Varian Covid-19 yang dijuluki “Cicada” kembali masuk radar pemantauan kesehatan dunia setelah sebelumnya sempat tidak terdeteksi dalam beberapa waktu. Subvarian BA.3.2 ini menarik perhatian karena pola kemunculannya yang naik-turun, bukan karena bukti awal menunjukkan lonjakan keparahan penyakit.
Julukan “Cicada” merujuk pada kemunculan yang tampak periodik, mirip serangga cicada yang muncul setelah lama “menghilang”. Epidemiolog sekaligus pakar kesehatan lingkungan dari Griffith University, Dicky Budiman, menjelaskan bahwa subvarian ini menunjukkan pola silent circulation, yakni sempat muncul pada 2024, lalu tidak terpantau, kemudian kembali terdeteksi pada periode 2025 hingga 2026.
Apa Itu Covid-19 Cicada
Covid-19 Cicada adalah sebutan populer untuk subvarian BA.3.2, salah satu turunan Omikron. Istilah ini bukan nama resmi dalam klasifikasi ilmiah, tetapi dipakai untuk menggambarkan pola penyebarannya yang sempat redup lalu muncul lagi di sejumlah negara.
Dicky Budiman menyebut varian ini termasuk highly mutated variant. Ia menjelaskan bahwa terdapat hampir 75 mutasi pada bagian spike protein, jumlah yang jauh lebih banyak dibanding sejumlah varian sebelumnya.
Karakteristik Utama yang Perlu Diketahui
Karakteristik utama BA.3.2 ada pada kemampuan mutasinya yang tinggi dan kecenderungan lolos dari respons imun. Kondisi ini membuat antibodi dari vaksinasi maupun infeksi sebelumnya bisa bekerja kurang optimal dalam menetralisir virus.
Secara praktis, orang yang sudah divaksin atau pernah terinfeksi tetap bisa tertular kembali. Namun, perlindungan vaksin masih penting karena tetap membantu menekan risiko sakit berat, rawat inap, dan kematian.
Berikut ringkasan karakteristik pentingnya:
- Termasuk turunan Omikron.
- Memiliki hampir 75 mutasi pada spike protein.
- Menunjukkan immune escape atau kemampuan menghindari antibodi.
- Pernah tidak terpantau lalu muncul kembali di periode 2025–2026.
- Sudah ditemukan di lebih dari 23 negara.
Gejala yang Paling Sering Muncul
Menurut penjelasan Dicky, gejala Covid-19 Cicada tidak menunjukkan peningkatan tingkat keparahan yang mencolok. Sebagian besar kasus tetap berada pada kategori ringan hingga sedang, tanpa lonjakan besar pada rawat inap maupun kematian.
Gejala yang dominan justru banyak muncul di saluran pernapasan bagian atas. Keluhan yang perlu diperhatikan antara lain nyeri tenggorokan, batuk, demam, kelelahan, dan hidung tersumbat.
Tabel sederhana gejala yang sering dilaporkan:
Gejala | Keterangan
Nyeri tenggorokan | Sering muncul sebagai keluhan awal
Batuk | Umum terjadi pada infeksi saluran napas atas
Demam | Bisa disertai rasa lemas
Kelelahan | Menandai respons tubuh terhadap infeksi
Hidung tersumbat | Menjadi gejala yang cukup menonjol
Mengapa Disebut Sempat Hilang Lalu Muncul Lagi
Fenomena “hilang lalu muncul lagi” pada BA.3.2 berkaitan dengan cara virus ini beredar di masyarakat. Varian ini diduga sempat tidak terpantau, lalu kembali terbaca saat sistem pengawasan genomik menemukan peningkatan kasus di periode berikutnya.
Pola seperti ini tidak selalu berarti varian benar-benar lenyap. Dalam banyak kasus, virus bisa tetap bersirkulasi dengan tingkat rendah sebelum akhirnya terdeteksi kembali ketika penyebarannya naik atau sistem surveilans bekerja lebih luas.
Status Pengawasan Menurut WHO
Meski menjadi perhatian, BA.3.2 belum masuk kategori berbahaya secara global. Dicky Budiman menyebut statusnya di WHO masih variant under monitoring, yang artinya varian ini tetap dipantau tetapi belum diklasifikasikan sebagai ancaman besar.
Status itu menunjukkan para ahli masih mengamati perilaku varian, termasuk daya tular, tingkat keparahan, dan kemampuan menghindari kekebalan. Dengan kata lain, kewaspadaan tetap diperlukan, tetapi belum ada dasar ilmiah kuat untuk menyebutnya sebagai varian dengan risiko ekstrem.
Seberapa Menular Varian Ini
Hingga kini belum ada bukti ilmiah kuat yang menunjukkan BA.3.2 jauh lebih menular dibandingkan varian Omikron lainnya. Meski begitu, potensi penyebarannya tetap tinggi karena jumlah mutasi yang besar dan kemampuan immune escape yang dimilikinya.
Kondisi itu membuat penularan tetap bisa terjadi di tengah masyarakat, terutama pada lingkungan dengan mobilitas tinggi. Karena itu, pemantauan genomik dan kewaspadaan terhadap gejala pernapasan tetap relevan, terutama saat kasus di beberapa wilayah menunjukkan tren naik.
Persebaran Global dan Tren Terkini
Secara global, varian ini telah teridentifikasi di lebih dari 23 negara. Dicky Budiman mengatakan tren peningkatannya mulai terlihat sejak akhir Desember 2025, dan di beberapa wilayah Eropa kontribusinya bahkan sudah mencapai sekitar 30 persen dari total kasus dibanding subvarian lain.
Data tersebut menunjukkan bahwa BA.3.2 tidak bisa diabaikan begitu saja. Walau belum memicu lonjakan berat secara global, pergerakannya tetap penting dipantau karena varian dengan kemampuan mutasi tinggi dapat mengubah pola penularan di tingkat lokal maupun regional.
Apa yang Perlu Diwaspadai Masyarakat
Masyarakat perlu memahami bahwa gejala ringan bukan berarti aman sepenuhnya untuk semua orang. Kelompok rentan seperti lansia, penderita komorbid, dan orang dengan imun lemah tetap berpotensi mengalami dampak lebih serius jika tertular.
Karena itu, langkah pencegahan dasar masih penting dilakukan, terutama saat kasus pernapasan meningkat di wilayah tertentu. Memantau gejala, menjaga kebersihan, dan segera berkonsultasi ke tenaga kesehatan bila keluhan memburuk tetap menjadi langkah yang paling masuk akal saat menghadapi varian seperti BA.3.2.
Penelitian dan pengawasan terhadap Covid-19 Cicada masih terus berjalan, terutama untuk menilai apakah pola silent circulation ini akan berulang dan bagaimana dampaknya ke depan. Di tengah statusnya yang masih under monitoring, publik tetap perlu mengikuti informasi resmi agar bisa merespons perubahan situasi dengan cepat dan proporsional.
Baca selengkapnya di: lifestyle.bisnis.com




