Paparan Mikroplastik Mengintai Otak Anak, Dari Rahim Hingga Gangguan Belajar

Paparan mikroplastik kini tidak lagi dipandang sebagai isu lingkungan semata, tetapi juga sebagai ancaman kesehatan anak yang perlu diwaspadai sejak dini. Sejumlah pakar anak mengingatkan bahwa partikel plastik berukuran sangat kecil ini sudah ditemukan pada mekonium, yaitu feses pertama bayi, sehingga paparan diduga bisa terjadi bahkan sejak masa kehamilan.

Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Piprim Basarah Yanuarso menegaskan adanya tren peningkatan paparan mikroplastik dan timbal pada anak dari tahun ke tahun. Ia menjelaskan, temuan mikroplastik pada mekonium menunjukkan kemungkinan zat tersebut berpindah dari tubuh ibu ke janin melalui plasenta, meski mekanisme dan besaran risikonya masih memerlukan penelitian lebih lanjut.

Paparan bisa terjadi sejak dalam kandungan

Piprim mengatakan, temuan mikroplastik pada bayi baru lahir menjadi sinyal penting bagi dunia kesehatan anak. “Pada mekonium bayi yang baru lahir pun sudah ditemukan mikroplastik. Artinya, kadar mikroplastik dalam darah ibu bisa tersalurkan melalui plasenta,” ujar Piprim dalam acara IDAI di Jakarta.

Pernyataan itu menegaskan bahwa sumber paparan tidak hanya berasal dari lingkungan setelah anak lahir. Dalam konteks ini, kehamilan menjadi periode yang juga perlu mendapat perhatian serius karena tubuh janin berada dalam tahap perkembangan yang sangat sensitif.

Meski demikian, komunitas medis masih berhati-hati dalam menyimpulkan dampak pastinya. IDAI menyebut kajian ilmiah masih terus berjalan untuk memastikan seberapa besar paparan yang dapat memicu perpindahan mikroplastik dari ibu ke bayi dan dampak jangka panjangnya bagi tumbuh kembang anak.

Mengapa otak anak menjadi perhatian utama

Perkembangan otak anak berlangsung cepat pada masa awal kehidupan dan sangat rentan terhadap gangguan dari zat berbahaya. Bila paparan terjadi berulang, risiko gangguan bisa muncul pada fungsi kognitif, perilaku, dan kemampuan anak untuk belajar.

Satgas Kesehatan Lingkungan dan Perubahan Iklim IDAI, Irene Yuniar, mengatakan dampak paparan pada anak sangat bergantung pada besar kecilnya dosis dan daya tahan tubuh. Pada kadar rendah, dampaknya bisa berupa gangguan perilaku, sulit fokus, dan penurunan kemampuan belajar.

Jika paparannya lebih tinggi, risikonya dapat meluas ke gangguan sistem saraf, anemia, hambatan pertumbuhan, penurunan IQ, hingga kerusakan organ. Dalam jangka panjang, beberapa penelitian juga mengaitkan paparan zat tertentu di lingkungan dengan gangguan hormonal dan peningkatan risiko tekanan darah tinggi saat dewasa.

Sumber paparan yang sering luput dari perhatian

Paparan mikroplastik dan timbal tidak selalu datang dari sumber yang terlihat jelas. Anak bisa terpapar dari udara, tanah, makanan, debu rumah, emisi kendaraan, hingga lingkungan tempat tinggal yang dekat kawasan industri.

Irene mencontohkan, cat rumah yang mengelupas, pipa lama, dan debu lingkungan juga dapat menjadi sumber paparan yang sering diabaikan. Pada wilayah tertentu, terutama di sekitar kawasan industri atau peleburan, kadar timbal dalam tubuh anak cenderung lebih tinggi karena paparan dari lingkungan sekitar lebih besar.

Secara sederhana, jalur masuk zat berbahaya ini dapat dibayangkan dalam daftar berikut:

  1. Makanan dan minuman yang bersentuhan dengan plastik tidak aman.
  2. Udara yang membawa debu dan partikel mikroplastik.
  3. Tanah dan lingkungan rumah yang terkontaminasi.
  4. Cat tua dan pipa lama yang mengandung timbal.
  5. Emisi kendaraan dan aktivitas industri.

Temuan ini menunjukkan bahwa perlindungan anak tidak cukup hanya dilakukan di rumah, tetapi juga harus mencakup lingkungan tempat mereka tumbuh dan bermain. Karena itu, orang tua perlu lebih peka terhadap bahan yang bersentuhan langsung dengan anak sehari-hari.

Langkah pencegahan yang disarankan orang tua

IDAI belum mengeluarkan rekomendasi resmi yang bersifat final karena kajian ilmiah masih berlangsung. Namun, Piprim mengingatkan orang tua untuk lebih selektif membaca informasi pada kemasan benda yang digunakan anak, terutama produk plastik untuk makanan, minuman, dan mainan.

Berikut langkah praktis yang dapat dilakukan keluarga:

  1. Pilih wadah makanan dan minuman yang memiliki standar keamanan jelas.
  2. Hindari memanaskan makanan dalam plastik yang tidak dirancang untuk suhu tinggi.
  3. Periksa label dan jenis bahan pada botol, kotak makan, atau mainan anak.
  4. Kurangi penggunaan plastik sekali pakai untuk kebutuhan harian.
  5. Bersihkan rumah secara rutin untuk mengurangi debu yang bisa membawa partikel berbahaya.

Kewaspadaan ini penting karena anak berada pada fase perkembangan yang sangat cepat, sehingga paparan berulang dapat memberi dampak yang lebih besar dibandingkan pada orang dewasa. Dalam banyak kasus, masalah kesehatan lingkungan justru muncul perlahan dan baru terlihat setelah memengaruhi fungsi belajar, perilaku, atau pertumbuhan anak.

Perhatian dunia medis terus meningkat

Isu mikroplastik pada anak kini menjadi perhatian banyak pihak karena temuan ilmiah terus berkembang. IDAI menilai bukti yang ada saat ini cukup kuat untuk mendorong kehati-hatian, meski masih dibutuhkan penelitian lanjutan agar rekomendasi medis bisa disusun lebih spesifik dan berbasis data.

Di tengah meningkatnya penggunaan plastik dalam kehidupan sehari-hari, para tenaga kesehatan menilai edukasi publik menjadi langkah penting. Orang tua perlu memahami bahwa perlindungan anak dari paparan lingkungan bukan hanya soal kebersihan, tetapi juga soal pemilihan material, kualitas udara, dan keamanan produk yang dipakai setiap hari.

Ketika mikroplastik dan timbal sudah ditemukan bahkan pada bayi baru lahir, perhatian pada masa kehamilan, kualitas lingkungan rumah, dan kebiasaan penggunaan plastik menjadi semakin penting. Oleh karena itu, upaya pencegahan sejak dini dapat membantu meminimalkan risiko gangguan terhadap perkembangan otak dan kesehatan anak di masa depan.

Baca selengkapnya di: lifestyle.bisnis.com

Berita Terkait

Back to top button