Alarm kasus tuberkulosis di Indonesia kembali menguat setelah Kementerian Kesehatan menyebut estimasi kasus TBC mencapai 1,090 juta. Dari jumlah itu, sekitar 867.000 kasus sudah ditemukan, diobati, dan ditangani, tetapi hampir 300.000 kasus lain masih belum teridentifikasi.
Kondisi ini menunjukkan bahwa beban TBC di Indonesia masih tinggi dan rantai penularan belum sepenuhnya terputus. Pemerintah menilai penanganan tidak cukup hanya lewat layanan kesehatan, tetapi juga lewat kerja lintas sektor, mulai dari penguatan skrining hingga perbaikan lingkungan tempat tinggal.
Kasus belum ditemukan masih besar
Wakil Menteri Kesehatan Benjamin Paulus Octavianus menegaskan bahwa kesenjangan antara jumlah estimasi dan kasus yang sudah ditangani masih terlalu lebar. Dalam konferensi pers Hari TB Sedunia, ia menyebut ada hampir 300.000 kasus yang belum ditemukan di Indonesia.
Data ini menjadi sinyal bahwa banyak orang dengan TBC belum masuk ke sistem layanan kesehatan. Mereka berpotensi terus menularkan kuman ke keluarga dan lingkungan sekitar tanpa disadari.
Indonesia masih masuk negara dengan beban TBC tertinggi
Mengacu data yang dikutip dari laman UGM, estimasi kasus TBC di Indonesia mencapai 1.060.000 kasus per tahun. Dengan angka sebesar itu, Indonesia berada di peringkat kedua dunia untuk jumlah kasus TBC terbanyak setelah India.
Dosen FK-KMK UGM dr. Rina Triasih, M.Med(Paed), Ph.D., Sp.A(K), menilai selisih antara estimasi dan kasus yang ditemukan menunjukkan deteksi kasus belum optimal. Ia menekankan bahwa persoalan ini bukan sekadar angka, melainkan gambaran nyata tentang pasien yang belum terjangkau layanan kesehatan.
Faktor yang membuat kasus sulit terdeteksi
Rina menjelaskan ada sejumlah hambatan yang membuat banyak pasien tidak segera ditemukan. Masalahnya antara lain kesadaran masyarakat yang masih rendah, akses layanan kesehatan yang belum merata, dan minimnya pengetahuan untuk mengenali gejala awal TBC.
Ia juga menyebut peningkatan kasus pasca-COVID-19 perlu dibaca hati-hati. Menurutnya, kenaikan itu bisa berarti memang ada penularan baru, tetapi juga menandakan pemerintah semakin aktif menemukan kasus yang sebelumnya tersembunyi.
Berikut sejumlah kendala utama yang disebut para pakar:
- Gejala awal sering diabaikan karena dianggap penyakit biasa.
- Akses pemeriksaan belum merata, terutama di luar Jawa.
- Stigma membuat sebagian warga enggan memeriksakan diri.
- Kondisi hunian padat dan tidak layak mempercepat penularan.
- Pengobatan yang tidak tuntas memicu TBC resisten obat.
Rumah tidak layak ikut memperpanjang penularan
Benjamin menyoroti kondisi pemukiman yang buruk sebagai salah satu faktor yang harus diperhatikan. Ia menjelaskan kuman TBC bisa mati dalam 15–30 menit bila terkena sinar matahari, tetapi dapat bertahan berbulan-bulan di rumah tanpa ventilasi yang baik.
Pernyataan itu menegaskan bahwa pengendalian TBC tidak cukup mengandalkan obat. Perbaikan rumah, sirkulasi udara, dan penataan lingkungan juga memegang peran penting dalam memutus penularan.
Skrining aktif dinilai lebih efektif
Di lapangan, pendekatan Active Case Finding atau ACF mulai banyak didorong untuk menemukan kasus lebih cepat. Model ini tidak menunggu pasien datang, tetapi justru mendatangi masyarakat langsung dengan layanan skrining, termasuk X-Ray keliling.
Rina menyebut metode tersebut terbukti membantu menemukan kasus yang sebelumnya tidak terlihat. Program seperti Zero TB Yogyakarta menjadi salah satu contoh pendekatan yang berupaya menjangkau warga di komunitas, bukan hanya di fasilitas kesehatan.
TBC resisten obat jadi ancaman tambahan
Selain jumlah kasus yang besar, Indonesia juga menghadapi risiko TBC resisten obat. Kondisi ini muncul ketika pengobatan tidak dijalankan sampai tuntas, lalu kuman berubah dan menjadi lebih sulit dibasmi.
Rina mengingatkan bahwa banyak pasien merasa membaik setelah dua bulan minum obat, lalu berhenti sebelum selesai. Situasi itu justru bisa membuat penyakit kambuh dan pengobatannya menjadi lebih panjang serta lebih kompleks.
Wilayah prioritas terus diperluas
Kementerian Dalam Negeri mencatat ada 11 provinsi yang sudah ditetapkan sebagai wilayah prioritas penanganan TBC. Penetapan itu juga mencakup 82 kabupaten atau kota, 16.045 desa, dan sekitar 5.315 desa yang masuk prioritas.
Langkah ini menunjukkan pemerintah mencoba memfokuskan sumber daya ke wilayah dengan beban kasus tinggi. Namun, hingga kini detail teknis penanganan dan kebutuhan anggaran belum dijelaskan secara rinci oleh kementerian terkait.
Strategi penanganan butuh kerja lintas sektor
Benjamin menegaskan bahwa pemberantasan TBC harus melibatkan banyak kementerian, bukan hanya Kemenkes dan Kemendagri. Ia menyebut kolaborasi juga perlu melibatkan Kementerian PKP, Kemenaker, Kemensos, Kementerian Pangan, dan Kementerian Lingkungan Hidup.
Pendekatan lintas sektor dibutuhkan karena TBC berkaitan dengan banyak aspek, mulai dari hunian, pekerjaan, nutrisi, sampai edukasi masyarakat. Tanpa dukungan lintas bidang, upaya medis akan berjalan lambat dan dampaknya sulit maksimal.
Arah penanganan yang paling realistis
Rina menyarankan pendekatan tiga langkah yang sederhana tetapi komprehensif, yakni Search, Treat, and Prevent. Search berarti mencari kasus lebih aktif, Treat berarti mengobati sampai sembuh total, dan Prevent berarti mencegah penularan lewat edukasi dan perbaikan lingkungan.
Pendekatan itu menegaskan bahwa eliminasi TBC pada 2030 hanya mungkin tercapai jika semua pihak bergerak bersama. Di tengah masih tingginya estimasi kasus dan jutaan warga yang berisiko terpapar, kecepatan deteksi, ketepatan terapi, dan perbaikan kondisi sosial menjadi kunci utama penanganan TBC di Indonesia.
Baca selengkapnya di: lifestyle.bisnis.com




