Dinas Kesehatan Kabupaten Lebak meminta orang tua segera membawa anak usia 9–59 bulan ke Posyandu untuk imunisasi menyusul meningkatnya kasus dugaan campak di wilayah tersebut. Imbauan ini muncul setelah Dinkes Lebak mencatat 322 anak diduga terpapar campak, meski seluruh kasus masih berstatus suspek dan belum ada laporan kematian.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Dinkes Lebak, Nining Tilawah, menegaskan imunisasi penting untuk melindungi anak dari penyakit menular seperti campak, difteri, tetanus, dan pertusis. Ia menyebut anak yang sudah divaksin umumnya memiliki perlindungan lebih kuat sehingga gejala penyakit tidak seberat anak yang belum mendapatkan imunisasi.
Kasus Belum Pasti, Tetapi Risiko Tetap Tinggi
Dinkes Lebak menaruh perhatian besar pada temuan 322 dugaan kasus campak karena balita masuk kelompok yang paling rentan tertular. Status suspek berarti kasus masih perlu pemantauan dan penelusuran lebih lanjut, tetapi jumlahnya sudah cukup menjadi peringatan bagi keluarga dan tenaga kesehatan.
Nining mengatakan imunisasi bukan hanya soal mencegah penularan, tetapi juga menekan kemungkinan gejala berat saat anak terinfeksi. Dalam keterangannya pada Kamis (9/4/2026), ia menekankan bahwa anak yang belum diimunisasi lebih berisiko mengalami komplikasi serius dibanding anak yang sudah divaksin.
Imunisasi di Posyandu Masih Terhambat
Dinkes Lebak mencatat masih ada orang tua yang menunda imunisasi karena khawatir terhadap efek samping vaksin. Kekhawatiran yang paling sering muncul adalah demam ringan setelah penyuntikan, padahal kondisi itu tergolong normal dan dapat ditangani dengan obat penurun panas.
Menurut Nining, manfaat imunisasi jauh lebih besar dibandingkan efek sementara yang timbul setelah vaksinasi. Ia menegaskan, respons tubuh seperti demam ringan tidak sebanding dengan risiko penyakit menular yang bisa menyerang anak tanpa perlindungan imunisasi.
Faktor Keluarga dan Pekerjaan Jadi Kendala
Selain kekhawatiran soal efek samping, Dinkes Lebak juga menemukan hambatan lain dalam program imunisasi. Sejumlah anak belum mendapat imunisasi lengkap karena belum ada persetujuan keluarga, terutama dari suami, atau karena orang tua sibuk bekerja di sektor informal.
- Kekhawatiran terhadap demam pascaimunisasi.
- Izin keluarga yang belum diberikan.
- Orang tua sibuk bekerja di sawah atau ladang.
- Anak jarang dibawa ke Posyandu untuk pemantauan rutin.
Nining menjelaskan, ketika anak sakit, orang tua justru kehilangan waktu untuk bekerja. Karena itu, ia meminta keluarga melihat imunisasi sebagai upaya pencegahan yang lebih efisien dan lebih aman dibanding harus menangani penyakit setelah anak terinfeksi.
Sosialisasi Diperkuat Lewat Posyandu dan Tokoh Masyarakat
Untuk mengatasi rendahnya cakupan imunisasi, Dinas Kesehatan Lebak bersama puskesmas terus menggelar sosialisasi di Posyandu. Pemerintah daerah juga melibatkan tokoh masyarakat agar pesan tentang pentingnya imunisasi lebih mudah diterima warga.
Pendekatan ini dinilai penting karena keputusan akhir memang tetap berada di tangan orang tua. Namun, Dinkes berharap penjelasan langsung dari tenaga kesehatan dan dukungan lingkungan sekitar bisa mengubah keraguan menjadi tindakan nyata membawa anak ke layanan imunisasi.
Di tengah meningkatnya dugaan kasus campak, pemerintah daerah menilai perlindungan dini menjadi langkah paling relevan untuk anak usia balita. Karena itu, Dinkes meminta orang tua tidak menunda jadwal imunisasi dan segera memanfaatkan layanan Posyandu sebagai upaya menjaga kesehatan anak sejak dini.
Baca selengkapnya di: www.beritasatu.com






