Standar Internasional Teruji, JEC Kembali Menang di Healthcare Asia Awards

JEC Eye Hospitals and Clinics kembali mencuri perhatian di tingkat Asia setelah meraih dua penghargaan pada Healthcare Asia Awards 2026 di Singapura. Pengakuan itu datang dari dua inisiatif yang menonjol, yakni standardisasi penanganan mata kering dan efisiensi layanan di JEC @ Tambora.

Ajang penghargaan yang digelar pada 26 Maret 2026 di Marina Bay Sands itu menempatkan JEC pada kategori Clinical Service Initiative of the Year – Indonesia dan Specialty Clinic of the Year (Ophthalmology) – Indonesia. Pencapaian ini memperlihatkan bahwa layanan mata yang terukur, terstandar, dan berbasis hasil klinis semakin mendapat tempat di kawasan Asia.

Pengakuan internasional atas layanan yang konsisten

Healthcare Asia Awards dikenal sebagai ajang yang menilai rumah sakit dan institusi kesehatan di Asia yang mampu menetapkan standar baru dalam kualitas klinis, inovasi layanan, dan dampak bagi masyarakat. Dalam konteks itu, dua penghargaan untuk JEC menjadi sinyal bahwa modernisasi layanan mata di Indonesia mampu bersaing di level regional.

Penghargaan tersebut diterima oleh Prof. Dr. Tjahjono D. Gondhowiardjo, SpM(K), PhD, Direktur Pengembangan & Pendidikan JEC Group. Ia menyebut capaian ini sebagai validasi atas pendekatan JEC dalam membangun layanan kesehatan mata yang terstandarisasi, terukur, dan berorientasi pada kebutuhan pasien.

Menurut Tjahjono, penghargaan ini juga memperkuat posisi JEC sebagai salah satu pemimpin layanan mata di Indonesia. Ia menegaskan bahwa inovasi, standar klinis internasional, dan layanan terintegrasi menjadi fondasi utama pengembangan JEC ke depan.

Standardisasi mata kering jadi sumber apresiasi

Penghargaan pertama, Clinical Service Initiative of the Year – Indonesia, diberikan atas program Integrated Dry Eye Standardisation and Awareness Programme. Program ini dirancang untuk meningkatkan kualitas diagnosis dan penanganan mata kering secara menyeluruh di seluruh jaringan JEC.

Di Indonesia, mata kering diperkirakan memengaruhi sekitar 27,5 persen populasi, atau lebih dari 76 juta orang. Meski begitu, kondisi ini kerap tidak terdiagnosis dengan baik dan penanganannya belum seragam, sehingga banyak pasien datang terlambat atau belum mendapatkan terapi yang sesuai.

JEC menjawab tantangan tersebut dengan pendekatan terpadu yang menggabungkan edukasi publik dan protokol klinis yang seragam. Program ini juga dilengkapi microsite edukasi dan alat skrining mandiri berbasis gim memakai Dry Eye Questionnaire-5.

Data program penanganan mata kering JEC

  1. Lebih dari 400 pasien per tahun memanfaatkan kuesioner skrining.
  2. Angka diagnosis mata kering naik rata-rata 30 persen dalam satu tahun.
  3. Beberapa cabang mencatat kenaikan hingga 80 persen setelah protokol diterapkan.
  4. Program pelatihan menjangkau lebih dari 150 dokter spesialis mata.
  5. Program ini juga melibatkan lebih dari 400 perawat dan lebih dari 650 tenaga kesehatan pendukung.

Langkah itu memberi dampak nyata pada deteksi dini. Dengan skrining yang lebih terstruktur, pasien lebih cepat diarahkan untuk konsultasi klinis, sementara dokter memperoleh acuan yang seragam dalam menilai kondisi mata kering.

JEC juga memperluas kompetensi klinis melalui observership internasional di Jepang dan Korea Selatan. Program ini membuka akses bagi dokter spesialis untuk mempelajari pendekatan diagnosis dan terapi terbaru yang dipakai di pusat-pusat layanan mata maju.

Efisiensi layanan JEC @ Tambora ikut dipertimbangkan

Penghargaan kedua, Specialty Clinic of the Year (Ophthalmology) – Indonesia, diberikan kepada JEC @ Tambora. Klinik ini dinilai menonjol karena mampu menjaga efisiensi operasional tanpa mengorbankan mutu klinis dan keselamatan pasien.

