Label Warna Tak Cukup, Pakar Minta Nutri-Level Jadi Peringatan Tegas

Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) telah menyetujui penerapan Nutri-Level pada label gizi di bagian depan kemasan untuk produk pangan dan minuman. Kebijakan ini dimaksudkan agar konsumen lebih cepat mengenali kadar gula, garam, dan lemak yang terkandung dalam suatu produk sebelum membelinya.

Sistem ini membagi produk ke dalam empat kategori, yakni A hingga D, dengan penanda warna yang mudah dikenali. Kategori A berwarna hijau tua menandakan kandungan GGL paling rendah, sedangkan D berwarna merah menunjukkan produk yang dianjurkan untuk dibatasi konsumsinya.

Label warna dinilai belum cukup kuat

Pakar kesehatan masyarakat dari Griffith University, Dicky Budiman, menyambut baik kebijakan tersebut karena sejalan dengan upaya pengendalian penyakit tidak menular. Ia menyebut beberapa negara sudah lama memakai nutri-level sebagai alat bantu untuk menekan risiko diabetes, hipertensi, dan masalah metabolik lainnya.

Meski begitu, ia menilai label warna saja belum cukup kuat untuk membentuk keputusan konsumen. Menurut dia, tanpa pesan yang lebih tegas, masyarakat bisa salah menangkap makna label merah dan menganggapnya hanya sebagai informasi biasa.

Dicky mengingatkan adanya risiko optimism bias, yakni kecenderungan konsumen merasa konsumsi produk tidak sehat sesekali masih aman tanpa konsekuensi berarti. Kondisi ini dinilainya lebih rentan terjadi pada konsumen dengan literasi kesehatan rendah.

Perlu teks peringatan yang lebih jelas

Dalam penjelasannya, Dicky menilai level D sering hanya dibaca sebagai “kurang bergizi”, padahal kandungan gula, garam, dan lemaknya justru sudah melewati batas yang aman. Karena itu, ia mendorong pemerintah memperkuat aturan dengan mencantumkan label peringatan yang lebih gamblang.

  1. Tinggi gula
  2. Tinggi garam
  3. Tinggi lemak
  4. Batasi konsumsi

Menurutnya, frasa seperti itu akan lebih mudah dipahami publik dibanding hanya mengandalkan huruf dan warna. Ia menilai kalimat peringatan yang bersifat instruktif cenderung lebih efektif dalam mengubah perilaku konsumsi.

Belajar dari pendekatan negara lain

Dicky mencontohkan Singapura yang telah mengintegrasikan klasifikasi nutrisi dengan peringatan yang lebih tegas melalui sistem nutri-grade. Dalam praktik itu, penanda risiko tidak berhenti pada kode warna, tetapi juga disampaikan lewat informasi visual yang menonjol agar pesan lebih cepat ditangkap pembeli.

Pendekatan seperti ini dinilai penting karena keputusan belanja di rak toko terjadi dalam hitungan detik. Jika pesan yang tampil terlalu umum, konsumen bisa melewatkan informasi yang sebenarnya krusial untuk menjaga pola makan harian.

Edukasi publik harus ikut diperkuat

Selain perbaikan label, Dicky menekankan pentingnya kampanye edukasi agar nutri-level tidak berhenti sebagai stiker di kemasan. Ia menilai BPOM dan dinas kesehatan perlu menjalankan komunikasi publik yang konsisten supaya masyarakat memahami bahwa label merah bukan sekadar peringatan administratif.

Menurut dia, edukasi harus menjelaskan hubungan antara konsumsi produk level D dan risiko kesehatan jangka panjang. Beberapa risiko yang perlu disorot antara lain obesitas, diabetes, hipertensi, dan sindrom metabolik yang kerap muncul akibat pola konsumsi tinggi GGL.

Mengapa label peringatan dibutuhkan

Secara kebijakan kesehatan publik, label depan kemasan kerap dipakai untuk membantu konsumen membuat pilihan yang lebih cepat dan lebih sadar. Namun, efektivitasnya sangat bergantung pada seberapa jelas pesan yang diterima, bukan sekadar seberapa menarik desain yang ditampilkan.

Dalam konteks pangan olahan, warna merah saja belum tentu memiliki efek pencegahan yang kuat jika tidak disertai kata-kata yang menegaskan risiko. Karena itu, dorongan agar Nutri-Level diperkuat dengan label peringatan dinilai relevan untuk menekan salah tafsir di masyarakat.

Apa yang ingin dicapai dari penguatan aturan

Penerapan Nutri-Level dipandang sebagai langkah awal untuk membangun kebiasaan membaca label sebelum membeli produk. Agar tujuan itu tercapai, pesan yang muncul di kemasan perlu mudah dikenali, mudah dipahami, dan sulit diabaikan oleh konsumen.

Tanpa penguatan pada bagian peringatan, label GGL berisiko hanya menjadi formalitas visual yang tidak terlalu memengaruhi perilaku belanja. Justru dengan kombinasi warna, klasifikasi, dan teks peringatan yang lebih tegas, pemerintah memiliki peluang lebih besar untuk mendorong pilihan pangan yang lebih sehat di tingkat rumah tangga.

Baca selengkapnya di: lifestyle.bisnis.com

Berita Terkait

Back to top button