57% Perempuan Indonesia Abaikan Perawatan Medis, Demi Keluarga Mereka Terbentur Triple Penalty

Survei Sun Life Indonesia mengungkap gambaran yang kuat tentang beban yang dipikul perempuan di Indonesia dalam menjaga keluarga. Dari 3.001 responden di enam pasar Asia yang disurvei pada Januari 2026, 57% perempuan Indonesia mengaku pernah mengabaikan perawatan medis demi mendukung anak atau orang tua dan lansia.

Temuan ini menunjukkan bahwa keputusan perempuan untuk menunda urusan kesehatan tidak berdiri sendiri, melainkan terkait erat dengan tanggung jawab pengasuhan dan tekanan finansial. Di saat yang sama, banyak perempuan juga harus menyesuaikan pengeluaran, menahan rencana masa depan, dan tetap memastikan kebutuhan rumah tangga berjalan.

Perawatan diri sering dikalahkan oleh kebutuhan keluarga

Presiden Direktur Sun Life Indonesia Albertus Wiroyo menilai temuan tersebut mencerminkan pola pengorbanan yang sering dilakukan perempuan tanpa paksaan. Ia mengatakan banyak perempuan rela mengesampingkan kesehatan, rasa aman, dan rencana finansial mereka agar keluarga tetap terlindungi.

“Peran ini patut dihargai dan dihormati, sekaligus didukung dengan solusi dan pendampingan yang membantu perempuan tetap bisa memprioritaskan keluarga tanpa harus mengesampingkan masa depan mereka,” kata Albertus dalam keterangan tertulis yang dikutip pada Rabu (8/4/2026).

Data survei memperlihatkan bahwa pengorbanan itu muncul dalam bentuk yang sangat konkret. Sebanyak 82% responden perempuan di Indonesia mengurangi pengeluaran untuk rekreasi, 30% membatasi peluang investasi, dan 28% menunda tabungan pensiun.

Biaya kesehatan masih menjadi hambatan besar

Selain tekanan peran domestik, biaya kesehatan juga menjadi tantangan utama bagi perempuan Indonesia. Survei Sun Life mencatat 51% responden menyebut tingginya biaya kesehatan sebagai salah satu hambatan terbesar menuju keamanan finansial.

Kondisi ini penting dicermati karena keputusan menunda perawatan medis sering kali tidak hanya berdampak pada kesehatan saat ini, tetapi juga pada kemampuan bekerja, mengasuh, dan mengelola keuangan dalam jangka panjang. Saat akses layanan kesehatan menjadi beban, perempuan berada dalam posisi sulit antara memenuhi kebutuhan keluarga dan menjaga dirinya sendiri.

Dalam konteks kesehatan publik, pola seperti ini berisiko memperburuk kondisi medis yang seharusnya bisa ditangani lebih dini. Penundaan perawatan juga dapat meningkatkan biaya di masa depan ketika penanganan sudah memasuki tahap yang lebih berat.

Bayang-bayang generasi sandwich semakin nyata

Survei tersebut juga menegaskan kuatnya fenomena sandwich generation di Indonesia, yakni kelompok yang harus menopang kebutuhan anak sekaligus orang tua yang menua. Sebanyak 96% perempuan memperkirakan akan menanggung biaya perawatan lansia orang tua mereka, baik saat ini maupun di masa depan.

Namun, hanya 26% yang sudah menyisihkan minimal 10% dari pendapatan untuk kebutuhan itu. Ketimpangan antara ekspektasi dan kesiapan finansial ini menunjukkan bahwa banyak keluarga belum memiliki perencanaan jangka panjang yang cukup kuat untuk menghadapi biaya perawatan lansia.

Albertus menilai kondisi tersebut memunculkan apa yang ia sebut sebagai triple penalty. Menurut dia, 59% responden merasa tanggung jawab pengasuhan menghambat peningkatan keamanan finansial, 47% terdampak pada karier, dan 47% lainnya merasa kemampuan merawat diri sendiri ikut terbatas.

Perempuan memegang peran besar dalam keputusan keuangan

Di tengah beban itu, perempuan Indonesia justru memainkan peran sentral dalam pengambilan keputusan finansial keluarga. Sebanyak 62% responden mengatakan mereka menjadi pengambil keputusan terakhir dalam urusan keuangan rumah tangga, dan angka itu naik hingga 92% pada perempuan yang menjadi breadwinner.

Fakta ini menunjukkan bahwa perempuan tidak hanya menjadi pengasuh, tetapi juga penentu arah finansial keluarga. Peran ganda tersebut membuat kebutuhan akan literasi keuangan, perencanaan risiko, dan perlindungan kesehatan menjadi semakin penting.

Meski begitu, hanya 13% responden yang saat ini aktif melibatkan penasihat keuangan profesional. Angka ini mengindikasikan masih terbatasnya akses atau kebiasaan untuk mencari pendampingan finansial yang bisa membantu mengatur prioritas jangka pendek dan jangka panjang.

Kesiapan menghadapi kejutan finansial masih rendah

Meski 63% perempuan Indonesia merasa kondisi finansial mereka lebih baik dibanding ibu mereka pada usia yang sama, rasa aman itu belum sepenuhnya kuat. Hanya 19% yang merasa sangat siap menghadapi peristiwa finansial besar yang tak terduga.

Perbedaan antara rasa lebih baik secara relatif dan kesiapan menghadapi risiko nyata memperlihatkan adanya celah dalam fondasi keuangan keluarga. Dalam situasi ekonomi yang berubah cepat, dana darurat, proteksi kesehatan, dan perencanaan pensiun menjadi semakin relevan bagi perempuan yang memikul tanggung jawab ganda.

Berikut gambaran angka utama dari survei tersebut:

  1. 57% perempuan Indonesia pernah mengabaikan perawatan medis demi keluarga.
  2. 82% mengurangi pengeluaran pribadi untuk rekreasi.
  3. 30% membatasi peluang investasi.
  4. 28% menunda tabungan pensiun.
  5. 51% menilai biaya kesehatan sebagai hambatan utama keamanan finansial.
  6. 96% memperkirakan akan menopang kebutuhan perawatan orang tua lansia.
  7. 26% baru menyisihkan minimal 10% pendapatan untuk kebutuhan tersebut.
  8. 62% menjadi pengambil keputusan terakhir keuangan keluarga.
  9. 13% aktif menggunakan penasihat keuangan profesional.
  10. 19% merasa sangat siap menghadapi kejutan finansial besar.

Temuan Sun Life ini memperlihatkan bahwa isu kesehatan perempuan dan ketahanan finansial saling terhubung erat. Selama beban pengasuhan masih dominan dan perencanaan jangka panjang belum kuat, banyak perempuan akan tetap berada dalam posisi harus memilih antara merawat keluarga atau merawat diri sendiri.

Baca selengkapnya di: lifestyle.bisnis.com

Berita Terkait

Back to top button