Semakin banyak orang tertarik ikut maraton karena dianggap sebagai tantangan sekaligus bagian dari gaya hidup sehat. Namun, persiapan untuk lari jarak jauh tidak cukup hanya dengan menambah porsi latihan, karena kondisi tubuh juga perlu dipastikan aman lewat pemeriksaan kesehatan sebelum race.
Dokter Spesialis Olahraga Maria Lestari menegaskan bahwa maraton membutuhkan kesiapan fisik dan mental yang tidak bisa dibangun dalam waktu singkat. Ia juga mengingatkan bahwa tanpa evaluasi medis yang tepat, risiko gangguan jantung maupun cedera saat berlari jarak jauh bisa meningkat.
Pemeriksaan awal untuk pelari muda tanpa faktor risiko
Bagi pelari muda yang tidak memiliki keluhan dan tidak punya faktor risiko, pemeriksaan biasanya dimulai dari anamnesis atau wawancara medis menyeluruh. Dokter akan menanyakan riwayat pingsan saat olahraga, nyeri dada ketika beraktivitas, jantung berdebar tidak teratur, serta riwayat henti jantung mendadak atau kematian mendadak di usia di bawah 50 tahun dalam keluarga.
Setelah itu, dokter melakukan pemeriksaan fisik, termasuk pengecekan tekanan darah dan penilaian sistem muskuloskeletal. Bila seluruh hasil normal dan jarak lomba masih sesuai dengan kemampuan latihan, pelari umumnya dinilai aman mengikuti maraton dengan edukasi yang memadai.
Pemeriksaan lebih lengkap untuk usia 35 tahun ke atas
Pendekatan berbeda berlaku untuk pelari berusia 35 tahun ke atas atau mereka yang memiliki faktor risiko kardiovaskular. Faktor yang dimaksud antara lain hipertensi, diabetes, kolesterol tinggi, kebiasaan merokok, obesitas, dan riwayat penyakit jantung dalam keluarga.
Pada kelompok ini, evaluasi awal tetap mencakup anamnesis, pemeriksaan fisik, pengukuran tekanan darah, dan penilaian muskuloskeletal. Pemeriksaan kemudian dilengkapi dengan EKG istirahat 12 sadapan untuk melihat aktivitas listrik jantung secara lebih jelas.
Selain itu, dokter juga biasanya meminta pemeriksaan laboratorium dasar seperti profil lipid, kadar gula darah, dan fungsi ginjal. Langkah ini membantu memastikan tubuh benar-benar siap menghadapi beban lari jarak jauh.
Mengapa skrining sebelum maraton penting
Maria menjelaskan bahwa pedoman ESC 2020 tentang sports cardiology dan sejumlah konsensus Asia Pasifik menekankan tujuan utama pre-participation examination atau PPE. Pemeriksaan ini bertujuan mendeteksi dini penyakit jantung yang bisa memicu henti jantung saat olahraga, terutama penyakit arteri koroner pada usia di atas 35 tahun serta kelainan jantung bawaan atau aritmia pada usia lebih muda.
Meski begitu, hasil skrining tidak berarti risiko hilang sepenuhnya. Pemeriksaan lebih berfungsi untuk menurunkan risiko kejadian yang tidak diinginkan dan mengidentifikasi peserta yang membutuhkan evaluasi lanjutan sebelum turun ke ajang lari jarak jauh.
Persiapan fisik saja tidak cukup
Popularitas lari membuat banyak orang fokus pada target jarak dan waktu tempuh, tetapi melupakan aspek medis yang penting. Situasi ini ikut membuat kasus pelari yang kolaps atau meninggal dunia dalam sejumlah event lari sering menjadi perhatian dalam beberapa tahun terakhir.
Karena itu, calon peserta maraton perlu memandang pemeriksaan kesehatan sebagai bagian dari persiapan inti, sejajar dengan latihan, istirahat, dan pengaturan beban lari. Dengan cara ini, risiko bisa ditekan dan tubuh lebih siap menghadapi tuntutan lari jarak jauh secara aman.
Source: lifestyle.bisnis.com