El Nino Godzilla Mengancam Kesehatan, Waspadai DBD, ISPA, dan Penyakit dari Air Tercemar

Fenomena El Nino dengan intensitas tinggi diperkirakan bisa kembali memengaruhi Indonesia mulai pertengahan 2026, dan dampaknya tidak berhenti pada cuaca panas atau kemarau panjang. Ancaman utamanya juga menyentuh kesehatan masyarakat, mulai dari gangguan pernapasan, penyakit akibat nyamuk, hingga infeksi dari air yang tercemar.

Istilah El Nino Godzilla memang bukan istilah ilmiah resmi, tetapi dipakai untuk menggambarkan El Nino yang sangat kuat dan luas dampaknya. Dalam konteks Indonesia, kondisi ini dapat menurunkan curah hujan, memanjangkan musim kemarau, dan menaikkan suhu udara yang pada akhirnya memicu risiko penyakit di banyak daerah.

Mengapa El Nino Godzilla Perlu Diwaspadai

Menurut data pada artikel referensi, peluang terjadinya El Nino pada semester kedua 2026 berada di kisaran 50% hingga 80% dengan intensitas lemah sampai moderat. Meski peluang kategori sangat kuat masih di bawah 20%, para pakar menilai situasi ini tetap perlu diantisipasi karena musim kemarau bisa datang lebih cepat dan berlangsung lebih lama dari biasanya.

World Health Organization (WHO) juga telah memperingatkan bahwa El Nino dapat memicu dampak berlapis terhadap kesehatan manusia. Dampak itu mencakup peningkatan penyakit menular, malnutrisi, tekanan pada fasilitas layanan kesehatan, dan memperburuk penyakit kronis yang sudah ada.

Risiko Penyakit yang Meningkat Saat El Nino

Salah satu ancaman paling nyata adalah memburuknya kualitas udara akibat minimnya hujan. Saat curah hujan turun, polutan lebih lama bertahan di udara, sementara kebakaran hutan dan lahan bisa memperburuk kondisi dengan asap yang menyebar jauh dan menetap lebih lama.

Paparan udara kering dan polusi dapat memicu asma, bronkitis, sinusitis, mimisan, dan dehidrasi. WHO juga menjelaskan bahwa panas ekstrem dapat memperburuk gangguan kardiovaskular, masalah pernapasan, diabetes, serta meningkatkan risiko cedera ginjal akut.

Berikut penyakit dan gangguan kesehatan yang perlu diwaspadai selama El Nino:

  1. ISPA dan gangguan pernapasan akibat udara kering serta paparan asap.
  2. DBD karena suhu lebih tinggi mempercepat perkembangan nyamuk Aedes aegypti.
  3. Malaria yang berpotensi ikut meningkat di wilayah dengan kondisi lingkungan mendukung.
  4. Diare, tifoid, dan kolera akibat konsumsi air yang tercemar.
  5. Leptospirosis yang bisa menular melalui air atau tanah yang terkontaminasi urine hewan pengerat.

Kenaikan Kasus DBD dan Penyakit Berbasis Vektor

Suhu yang lebih tinggi selama El Nino dapat mempercepat siklus hidup nyamuk Aedes aegypti dari telur hingga dewasa. Kondisi ini membuat risiko penularan demam berdarah dengue meningkat, terutama di wilayah padat penduduk dengan pengelolaan lingkungan yang buruk.

Perubahan iklim juga membuat pengendalian penyakit berbasis vektor menjadi lebih rumit. Ketika suhu, kelembapan, dan ketersediaan air berubah, pola penyebaran nyamuk bisa ikut bergeser dan membuat kasus penyakit sulit diprediksi hanya dari pola musim biasa.

Krisis Air Bersih dan Ancaman Penyakit Pencernaan

Kemarau panjang akibat El Nino Godzilla tidak hanya membuat air berkurang, tetapi juga bisa menurunkan kualitasnya. Saat sumber air terbatas, masyarakat berisiko memakai air yang tidak layak sehingga peluang penularan penyakit meningkat.

Diare, tifoid, kolera, dan leptospirosis menjadi ancaman yang perlu diantisipasi. Geneva Solutions, mengutip peringatan WHO, menyebut risiko penyakit berbasis air seperti kolera dapat meningkat tajam, terutama di wilayah dengan akses layanan kesehatan yang terbatas.

Anak-anak Jadi Kelompok yang Paling Rentan

Anak-anak termasuk kelompok yang paling berisiko saat El Nino ekstrem terjadi. Tubuh mereka lebih cepat lelah saat terpapar panas, sementara daya tahan tubuh yang belum sekuat orang dewasa membuat mereka lebih mudah terserang infeksi.

Risiko malnutrisi juga ikut meningkat ketika kekeringan mengganggu hasil pertanian dan pasokan pangan. Geneva Solutions mencatat lebih dari 153 juta orang di dunia sudah menghadapi kerawanan pangan tinggi sebelum El Nino terakhir, dan jumlah itu bisa bertambah saat siklus El Nino berikutnya berlangsung.

Cara Mencegah Dampak Kesehatan Saat El Nino

Pencegahan perlu dilakukan dari tingkat rumah tangga agar risiko kesehatan tidak berkembang menjadi masalah yang lebih luas. Langkah sederhana bisa sangat membantu jika dilakukan secara konsisten sejak awal musim kering.

  1. Pantau kualitas udara secara berkala, terutama saat terjadi kebakaran hutan dan lahan.
  2. Kurangi aktivitas luar ruangan saat polusi tinggi atau cuaca sangat panas.
  3. Gunakan masker ketika udara tercemar asap atau debu.
  4. Pastikan konsumsi air minum berasal dari sumber yang aman dan bersih.
  5. Jaga kebersihan lingkungan untuk mencegah genangan air dan sarang nyamuk.
  6. Terapkan perilaku hidup bersih dan sehat, termasuk cuci tangan dan menjaga makanan tetap higienis.
  7. Segera periksa ke fasilitas kesehatan bila muncul gejala sesak napas, demam tinggi, diare, atau dehidrasi.

Peran Kesiapsiagaan dan Sistem Peringatan Dini

Di tingkat global, WHO mendorong negara-negara untuk memperkuat surveilans penyakit dan sistem peringatan dini cuaca ekstrem. Tujuannya adalah agar pemerintah dan masyarakat bisa bertindak lebih cepat sebelum lonjakan kasus terjadi, bukan setelah dampaknya meluas.

Bagi Indonesia, kesiapsiagaan menjadi penting karena El Nino bukan hanya soal kekeringan, tetapi juga soal kesehatan publik, ketahanan pangan, dan ketersediaan air bersih. Saat suhu naik dan curah hujan turun, ancaman kesehatan biasanya datang bersamaan, sehingga langkah pencegahan perlu dilakukan sejak sekarang dengan fokus pada perlindungan kelompok rentan, pengendalian vektor, dan akses air bersih yang aman.

Source: www.beritasatu.com
Exit mobile version