Menstruasi pada remaja bukan hanya soal “datang bulan” yang dialami setiap bulan. Proses ini berkaitan erat dengan pubertas, kesiapan tubuh, serta pengetahuan tentang kebersihan dan kesehatan reproduksi yang sering belum dipahami dengan baik.
Kurangnya edukasi membuat banyak remaja putri menghadapi menstruasi dengan ragu, bingung, bahkan cemas. Di Indonesia, situasi ini juga berdampak pada sekolah, karena data UNICEF menunjukkan 1 dari 7 remaja putri memilih tidak masuk sekolah setidaknya satu hari saat menstruasi.
Menstruasi adalah bagian dari pubertas
Banyak remaja mengira menstruasi muncul begitu saja saat tubuh mulai dewasa. Padahal, menurut dr. Dinda Derdameysia, Sp.OG., menstruasi merupakan tahap akhir dari rangkaian pubertas yang lebih panjang.
“Menstruasi itu sebenarnya adalah akhir dari rangkaian pubertas. Jadi sebelum itu, tubuh sudah menunjukkan tanda-tanda lain seperti pertumbuhan payudara atau munculnya rambut di area tertentu,” kata dr. Dinda.
Pemahaman ini penting agar remaja tidak merasa tertinggal saat perkembangan tubuh mereka berbeda dengan teman sebaya. Situasi seperti ini cukup sering terjadi, terutama karena sebagian remaja membandingkan dirinya dengan teman yang lebih dulu mengalami menstruasi.
Setiap anak punya waktu pubertas yang berbeda
Kekhawatiran muncul ketika remaja merasa belum menstruasi sementara teman-temannya sudah. Menurut dr. Dinda, perasaan seperti itu wajar, tetapi tidak selalu berarti ada masalah.
“Sekarang anak-anak sering merasa FOMO. Ketika temannya sudah menstruasi, dia jadi bertanya-tanya, ‘kok aku belum?’ Padahal tiap anak punya timeline berbeda,” ujarnya.
Secara umum, menstruasi pertama atau menarche kerap terjadi pada usia 10–11 tahun. Namun, variasi tetap bisa dianggap normal selama perkembangan pubertas berlangsung sesuai tahapan yang seharusnya.
Kapan perlu diperiksakan ke dokter
Ada batas yang perlu diketahui orang tua dan remaja. Jika sampai usia 14 tahun belum ada tanda pubertas sama sekali, seperti pertumbuhan payudara atau rambut di area tertentu, kondisi itu sebaiknya diperiksakan.
Namun, bila tanda pubertas sudah muncul, tubuh masih bisa diberi waktu hingga usia 16 tahun untuk mengalami menstruasi pertama. Karena itu, perhatian tidak cukup hanya tertuju pada haid, tetapi juga pada tanda-tanda pubertas secara keseluruhan.
Dr. Dinda juga meluruskan anggapan lama bahwa menstruasi pertama yang datang lebih cepat akan membuat menopause lebih cepat. Ia menyebut hal itu tidak sepenuhnya benar karena menopause lebih dipengaruhi kualitas sel telur dan faktor genetik.
Minim edukasi dan fasilitas masih menjadi hambatan
Persoalan menstruasi pada remaja tidak berhenti pada pengetahuan. Lingkungan sekolah juga ikut berpengaruh besar terhadap kenyamanan siswi saat haid.
Data Kementerian Pendidikan menunjukkan rasio toilet untuk siswi perempuan masih jauh dari ideal, yakni 1:74. Kondisi seperti ini membuat banyak remaja kesulitan menjaga kebersihan diri di sekolah, terutama saat harus mengganti pembalut.
Muhammad Zainal, Water Sanitation and Hygiene Specialist UNICEF Indonesia, menegaskan bahwa akses fasilitas dan edukasi harus berjalan bersama. Ia mengatakan, “Tanpa lingkungan yang mendukung, remaja putri akan kesulitan menjalani aktivitas belajar secara optimal saat menstruasi.”
Program edukasi mulai menjangkau sekolah
Untuk menjawab kebutuhan itu, WINGS for UNICEF bersama Hers Protex dan UNICEF menjalankan program edukasi Manajemen Kebersihan Menstruasi di sekolah. Program ini menyasar 20 SMP di Kabupaten Bandung Barat dan Makassar, dengan target menjangkau 2.000 siswi dan 2.000 orang tua.
Langkah ini penting karena edukasi menstruasi tidak cukup berhenti pada penjelasan biologis. Remaja juga perlu tahu cara menjaga kebersihan selama menstruasi, memilih produk yang tepat, dan memahami dukungan yang bisa mereka dapatkan dari keluarga maupun sekolah.
Stella Eidelina dari WINGS Group mengatakan, “Dengan pemahaman yang baik, remaja putri bisa lebih percaya diri dan tetap aktif saat menstruasi.”
Peran keluarga dan sekolah tetap paling menentukan
Di tengah berbagai program, keluarga dan sekolah tetap menjadi sumber dukungan utama bagi remaja. Orang tua perlu membuka ruang bicara yang aman agar anak tidak mencari jawaban dari sumber yang keliru atau membuatnya semakin cemas.
Sekolah juga punya tanggung jawab yang sama besar, mulai dari menyediakan fasilitas yang layak hingga menciptakan suasana yang tidak membuat siswi merasa malu saat mengalami menstruasi. Kombinasi edukasi sejak dini, dukungan lingkungan, dan kebiasaan menjaga kebersihan menjadi kunci agar remaja melewati masa pubertas dengan lebih sehat dan percaya diri.
