DBD Buleleng Naik, Dinkes Temukan Banyak Jentik Di Permukiman Warga

Kasus demam berdarah dengue atau DBD di Kabupaten Buleleng, Bali, terus meningkat sejak awal 2026. Dinas Kesehatan Buleleng menemukan banyak jentik nyamuk di lingkungan permukiman warga setelah melakukan penyelidikan epidemiologi pada setiap laporan kasus.

Temuan itu menguatkan dugaan adanya penularan lokal, terutama di wilayah padat penduduk. Hingga 9 April 2026, Dinkes Buleleng mencatat 109 kasus DBD sejak awal tahun.

Penyelidikan lapangan temukan sumber risiko

Kepala Dinkes Buleleng, Sucipto, mengatakan tim penyelidik langsung turun ke lokasi setiap kali menerima laporan kasus DBD dari masyarakat. Dari pemeriksaan di lapangan, petugas menemukan titik-titik jentik nyamuk di sekitar rumah warga.

“Setiap laporan yang masuk langsung kami tindak lanjuti dengan penyelidikan epidemiologi. Dari hasil pemeriksaan di lapangan, ditemukan sejumlah titik jentik nyamuk di sekitar lokasi kasus,” kata Sucipto kepada wartawan, Selasa (14/4/2026).

Ia menilai temuan itu menunjukkan masih ada tempat berkembang biak nyamuk Aedes aegypti di lingkungan warga. Kondisi seperti ini membuat risiko penularan tetap tinggi bila tidak segera ditangani.

Wilayah dengan kasus terbanyak

Data Dinkes Buleleng menunjukkan Kecamatan Gerokgak menjadi wilayah dengan jumlah kasus terbanyak. Kasus juga tercatat di Kecamatan Buleleng, Kubutambahan, Tejakula, dan Sukasada.

Empat kecamatan lainnya dilaporkan belum mencatat kasus DBD hingga data terakhir dihimpun. Pola sebaran ini menunjukkan kasus tidak merata, tetapi tetap perlu diwaspadai karena berpotensi meluas jika sumber penularan tidak dikendalikan.

Berikut sebaran yang disebutkan Dinkes Buleleng:

  1. Gerokgak: kasus terbanyak
  2. Buleleng: ada kasus terlapor
  3. Kubutambahan: ada kasus terlapor
  4. Tejakula: ada kasus terlapor
  5. Sukasada: ada kasus terlapor
  6. Empat kecamatan lain: belum ada kasus terlapor

Fogging dilakukan, tapi bukan andalan utama

Sebagai langkah penanganan darurat, Dinkes Buleleng melakukan fogging secara selektif di lokasi yang dinilai berisiko tinggi. Namun, Sucipto menegaskan penyemprotan kabut asap bukan cara utama untuk memberantas DBD.

“Fogging hanya membunuh nyamuk dewasa, sementara jentik masih bisa berkembang. Karena itu, pemberantasan sarang nyamuk tetap menjadi langkah paling efektif,” ujarnya.

Pernyataan ini sejalan dengan pendekatan kesehatan masyarakat yang menempatkan pengendalian jentik sebagai prioritas. Jika tempat perkembangbiakan nyamuk tetap ada, kasus bisa muncul kembali meski fogging sudah dilakukan.

Faktor lingkungan ikut memicu peningkatan kasus

Dinkes Buleleng menilai peningkatan kasus tidak lepas dari kondisi lingkungan yang masih mendukung berkembangnya nyamuk. Genangan air, tumpukan sampah, dan rendahnya kesadaran warga menjaga kebersihan menjadi faktor yang sering memperbesar risiko penularan.

Kondisi tersebut membuat penyisiran dari rumah ke rumah menjadi penting untuk menemukan sumber jentik secara langsung. Petugas kesehatan juga diminta memastikan pengendalian dilakukan sampai ke titik-titik yang kerap luput dari perhatian warga.

Gejala awal yang perlu diwaspadai

Dinkes Buleleng mengimbau masyarakat agar segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat bila muncul gejala awal DBD. Tanda yang perlu diwaspadai antara lain demam tinggi lebih dari tiga hari, bintik merah pada kulit, mual, muntah, dan mimisan.

Masyarakat juga diminta tidak menunda pemeriksaan karena kondisi pasien DBD dapat memburuk dengan cepat. Penanganan lebih dini membantu tenaga kesehatan memantau kondisi pasien dan mencegah komplikasi.

Langkah yang diminta Dinkes kepada warga dan fasilitas kesehatan

Selain melakukan fogging terbatas, Dinkes Buleleng meminta semua puskesmas dan fasilitas kesehatan mempercepat pelaporan kasus. Langkah ini dianggap penting agar tim lapangan bisa segera bergerak dan menekan potensi penyebaran.

  1. Periksa seluruh penampungan air secara rutin.
  2. Bersihkan rumah dan lingkungan dari genangan.
  3. Buang atau tutup barang bekas yang bisa menampung air.
  4. Laporkan kasus demam yang dicurigai DBD ke fasilitas kesehatan.
  5. Ikuti penyelidikan epidemiologi saat petugas datang ke lingkungan.

“Semakin cepat laporan diterima, semakin cepat pula penanganan dilakukan. Ini penting untuk menekan potensi penyebaran,” kata Sucipto.

Dengan temuan banyak jentik di sekitar lokasi kasus, DBD di Buleleng kini menjadi peringatan bahwa pengawasan lingkungan tetap harus berjalan ketat. Selama tempat berkembang biak nyamuk masih ditemukan, pencegahan lewat gerakan bersih lingkungan dan pemberantasan sarang nyamuk tetap menjadi fokus utama penanganan di lapangan.

Source: www.beritasatu.com

Terkait