JEC @ Tambora beroperasi di fasilitas sekitar 500 meter persegi dengan dukungan 11 dokter spesialis mata dan kurang lebih 30 staf. Sepanjang 2024, klinik ini mencatat lebih dari 35.000 kunjungan rawat jalan dan lebih dari 5.000 tindakan operasi, termasuk lebih dari 3.500 prosedur katarak.

Kinerja itu menunjukkan tingginya permintaan layanan mata di daerah padat penduduk seperti Tambora. Pada saat yang sama, sistem alur pasien yang terstruktur dan pengaturan janji temu digital membantu klinik menjaga kecepatan layanan dan konsistensi proses tindakan.

Klinik ini juga mencatat tingkat konversi dari admisi ke operasi yang melampaui rata-rata cabang JEC Eye Hospitals and Clinics lebih dari 65 persen. Angka itu menjadi yang tertinggi di antara klinik JEC, menandakan efisiensi manajemen layanan yang kuat.

Meski volume tindakan tinggi, tingkat komplikasi yang dilaporkan sekitar 1 persen tetap terjaga. Angka tersebut penting karena menunjukkan efisiensi layanan yang berjalan seiring dengan pengendalian risiko klinis.

Jejak panjang JEC di layanan kesehatan mata

JEC Eye Hospitals and Clinics bukan pemain baru di sektor ini. Selama lebih dari empat dekade, jaringan ini membangun layanan berbasis subspesialis untuk menjawab kebutuhan pasien yang semakin beragam dan kompleks.

Hingga kini, JEC telah melakukan lebih dari 250.000 operasi katarak dan 150.000 prosedur koreksi refraksi menggunakan LASIK dan SMILE. Rekam jejak itu menempatkan JEC sebagai salah satu penyedia layanan kesehatan mata paling berpengalaman di Indonesia.

JEC juga dikenal sebagai pelopor teknologi kesehatan mata di Tanah Air. Perusahaan ini menghadirkan LASIK pertama pada 1997, memperkenalkan FLACS pada 2012, lalu SMILE PRO pada 2022.

Jejak inovasi JEC yang disebut dalam artikel

  1. LASIK pertama di Indonesia pada 1997.
  2. FLACS diperkenalkan pada 2012.
  3. SMILE PRO hadir pada 2022.
  4. Pengembangan layanan subspesialis terus diperkuat di berbagai pusat unggulan.

Rangkaian inovasi itu memperlihatkan bahwa JEC tidak hanya fokus pada jumlah tindakan, tetapi juga pada evolusi teknologi dan akurasi layanan. Pendekatan ini penting karena kebutuhan pasien mata kini semakin dipengaruhi teknologi, usia harapan hidup yang naik, serta peningkatan kesadaran terhadap pemeriksaan dini.

Ekspansi layanan dan arah pengembangan berikutnya

Memasuki usia 42 tahun dengan semangat Journey to Excellence, JEC kini memiliki 16 cabang di berbagai kota. Salah satu pengembangan yang menonjol adalah JEC BALI @ Sanur di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Sanur, yang diproyeksikan menjadi pusat layanan kesehatan mata berteknologi tinggi dan destinasi health and wellness internasional.

Fasilitas tersebut mengusung konsep Blue Hospital dengan perpaduan prinsip smart dan green. Konsep ini menunjukkan bahwa pengembangan layanan kesehatan saat ini tidak lagi hanya soal pengobatan, tetapi juga pengalaman pasien, efisiensi energi, dan integrasi teknologi medis.

Prof. Tjahjono menyebut JEC akan terus berfokus pada inovasi klinis, peningkatan kompetensi tenaga medis, dan pemanfaatan teknologi medis terkini. Arah itu penting untuk menjaga mutu layanan saat ekspansi berjalan, terutama di tengah meningkatnya tuntutan pasien terhadap diagnosis akurat dan layanan yang cepat.

Dengan capaian dua penghargaan di Healthcare Asia Awards 2026, JEC menegaskan posisinya sebagai salah satu rujukan utama layanan kesehatan mata di Indonesia. Ke depan, perhatian publik akan tertuju pada bagaimana standar internasional yang sudah diakui ini diterapkan lebih luas di seluruh cabang JEC dan berdampak langsung pada kualitas penglihatan masyarakat.

Baca selengkapnya di: www.suara.com

Berita Terkait

Back to top button