Vaksinasi campak kembali menjadi sorotan setelah Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI) menekankan pentingnya edukasi dan imunisasi untuk mencegah penularan yang lebih luas di masyarakat. Peringatan ini muncul di tengah turunnya cakupan vaksinasi campak-rubella yang dinilai belum cukup untuk membentuk kekebalan kelompok.
Dokter Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Alergi dan Imunologi, Dr. dr. Sukamto Koesnoe, mengatakan penurunan cakupan imunisasi membuat masyarakat lebih rentan terhadap wabah. Ia menyampaikan, cakupan dosis pertama turun dari sekitar 92 persen menjadi 82 persen, sementara dosis kedua juga menurun menjadi 77,6 persen.
Cakupan Masih Jauh dari Ambang Aman
Menurut standar World Health Organization (WHO), cakupan imunisasi campak-rubella perlu mencapai 95 persen agar herd immunity terbentuk dengan baik. Angka terbaru yang masih berada di bawah standar itu menunjukkan risiko penularan masih terbuka lebar, terutama pada kelompok yang belum terlindungi.
Dalam konferensi pers PAPDI Forum di Jakarta, Selasa (31/3/2026), dr. Sukamto menegaskan bahwa penurunan itu tidak bisa dianggap sepele. Ia menyebut kondisi tersebut dapat memudahkan munculnya klaster penularan di tengah mobilitas masyarakat yang tinggi.
Misinformasi Jadi Tantangan Serius
Salah satu faktor yang ikut menekan cakupan vaksinasi adalah keraguan masyarakat terhadap vaksin. Dr. Sukamto menyebut misinformasi yang beredar luas, terutama di media sosial, membuat sebagian orang menunda bahkan menolak imunisasi.
Fenomena ini juga memperlihatkan bahwa ancaman campak bukan hanya soal ketersediaan vaksin, tetapi juga soal kepercayaan publik. Saat informasi keliru lebih cepat menyebar dibanding penjelasan medis yang benar, keputusan keluarga untuk imunisasi bisa ikut terpengaruh.
Mobilitas Tinggi Mempercepat Penyebaran
Selain keraguan terhadap vaksin, tingginya mobilitas masyarakat turut memperbesar risiko penyebaran campak. Perpindahan antardaerah yang semakin mudah membuat virus lebih cepat masuk ke wilayah dengan cakupan imunisasi rendah.
Kondisi ini pernah terlihat di beberapa daerah, termasuk Aceh, yang sempat mengalami peningkatan kasus campak. Situasi tersebut memperlihatkan bahwa satu wilayah dengan perlindungan rendah dapat menjadi titik rawan penularan bagi daerah lain.
Peran Tenaga Kesehatan Dinilai Krusial
Dr. Sukamto menilai tenaga kesehatan memegang peran penting dalam menghadapi keraguan vaksin. Ia menyebut komunikasi yang jelas dan edukasi yang tepat dari dokter bisa meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap vaksinasi secara signifikan, bahkan lebih dari 70 persen.
“Jika dokter mampu menjelaskan manfaat vaksin dengan baik, tingkat keberhasilan vaksinasi bisa meningkat signifikan, bahkan pasien yang awalnya menolak bisa mau divaksin,” ujarnya. Pernyataan itu menegaskan bahwa pendekatan persuasif dan berbasis penjelasan ilmiah masih sangat dibutuhkan dalam pelayanan kesehatan.
Langkah yang Disorot PAPDI
Berikut beberapa langkah yang disorot untuk memperbaiki cakupan vaksinasi campak di masyarakat:
- Memperkuat edukasi publik melalui tenaga kesehatan yang mudah diakses.
- Menangkal misinformasi dengan komunikasi medis yang sederhana dan akurat.
- Mengecek kembali status vaksinasi anak maupun orang dewasa yang belum lengkap.
- Mendorong konsultasi dengan dokter atau fasilitas kesehatan sebelum menunda imunisasi.
- Menjaga kesadaran bahwa vaksinasi melindungi diri sendiri sekaligus orang lain.
PAPDI juga menekankan bahwa edukasi sebaiknya dimulai dari tenaga kesehatan sendiri agar pesan yang sampai ke masyarakat tetap konsisten dan benar. Dengan pemahaman yang baik, masyarakat dinilai akan lebih sulit terpengaruh informasi menyesatkan, sementara cakupan vaksinasi berpeluang kembali meningkat.
Masyarakat yang belum yakin disarankan memeriksa status imunisasi dan berkonsultasi dengan tenaga medis agar perlindungan terhadap campak bisa terjaga. Di tengah mobilitas tinggi dan masih adanya penolakan vaksin, upaya edukasi dan vaksinasi tetap menjadi kunci untuk mencegah wabah yang sebenarnya dapat dihindari.
Baca selengkapnya di: lifestyle.bisnis.com




