat.

Target yang dinilai sehat adalah turun 0,5 hingga 1 kg per minggu. Dalam tiga bulan, penurunan sekitar 10% dari berat badan awal juga dianggap lebih realistis dan aman untuk banyak orang.

Jangan Hanya Fokus pada Angka Timbangan

Timbangan bukan satu-satunya alat ukur keberhasilan diet. Peng menilai indikator yang lebih akurat adalah persentase lemak tubuh, lingkar pinggang, dan komposisi massa otot.

Pendekatan ini penting karena dua orang dengan angka berat badan sama bisa punya kondisi tubuh yang sangat berbeda. Seseorang bisa tampak lebih fit walau angka timbangan tak turun drastis, asal lemak tubuh berkurang dan otot tetap terjaga.

Apa yang Perlu Diperhatikan Saat Ingin Menurunkan Berat Badan

  1. Jangan langsung mengandalkan metode ekstrem seperti sengaja tidak sarapan.
  2. Pastikan ada defisit kalori yang tetap aman dan terkontrol.
  3. Jaga asupan protein dari sumber hewani dan nabati.
  4. Kendalikan porsi makanan sehat agar kalori tidak berlebihan.
  5. Tidur cukup agar hormon lapar dan kenyang tetap seimbang.
  6. Pantau juga lingkar pinggang dan komposisi tubuh, bukan hanya berat badan.

Dengan kata lain, tidak sarapan bukan jaminan berat badan turun lebih cepat dan sehat. Hasil diet yang lebih baik justru datang dari pola makan teratur, porsi yang terukur, protein yang cukup, tidur yang berkualitas, dan pemantauan komposisi tubuh secara menyeluruh.

Baca selengkapnya di: www.beritasatu.com

Berita Terkait

Back to top button