Peningkatan kasus varian Covid-19 yang dijuluki Cicada kini menjadi perhatian di banyak negara. Varian ini telah terdeteksi di sedikitnya 23 negara, setelah pertama kali ditemukan di Afrika Selatan dan kemudian menyebar ke Amerika Serikat hingga kawasan Eropa.
Pakar kesehatan menyoroti varian ini karena membawa banyak mutasi dan menunjukkan kemampuan yang berpotensi menghindari respons imun. Meski belum ada bukti kuat bahwa Cicada menyebabkan penyakit yang lebih parah, penyebarannya tetap dipantau ketat oleh lembaga kesehatan global.
Apa itu varian Covid-19 Cicada
Dikutip dari Centers for Disease Control and Prevention atau CDC, Cicada merupakan subvarian Omicron dengan kode ilmiah BA.3.2. Varian ini pertama kali terdeteksi di Afrika Selatan pada November 2024 dan kembali mencuat dalam pantauan global sepanjang 2025 hingga 2026.
Nama Cicada bukan istilah resmi dari World Health Organization atau WHO. Julukan itu muncul karena pola kemunculannya dianggap mirip serangga cicada yang muncul setelah lama berada di bawah tanah, lalu kembali terlihat dalam jumlah besar setelah sebelumnya jarang terdeteksi.
Salah satu ciri yang paling disorot dari BA.3.2 adalah jumlah mutasinya yang tinggi. Varian ini memiliki sekitar 70 hingga 75 mutasi pada protein spike, jauh di atas sejumlah subvarian Omicron sebelumnya seperti JN.1 dan LP.8.1 yang berada di kisaran 30 hingga 40 mutasi.
Mengapa varian ini diawasi ketat
Jumlah mutasi yang besar membuat para ilmuwan menilai varian ini secara genetik cukup berbeda dari pendahulunya. Kondisi tersebut memunculkan kekhawatiran karena mutasi dapat memengaruhi cara virus menempel pada sel dan berinteraksi dengan sistem kekebalan tubuh.
Cicada juga menunjukkan indikasi immune escape, yaitu kemampuan untuk menghindari perlindungan imun dari vaksin maupun infeksi sebelumnya. Meski begitu, vaksin yang ada saat ini masih dinilai penting karena tetap memberi perlindungan terhadap gejala berat, rawat inap, dan kematian.
WHO saat ini mengklasifikasikan varian ini sebagai variant under monitoring. Status ini berarti varian belum masuk kategori ancaman tinggi, tetapi tetap perlu pengawasan karena ada potensi perubahan karakteristik di kemudian hari.
Sebaran kasus di berbagai negara
Peningkatan deteksi varian Cicada menunjukkan bahwa penyebarannya tidak lagi terbatas di satu kawasan. Data yang beredar menyebut varian ini telah ditemukan di lebih dari 20 negara, termasuk di Amerika Serikat dan sejumlah negara di Eropa.
- Afrika Selatan menjadi lokasi awal deteksi.
- Amerika Serikat termasuk negara yang kemudian mencatat kemunculannya.
- Sejumlah negara di Eropa juga melaporkan kasus serupa.
- Total deteksi terbaru mencapai sedikitnya 23 negara.
Penyebaran lintas negara ini membuat para ahli terus memperbarui analisis risiko. Penelitian juga masih berlangsung untuk memahami apakah mutasi yang dibawa varian ini akan berdampak besar terhadap laju penularan di masa mendatang.
Gejala yang perlu diwaspadai
Dari sisi klinis, gejala varian Cicada tidak berbeda jauh dari Covid-19 pada umumnya. Keluhan yang paling sering dilaporkan tetap berkaitan dengan saluran pernapasan atas dan kondisi umum tubuh.
Gejala yang umum muncul meliputi:
- Demam
- Batuk
- Kelelahan
- Sakit kepala
- Nyeri otot
- Pilek atau hidung tersumbat
- Bersin
- Sakit tenggorokan
- Penurunan indera penciuman atau perasa
Sejumlah laporan menyebut sakit tenggorokan yang cukup kuat mungkin lebih sering muncul pada varian ini. Namun, para ahli menegaskan bahwa gejala tersebut belum bisa dianggap sebagai ciri khas yang pasti karena data masih berkembang.
Kasus tanpa gejala masih mungkin terjadi
Sama seperti varian Covid-19 lain, infeksi pada Cicada juga dapat terjadi tanpa gejala. Artinya, seseorang bisa membawa dan menularkan virus tanpa menyadari dirinya terinfeksi.
Kondisi ini membuat deteksi di masyarakat menjadi lebih sulit. Situasi tersebut juga mendorong pentingnya kewaspadaan ketika ada peningkatan kasus, terutama di lingkungan padat aktivitas dan mobilitas tinggi.
Apa kata para ahli
Laporan dari Northeastern Global News menyebut pengamatan awal belum menunjukkan hubungan antara varian ini dan peningkatan tingkat keparahan penyakit atau angka kematian yang lebih tinggi. Temuan itu memberi gambaran bahwa risiko utama saat ini masih pada potensi penyebaran dan kemampuan menghindari kekebalan.
Meski demikian, para peneliti menilai risiko tetap ada jika BA.3.2 terus berkembang. Jika karakter mutasinya semakin menguat, dampaknya bisa lebih besar terhadap perlindungan imun populasi.
Langkah pencegahan yang tetap penting
Pencegahan masih menjadi langkah paling rasional di tengah pemantauan varian ini. Vaksinasi tetap dianjurkan sesuai rekomendasi otoritas kesehatan, terutama untuk kelompok rentan yang berisiko mengalami gejala berat.
Selain itu, masyarakat juga disarankan tetap memperhatikan kebersihan tangan, ventilasi ruangan, dan penggunaan masker saat sedang sakit atau berada di kerumunan padat. Bila muncul gejala pernapasan, pemeriksaan dini dapat membantu mencegah penularan lebih luas.
Kewaspadaan terhadap varian Cicada menjadi pengingat bahwa Covid-19 masih terus bermutasi dan membutuhkan pemantauan berkelanjutan. Dengan deteksi dini, perilaku pencegahan yang konsisten, serta pembaruan informasi dari sumber resmi, risiko penularan dapat ditekan meski varian ini sudah muncul di banyak negara.
Baca selengkapnya di: www.beritasatu.com